Senin, 27 Desember 2010

Matinya Fungsi PARPOL di Indonesia !!!

Partai politik adalah prasyarat terjadinya sistem demokrasi. Dalam hal ini, parpol berfungsi sebagai penyambung lidah rakyat, di mana tiap-tiap parpol berlomba-lomba memberikan pendidikan kepada masyarakat dan membantu kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat sehingga parpol bisa juga disebut jembatan tersalurnya hak masyarakat kepada pemerintah. Pendidikan yang diberikan kepada masyarakat bukan semata-mata seperti keumuman yang kita ketahui selama ini yaitu dengan membangun sekolah-sekolah, akan tetapi pendidikan di sini adalah bahwa masyarakat perlu mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah terkait ekonomi, politik maupun yang lainnya. Inilah tugas parpol yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kebijakan-kebijakan pemerintah pusat sampai daerah agar masyarakat tidak buta dan juga agar ada komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat secara tidak langsung.

Padahal jelas dalam UU nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik pada pasal 11 dijelaskan bahwa fungsi parpol adalah sarana penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. Artinya bahwa parpol seharusnya mampu memahami realita sekitar untuk kemudian memperjuangkan apa yang menjadi harapan masyarakat yaitu keadilan sosial dan kesejahteraan. 
Namun sampai hari ini kita tidak menemukan kinerja-kinerja parpol yang sesuai dengan fungsinya karena selama ini parpol hanya melakukan kerja-kerja politik demi kepentingan kedudukan partainya.

Kemudian kewajiban parpol yang juga tertuang dalam pasal 13 pada poin (d) dijelaskan bahwa parpol berkewajiban menjunjung tinggi supremasi hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia. Namun, lagi-lagi bahwa kewajiban itu dilalaikan oleh semua parpol di Indonesia, pertama, terkait dengan penegakan supremasi hukum, sepertinya ketidak adilan masih diamini oleh parpol-parpol kita, kedua, demokrasi yang diperjuangkan parpol selama ini adalah demokrasi yang hanya menguntungkan parpol-parpolnya, bukan demokrasi yang benar-benar sesuai dengan cita-citanya. Terakhir, yaitu terkait dengan penegakan hak asasi manusia, sepertinya itu hanyalah sebuah mimpi yang terlalu tinggi, karena semua parpol kadang-kadang tidak manusiawi dalam memanfaatkan masyarakat kecil untuk dijadikan bahan bakar kendaraan politiknya menuju tampuk kekuasaan.

Ada ketidak harmonisan komunikasi antara pemerintah sebagai penyelenggara kehidupan berbangsa dan bernegara dengan masyarakat itu sendiri. Ini akibat dari hilangnya fungsi parpol yang mana pada prinsipnya parpol berfungsi sebagai pelayan masyarakat karena parpol itu sendiri adalah bagian dari pemerintah. Ketika komunikasi itu sudah tidak lancar maka inilah awal dari disintegrasi yang terjadi dalam masyarakat terkait hubungan masyarakat dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta.

Stigma Buruk Masyarakat Terhadap Parpol
Sampai hari ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya parpol di Indonesia hampir semuanya tidak berfungsi dengan baik sementara dana aspirasi parpol tetap mengalir dari APBN dan APBD. Ini yang mungkin menjadi penyebab hilangnya kepercayaan masyarakat kepada parpol yang berujung pada tidak percayanya masyarakat terhadap pemerintah dan ini akan menjadi penyebab yang berdampak meluas. Pertama, dengan masyarakat yang sudah tidak lagi mempercayai parpol karena sudah tidak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan berakibat pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin-pemimpin daerah maupun pusat (presiden) karena pemimpin-pemimpin daerah berasal dari parpol yang sudah tidak bisa dipercayai lagi oleh masyarakat. Kedua, akibat dari masyarakat yang sudah tidak mempercayai pemimpinnya maka apapun yang dilakukan oleh pemimpinnya akan sia-sia dan hal ini akan menjadikan masyarakat yang apatis terhadap politik. Masyarakat yang apatis terhadap politik sudah tidak bisa memilih mana calon pemimpin yang benar-benar akan mampu mengemban amanat dengan baik dan mana yang tidak, karena kesadaran politik yang hancur akibat dari hilangnya kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin.

Kepercayaan inilah yang susah didapatkan dari masyarakat yang terlanjur tidak mempercayai. Secara psikologis masyarakat Indonesia, umumnya ketika satu komponen dalam sistem demokrasi itu sudah cacat di mata masyarakat maka komponen yang lain juga akan ikut cacat di mata masyarakat. Dalam hal ini, parpol sudah tidak dipercayai lagi oleh masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat maka apa yang dihasilkan dari parpol itu juga tidak akan bisa dipercayai lagi oleh masyarakat.

Mungkin secara sederhana saya katakan bahwa kenapa kemudian Aceh ingin menggunakan perda syari’at Islam, Tangerang dan Tasik juga sedang membahas perda syari’at Islam, Manokwari sudah mantap akan menggunakan perda injilnya, serta Bali juga akan membuat perda Hindu-Budhanya, ini akibat dari kesadaran masyarakat akan sistem demokrasi di Indonesia yang tidak berjalan semestinya. Apa lagi persoalan penegakan hukum yang masih kacau dan penuh intrik politik, semakin menjadikan masyarakat jenuh dengan sistem yang dibuat oleh pemerintah, seakan-akan sistem yang berjalan sekarang seperti pajangan yang menyakitkan bagi masyarakat.

NKRI Terancam
Pada pasal 11 UU No. 2 th 2008 tentang Parpol, pada poin (b) dijelaskan bahwa parpol berfungsi menciptakan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Artinya bahwa parpol sebagai komponen dalam sistem demokrasi harus mampu menciptakan iklim yang menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Ketika persatuan dan kesatuan kokoh, maka untuk menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih mudah mencapai kesejahteraan masyarakat. Hanya persoalannya sekarang adalah, masyarakat Indonesia sudah terkotak-kotak menjadi banyak bagian yang saling fanatik. Ada yang berdasarkan agama, ras, bahasa, suku, sampai kepada golongan-golongan anarkis. Berarti ada kematian fungsi parpol yang nyata.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan pada ke-Bhinekaan menempati tempat yang menakutkan seperti telur diujung tanduk. Dengan melihat fenomena-fenomena tersebut di atas, NKRI terancam akan hancur dan Indonesia akan menjadi negara serikat atau mungkin federal. Dengan kondisi masyarakat yang sudah terlalu jenuh akan perbuatan-perbuatan para elit (termasuk parpol), maka perpecahan menjadi sebuah kemungkinan besar. Ketika sudah tidak ada pemimpin yang bisa dipercayai oleh semua kalangan masyarakat dari berbagai jenis, maka peperangan antar kelompok dan antar etnis akan menjadi makanan sehari-sehari kita.

Ini sudah terjadi sedikit demi sedikit misalnya fenomena massifnya pergerakan Ormas yang mengatasnamakan agama (FPI, gerakan injil di Manokwari, dll), kemudian perang antar kelompok di Papua, sampai kepada fenomena yang terjadi di kalangan pemuda sekarang ini yaitu pertentangan antara pendukung Persija dan pendukung Persib yang juga seringkali dalam beberapa moment terjadi bentrokan dahsyat. Kemudian ini juga ternyata malah diikuti oleh kaum pelajar kecil, seperti SD dan SMP. Inilah akibat dari kejenuhan masyarakat kita terhadap kehidupan-kehidupan di sekitarnya yang penuh dengan ketidak percayaan terhadap pemerintah (pemimpin).

Kepercayaan terhadap figur seorang pemimpin memang belum dirasakan adanya pada masyarakat kebanyakan. Kepercayaan inilah yang benar-benar susah didapatkan karena traomatik masyarakat masih mengental. Traoma akibat tingkah para elit politik yang bobrok memang hanya bisa dihilangkan manakala ada figur yang secara politik dihargai oleh semua kalangan. Untuk mendapatkan penghargaan dari masyarakat itu lah yang manjadi PR bagi para pemikir dan pejuang bangsa demi manjaga NKRI. Seperti halnya Sukarno, Hatta, dan Syahrir yang benar-benar menjadi pemimpin yang dihargai oleh semua kalangan masyarakat karena ketulusannya dalam memperjuangkan cita-cita sosialis Indonesia.

Epilog
Partai politik sekarang memang sedang mengalami penurunan karakter akibat dari kelalaian yang dilakukannya. Semua terobosan-terobosan sistem pemilihan di Indonesia sekarang ini dari pemilihan presiden sampai pemilihan kepala daerah menjadi percuma karena siapapun yang menjadi pemimpin sudah tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat. Paradigma buruk yang sudah mengakar dalam masyarakat ini yang perlu secara serius dipikirkan oleh parpol-parpol. Artinya tidak kemudian paradigma berpikir masyarakat tentang parpol yang sudah buruk ini dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha nyata yang dilakukan oleh parpol-parpol.

Usaha yang nyata adalah usaha-usaha yang membangaun kredibilitas parpol. Ini tentunya dilakukan dengan cara memfungsikan secara optimal parpol itu sendiri agar kualitas dan kapabilitas parpol benar-benar sesuai dengan apa yang sudah tertuang dalam UU No. 2 th 2008 tentang Parpol. Parpol jangan hanya menjadi jembatan untuk meraih jabatan politik, toh tidak akan mendapatkan legitimasi dari masyarakat secara de facto ketika parpol hanya menjadi kendaraan politik para elit. Sebaliknya bahwa parpol harus benar-benar memperjuangkan aspirasi-aspirasi masyarakat agar tujuan demokrasi itu sendiri tercapai.

Saya kira juga pemerintah harus membuat format baru yaitu adanya lembaga pengawasan parpol sehingga ketika ada parpol-parpol yang memang tidak menjalankan apa yang sudah tertuang dalam undang-undang parpol maka melalui lembaga kontrol itu, parpol bisa dibubarkan dengan tegas. Persoalan intrik-intrik politik juga sudah sepatutnya dihilangkan agar roda demokrasi berjalan dengan baik tanpa polemik seperti sekarang ini.

Jumat, 10 Desember 2010

Mengapa Harus Menjadi Aktivis ?

Di era yang begitu modern seperti sekarang ini memang menjadikan mahasiswa enggan menghabiskan masa mudanya untuk aktif dalam organisasi gerakan. Begitu kuat pengaruh yang diberikan oleh globalisasi sehingga menjadikan iklim mahasiswa yang penuh romantika bahkan kehidupan yang hedonis.

Aktivis bukan dalam arti bahwa mahasiswa yang selalu demonstrasi manakala ada isu-isu terkait dengan kebijakan pemerintah atau pun ada kasus-kasus korupsi. Tapi yang dimaksud aktivis di sini adalah mahasiswa yang sadar serta mempunyai semangat patriotisme dan nasionalisme. Dengan mempunyai semangat tersebut maka besar kemungkinan banyak mahasiswa yang akan meluangkan waktunya untuk memahami realita sosial dan memikirkan bagaimana caranya agar tidak ada lagi masyarakat yang bodoh dan miskin. Yakinlah ketika semangat-semangat itu ada pada setiap mahasiswa di seluruh Indonesia maka besar kemungkinan banyak perubahan sosial yang lebih maju dan berkeadilan.

Harus kita akui bahwa masih banyak masalah-masalah sosial dan politik dalam bangsa kita. Bagaimana tidak, negeri yang kaya akan sumber daya alam ini justru malah negeri ini termasuk negeri yang miskin. Logika yang tidak masuk akal sama sekali. Oleh karena itu lah dibutuhkan dialektika dan kepedulian dari para kaum muda terdidik untuk memikirkan hal itu. Kalau kaum mudanya juga tidak peduli akan nasib bangsa ini, maka siapa yang akan menolong masyarakat Indonesia yang masih terpuruk? Apakah kita hanya menyerahkan kepada Tuhan bahwa mereka sudah dijamin oleh Tuhan dan suatu saat nanti akan tertolong nasibnya? Jika demikian adanya, sungguh sempit pemikiran seperti itu.

Yang menjadi semakin miris adalah ketika mahasiswa malah banyak yang terjebak ke dalam kondisi buruk yang justru kondisi itu secara tidak sadar sudah menjajah mentalnya. Mental mahasiswa yang seharusnya mental perjuangan untuk memperbaiki sistem yang tidak adil, sekarang sudah menjadi mental penikmat (konsumeris). Harusnya mahasiswa sebagai mahluk rasional dan sadar, mampu merubah keadaan yang buruk itu menjadi keadaan yang lebih baik, bukan malah masuk bahkan larut dalam keadaan buruk itu. Jika saja keadaannya demikian (mahasiswa terjebak pada keadaan buruk) maka tunggulah kehancuran sebuah bangsa dengan ditandai makin banyaknya rakyat miskin dan bodoh.

Terkadang juga kaum tua menjadi penghambat untuk terciptanya budaya aktivis pada mahasiswa. Kaum tua yang menjelma menjadi dosen ketika di kampus selalu akan menyampaikan kriteria mahasiswa yang baik dan itu bukanlah gambaran mahasiswa aktivis yang dimaksud. Selalu saja mengukur baik dan buruk mahasiswa hanya dari kehadiran dalam kelas. Ini bukan hanya membunuh budaya aktivis secara perlahan, tapi lebih dari itu bahwa akan terbentuknya sistem penjajahan yang berubah jenis. Dari penjajahan yang dahulu terjadi perampasan hak rakyat Indonesia oleh bangsa-bangsa asing, sekarang menjadi perampasan hak kaum terdidik dengan bahasa yang lebih romantis sehingga mahasiswa terlena bahkan menikmati dengan penuh rasa syukur. Inilah penjajahan yang masih tersisa.

Harusnya mahasiswa ini didukung oleh kaum tua terdidik (dosen) agar mahasiswa benar-benar sadar akan peran dan tanggung jawabnya. Tanggung jawab dalam konteks bagaimana membuat paradigma baru yang lebih konstruktif untuk bangsa dan negara ini. Jadi sebuah kesalahan besar ketika dosen malah bersikap sebaliknya terhadap aktivis sehingga mahasiswa non aktivis mempunyai anggapan buruk terhadap aktivis.

Refleksi Peristiwa Penjajahan
Seperti yang sudah kita pelajari dalam pelajaran sejarah sejak SD sampai SMA bahkan mungkin sampai sekarang. Mari kita renungi bersama bahwa orang-orang terdidiklah yang mampu memerdekakan Indonesia, seperti Sukarno, Syahrir, Hatta, Tan Malaka, dll. Kaum apatiskah (kaum yang tak mau tahu) yang mampu menggagas kemerdekaan? Tidak !!! Yang hanya konsisten dan peduli adalah para aktivis, dan mereka (para pejuang) adalah aktivis.

Kita ingat Budi Utomo ketika dia melakukan gerakan-gerakan atas dasar penderitaan rakyat. Kita ingat penderitaan Sukarno ketika ia berkali-kali dipenjara bahkan diasingkan karena memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia. Sekarang coba kita lihat di sekitar, berapa kaum buruh yang tenaganya dieksploitasi oleh para kapitalis, berapa banyak para petani dan buruh tani yang masih miskin, berapa banyak praktek-praktek penegakan hukum yang tidak adil. Gayus adalah pemakan uang rakyat besar-besaran tapi apakah sekarang ia mendapatkan hukuman setimpal? Para koruptor yang bercokol di Indonesia masih terlalu banyak. Bangsa Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Inilah tugas kita bersama, kaum muda terdidiklah yang akan menyempurnakan kemerdekaan bangsa ini. Penjajahan dalam bentuk apapun harus kita hilangkan agar cita-cita kemerdekaan Indonesia segera terwujud. Dan sebuah penghianatan yang luar biasa apabila kita sebagai kaum muda yang terdidik tidak mau menyempurnakan kemerdekaan Indonesia yang sudah susah payah diperjuangkan oleh founding father kita.


Bayangkan saja kalau tidak ada mahasiswa, negara ini akan menjadi apa. Artinya masyarakat tak berpendidikan tidak akan mengerti bahwa ada ketidak adilan sistem yang dibuat dan dilakukan oleh pemerintah. Bagaimana para penguasa dengan bebas mengeksploitasi segala potensi yang ada hanya untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan manakala tidak ada kaum muda yang berperan sebagai pengontrol segala kebijakan pemerintah dan sebagai orang yang peduli akan kondisi sekitar. Sekali lagi bahwa mahasiswa lah yang dimaksud kaum muda ini.

Penutup
Semangat patriotisme bukan hanya sekedar diartikan sebagai semangat memperkaya diri dengan keilmuan dan keahlian akan tetapi lebih kepada bagaimana mahasiswa mampu memahami realita sosial di sekitar untuk kemudian memberikan sebuah kontribusi, entah dalam bentuk ide (gagasan) maupun dalam bentuk usaha-usaha konkrit. Karena ini lah tanggung jawab mahasiswa sebagai garda terdepan untuk memikirkan dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Mahasiswa sebagai kaum muda terdidik sudah semestinya juga mampu menjadi kelompok penyadar para pemimpin yang melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan seorang pemimpin bangsa akan terlihat dengan jelas hanya oleh orang-orang terdidik. Oleh karena itu mahasiswalah yang harus menjadi pelopor gerakan penyadaran terhadap pemimpin bangsa yang khilaf.

Sebuah kalimat untuk menutup tulisan ini, saya tarik sekali lagi bahwa kaum muda terdidik adalah kaum yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Maka mustahil adanya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik manakala yang melanjutkan estafet kepemimpinannya adalah kaum yang tidak sadar akan cita-cita kemerdekaan Indonesia, tidak sadar akan bagaimana kondisi sosial yang ada di sekitarnya bahkan Indonesia secara luas, dan tidak sadar akan perkembangan sistem yang kemungkinan besar kapitalis, kolonialis dan imperialis akan bercokol kembali di negara ini untuk mengeksploitasi bangsa Indonesia. Sebuah pendidikan kepemimpinan yang penuh dengan latihan kepekaan terhadap realita sosial dan latihan analisa yang tajam untuk membuat gagasan-gagasan yang konstruktif, hanya terdapat pada organisasi kemahasiswaan yang progresive revolusioner. Oleh karena itu menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk menjadi aktivis yang aktif dalam menyikapi segala persoalan-persoalan yang menyangkut keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Senin, 29 November 2010

Masih Relevankah Gerakan Ekstra Parlementer Untuk Sekarang ?

Gerakan ekstra parlementer (parlemen jalanan) bisa dikatakan sebagai cara yang sedikit anarkis untuk menegakkan keadilan. Biasanya gerakan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan basis perlawanan rakyat yang berada di pihak rayat. Ada juga yang memang organisasi ekstra mahasiswa yang hirarkis nasional, yang sengaja dibentuk dan dipermanenkan dengan tujuan agar ada kelompok yang secara konsisten menjadi kelompok pengawas pemerintah.

Memang banyak yang menyadari bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa harus selalu ada sebagai garda terdepan perjuangan rakyat atau garda terdepan penyampai aspirasi rakyat. Namun banyak juga masyarakat yang sudah berpandangan miring terhadap aksi-aksi mahasiswa. Alasan yang mendasar adalah (1) aksi-aksi mahasiswa seringkali menghambat perjalanan pengguna jalan karena biasanya aksi-aksi mahasiswa dengan memblokir jalan, sehingga para pengemudi dari mulai pengemudi umum sampai tukang angkot banyak yang merasa dirugikan. (2) Aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa ternyata banyak yang tidak dirasakan oleh masyarakat manfa’atnya. Entah karena aksinya hanya aksi permainan politik para elit atau yang diperjuangkan masa aksi putus di tengah jalan karena sesuatu hal.

Ini lah yang kemudian menjadikan polemik bagi seluruh gerakan mahasiswa. Di satu sisi ingin benar-benar menegakkan keadilan akan tetapi di sisi lain terkadang malah berbuat tidak adil. Contohnya, dengan aksi-aksi yang atas dasar kepentingan politik atau kepentingan materi sehingga tidak murni memperjuangkan keadilan. Mengatasnamakan gerakan politik dengan gerakan moral. Sehingga dengan demikian kepercayaan masyarakat menjadi kabur terhadap organisasi perlawanan yang berada di sisi rakyat.

Harusnya ini menjadi cerminan bagi para penguasa agar bagaimana caranya tidak perlu lagi ada gerakan-gerakan ekstra parlementer yang merugikan banyak pihak. Tentunya dengan merehabilitasi sistem yang kotor dalam birokrasi. Permainan politik yang hanya menguntungkan kelompok elit politik dan banyak merugikan masyarakat harus segera dimusnahan. Pertarungan partai-partai yang mengatasnamakan perwakilan rakyat dalam sebuah wadah pemuntahan aspirasi rakyat (gedung Dewan) harus benar-benar atas nama rakyat agar tidak bisa di tawar-tawar lagi. Penjualan aspirasi rakyat harus segera dihentikan karena aspirasi rakyat adalah bukan untuk dijadikan bisnis politik akan tetapi amanat yang tidak bisa di tawar dengan apa pun.

Kiranya kalau sistem yang ideal di atas sudah terlaksana, maka tidak akan ada lagi gerakan-gerakan ekstra perlementer. Namun sebaliknya, karena mungkin ini adalah hukum alam yang dalam sejarahnya akan selalu terulang pada sebuah sistem politik. Maka kiranya gerakan ekstra parlementer masih tetap relevan sepanjang tidak ada perubahan pada para birokrat dan politikusnya yang korup dan bejat. Namun perlu dimaknai kembali bahwa parlemen jalanan adalah bagian terkecil dari tindakan penyelesaian masalah yang biasanya masalah itu terjadi dalam birokrasi pemerintahan.

Tuntutan Moral
Tuntutan moral yang sangat mendasar sebenarnya adalah adanya keadilan dan kejujuran. Keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan berpikir. Ini bukan hanya ditekankan kepada para penguasa akan tetapi seluruh elemen masyarakat dari mulai elit politik sampai masyarakat paling bawah. Keadilan berpikir adalah bagaimana manusia itu tidak egois. Artinya di sini harus ada prinsip gotong royong. Seluruh elemen masyarakat harus saling mendukung untuk terciptanya sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan.

Kemudian kejujuran yang dimaksud adalah kejujuran intelektual. Seringkali orang mengatakan bahwa “sudah banyak orang pintar, tapi sedikit sekali orang yang benar”. Ini akibat dari ketidak jujuran orang-orang intelektual yang sekaligus terjun dalam politik. Ada prinsip-prinsip kebenaran yang pada kenyataannya dibohongi oleh diri sendiri. Contoh kecil, korupsi itu melanggar hukum dan merugikan rakyat banyak tapi justru yang mempraktekkan korupsi itu malah orang yang tahu betul bahwa korupsi itu tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Inilah yang saya maksud kebohongan intelektual.

Penutup
Gerakan ekstra parlementer adalah sebuah jalan lain dari proses penyelesaian kasus yang di dalamnya banyak tarik-menarik kepentingan. Ini dianggap baik manakala gerakannya memang benar-benar memperjuangkan kepentingan bersama (baca : kesejahteraan rakyat). Gerakan yang konsisten dan tanpa kepentingan lain adalah sebuah gambaran gerakan moral.

Sebaliknya bahwa ketika gerakan-gerakan dari berbagai basis perlawanan yang hanya mementingkan kepentingan golongan dan kepentingan politik sama sekali tidak dibenarkan dalam hal ini. Artinya lebih baik melakukan hal-hal yang sederhana tapi konkrit bagi masyarakat dari pada mengganggu perjalanan tukang angkot. Seperti misalnya membuat lembaga pendidikan berbasis masyarakat, bakti sosial dan sebagainya. Sebagaimana pada dasarnya para pemuda termasuk juga mahasiswa yang tergabung dalam organisasi adalah bertujuan untuk membentuk jiwa patriotik agar mampu mengatasi segala masalah-masalah pelik dalam masyarakat, bukan malah sebaliknya.

Gerakan ekstra parlementer sudah seharusnya menjadi sebuah gerakan penyadaran yang luar biasa kepada para pemimpin yang kurang berpihak pada rakyat. Bukan malah membuat koloni-koloni baru yang menciptakan masalah baru. Akan tetapi lebih kepada sebuah penyelesaian persoalan.
Maka dengan demikian tidak menutup kemungkinan perubahan akan segera dicapai dengan progress. Adanya golongan-golongan bukan untuk saling menjatuhkan dan mengunggulkan golongan masing-masing namun harus ada interaksi yang membangun. Seperti pada kalimat Bhinneka Tunggal Ika.

Minggu, 03 Oktober 2010

MAHASISWA VS SIAPA?

Oleh : Ibnu Abdillah

Dunia memang akan selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan social dan budaya. Perubahan sosial berarti masyarakat Indonesia sekarang bisa dibilang sedang dalam posisi yang serba bingung; bingung memilih pekerjaan, bingung memilih jalan hidup, bahkan bingung menentukan salah dan benar. Ini terbukti dengan banyaknya pengangguran, perkelahian, bentrok antar kelompok, dan sebagainya. Kemudian perkembangan budaya yang dipengaruhi oleh budaya luar, yang sangat bergantung pada teknologi, yang juga saya pribadi terjebak ke dalamnya, sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter masyarakat. Misalnya saja, televisi yang hampir seluruh kelas masyarakat mampu mengaksesnya, itu sangat berpengaruh besar. Banyaknya tayangan-tayangan yang menggambarkan kehidupan yang mewah dan santai, penuh romantik percintaan, bahkan jarang sekali masyarakat yang mampu menyaring itu.

Sekarang berbicara tentang mahasiswa khususnya mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Rupanya kata ”perjuangan” dan ”perlawanan” yang dijadikan motto oleh mahasiswa pada tahun 1960-2000-an sudah berbeda orientasinya. Kalau mahasiswa dulu, objeknya adalah para penguasa yang lalai menjalankan tugas-tugasnya, seperti Soeharto yang pada tahun 1998 berhasil digulingkan oleh persatuan mahasiswa dari berbagai kampus. Sementara mahasiswa sekarang, objek ”perjuangan” dan ”perlawanan” nya pun sudah mengarah kepada hal-hal yang lebih konkrit untuk dirinya masing-masing. Fakta menunjukkan bahwa dalam waktu belakangan ini sejumlah organisasi kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus, sudah mengalami penurunan. Penurunan dalam hal penguasaan wacana dan gerakan. Karena kabanyakan hanya berkutat pada persoalan internal organisasi masing-masing.

Tetapi kadang-kadang juga mahasiswa malah terjebak pada persoalan antar organisasi kemahasiswaan yang lain, sehingga tidak ada kontribusi yang riil untuk masyarakat. Paling tidak merubah sistem yang akan menyengsarakan rakyat seperti kapitalisme pendidikan misalnya. Kapitalisme pendidikan yang beberapa waktu lalu pernah saya tulis dalam tulisan yang sederhana, tapi mungkin belum banyak dibaca orang lain selain teman-teman dekat saya.

Kemudian selain organisasi kemahasiswaan, mahasiswa khususnya di kampus saya sendiri IAIN Syekh Nurjati Cirebon juga sekarang sudah terjebak dalam pengaruh-pengaruh media (TV). Saya menemukan beberapa fakta menarik tentang hal ini. Pertama, mahasiswa sekarang sudah tidak mempunyai gairah untuk secara serius memperkaya khasanah intelektual, terbukti dengan kejadian meng-copy-paste makalah-makalah yang ada di internet untuk tugas-tugas perkuliahan. Seharusnya paling tidak bahan-bahan materi yang didapatkan dari intrnet hanya dijadikan sebagai referensi yang kemudian kita susun kembali dengan inovasi pemikiran kita. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa sekarang menganggap pendidikan hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan legitimasi dan untuk kesejahteraannya. Budaya membaca buku, diskusi, dan menulis sudah tersingkirkan sehingga tidak heran jika banyak lulusan perguruan tinggi yang bingung akan tujuan hidupnya.

Kedua, memang banyak mahasiswa yang ikut terdaftar ke dalam organisasi kemahasiswaan, tapi ternyata sangat sedikit sekali yang sadar dan prihatin terhadap fenomena degradasi ini. Sehingga ini berdampak pada stagnan-nya organisasi kemahasiswaan. Tujuan organisasi kemahasiswaan yang seharusnya mampu membawa mahasiswa kepada perubahan yang progress dan dinamis, tapi gaungnya pun tak terdengar sama sekali.

Memang kalau ditinjau dari segi kronologis peradaban manusia, grafiknya selalu naik turun. Artinya peradaban manusia tidak semata-mata dari zaman dahulu hingga sekarang grafiknya selalu naik. Misalnya pada zaman Rasulullah Muhammad saw. peradaban manusia jauh meningkat dari pada sebelumnya. Tapi kemudian setelah wafatnya Rasulullah seringkali mengalami penurunan, misalnya bisa kita telaah dengan adanya kejadian perpecahan umat Islam hanya karena kepentingan politik. Sehingga bisa jadi masa mahasiswa sekarang sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Dan kemungkinan akan bangkit kembali di suatu saat nanti.

Lalu yang menjadi polemik adalah; mahasiswa sekarang vs siapa? Kalau tahun-tahun lalu sangat jelas sekali mahasiswa menjadi kelompok yang ditakuti oleh pemerintah/penguasa karena analisis kritis dan keberanian mengkritik mahasiswa terhadap pemerintah sangat kuat. Contoh yang tak akan hilang dari memori sejarah perjuangan mahasiswa adalah pada tahun 1998, yaitu pada saat kepemimpinan Soeharto yang dinilai hanya menyengsarakan rakyat. Penggulingan Soeharto pun tidak sia-sia walaupun harus ada korban yang berjatuhan dari kelompok mahasiswa.

Mahasiswa yang menjadi basis perlawanan terhadap kaum kapitalis dan kaum penguasa yang dzalim sangat has sekali pada waktu itu. Kekompakan dan kebersamaan mahasiswa sangat kuat sehingga tidak mudah dipatahkan oleh penguasa sehebat apa pun. Idealisme mahasiswa yang sangat mahal adalah cerminan konsistensi perjuangan mahasiswa pada waktu itu.

Namun sekarang yang terjadi adalah mahasiswa vs siapa? Tanda tanya besar yang sampai hari ini belum diketemukan. Apakah mahasiswa vs kebodohan? Jawabannya juga tidak bisa di”iya” kan atau di”tidak” kan. Karena esensi dari pemberantasan kebodohan pun sudah digilas oleh hal-hal yang sangat formalis. Kenapa demikian? Karena ada jaminan yang lumayan menjanjikan bagi mahasiswa yang lulus dengan nilai baik dan cepat. Untuk mendapatkan nilai yang baik dan dengan cepat adalah harus selalu mengumpulkan tugas dan hadir di kelas walaupun dosen tidak terlalu bergairah untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa, asalkan mengumpulkan tugas berarti selesai dengan nilai yang baik. Kemudian kehadiran pun di kelas hanya menjadi kegiatan formal peng-absen-an belaka tanpa ada semangat yang kuat untuk benar-benar menggali khasanah keilmuan pada bidangnya masing-masing.

Mahasiswa vs penindas rakyat? Bisa kita pantau bersama bahwa sampai hari ini belum ada aktivitas mahasiswa yang menunjukkan semangat untuk melawan para penindas rakyat. Tidak ada lagi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan mengatasnamakan rakyat. Semuanya hanya mengatasnamakan golongan masing-masing. Ketika sebagian golongan mahasiswa sedang ada yang dikekuasaan, maka dirong-rong oleh golongan mahasiswa yang lain dengan mengatasnamakan idealisme dan kepentingan bersama, tapi ternyata hanya kepentingan golongan. Ini hanyalah contoh kecil tapi sudah membuktikan dengan jelas akan kebingungan perjuangan mahasiswa.
Jadi jawaban atas musuh mahasiswa sampai hari ini belum lah jelas. Terkadang mahasiswa menjadi musuh penguasa, tapi terkadang mahasiswa pun malah berusaha mempertahankan kekuasaan demi kelompoknya masing-masing. Terkadang mahasiswa menjadi musuh kebodohan, tapi terkadang mahasiswa juga malah memperjuangkan dan mempertahankan kebodohan. Terkadang mahasiswa menjadi garda depan untuk membela yang benar, tapi juga seringkali mahasiswa menjadi garda depan untuk mempertahankan kesalahan demi kepentingan pribadi atau golongan.

Memang tidak bisa dipukul rata, bahwa ini hanyalah fenomena yang muncul dipermukaan yang mungkin hanya sebagian mahasiswa. Artinya ada juga mahasiswa yang mungkin masih konsisten dengan perjuangannya, entah perjuangan intelektual maupun perjuangan menumpas ketidak adilan. Tapi mungkin masa-masa sekarang sudah terlalu anjlog penurunannya. Kita bisa ukur perbandingan antara mahasiswa yang aktif dan kreatif dengan mahasiswa yang terjebak dalam kehidupan hedonis. Sangat lah jauh selisihnya. Lihat saja aktivitas mahasiswa yang kebanyakan hanya berpacaran dan berdandan ria. Saya tidak mengatakan itu salah, tapi ternyata style mereka sangat tidak seimbang dengan kapasitas yang mereka miliki.
Budaya kemandirian dan kekreatifan mahasiswa terkadang kalah dengan masyarakat ’awam yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Bisa kita lihat sekarang sudah banyak masyarakat yang kreatif dengan memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.
Diskusi dan menulis sudah banyak yang ditinggalkan oleh mahasiswa. Akibatnya degradasi intelektual menjadi awal mula degradasi moral. Dengan tidak adanya aktivitas yang rutin untuk diskusi, menulis dan membaca mengakibatkan mahasiswa melakukan aktivitas yang imoral. Akibat dari pengaruh teknologi informasi dan budaya yang kurang baik.

Ini adalah auto kritik saya terhadap mahasiswa (termasuk saya) yang dengan harapan bahwa akan ada sebuah peningkatan peradaban mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari yang serba kurang ini menjadi sedikit lebih meningkat. Paling tidak, kegelisahan saya selama ini sedikit demi sedikit bisa hilang dengan cara menuangkan ke dalam tulisan-tulisan kecil ini. Harapan ideal saya tentu terciptanya budaya mahasiswa yang kritis, rajin membaca, berdiskusi, dan menulis, karena hanya dengan begitulah mahasiswa mampu membawa perubahan yang lebih baik. Matinya budaya tersebut semata-mata adalah karena kurangnya keprihatinan mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak mampu menyaring hal-hal baru (negativ) yang masuk dalam kehidupannya sehingga hilanglah keprihatinannya. Keprihatinan terhadap nasibnya nanti, keprihatinan terhadap lingkungan sekitar dan lain sebagainya.

Saya kira perubahan itu bisa datang semudah membalikkan telapak tangan sepanjang semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa kuat. Tapi sebaliknya, perubahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan manakala tangannya sedang sakit. Artinya ketika semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa sudah tersakiti maka jangan harap perubahan akan segera datang. Dalam Islam pun sangat jelas diterangkan lewat al-Qur’an bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau merubahnya. Jadi, pada dasarnya apa yang kita lakukan (baik atau buruk) maka akan berdampak pada diri kita sendiri.

*) Penulis : Mahasiswa Jurusan PAI semester V
Aktif Juga Menulis di Buletin SEPI (Secangkir Kopi)
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Selasa, 17 Agustus 2010

Perjuangan Mahasiswa yang Mengambang

Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dan negara dimasa depan mempunyai peran dan tanggung jawab memelihara, menjaga, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan upaya memberdayakan diri, mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat secara adil dan merata.

Sangat ideal sekali pengertian mahasiswa di atas. Adanya organisasi baik intra maupun ekstra kampus menjadi sarana penunjang agar cita-cita di atas bisa terwujud. Karena dengan berorganisasi secara otomatis mahasiswa di tuntut untuk belajar banyak tentang bagaimana merencanakan, mengatur, dan melaksanakan program-program yang bersifat pengembangan potensi, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain. Sehingga diharapkan mahasiswa benar-benar mampu membawa perubahan yang lebih baik dan konkrit tentunya untuk masyarakat luas.

Oleh karena mahasiswa adalah sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, maka sebuah pemahaman tentang kebangsaan dan kenegaraan adalah suatu keniscayaan. Tidak boleh tidak, mahasiswa harus mampu membaca segala perkembangan zaman agar paradigma pikir dan geraknya bisa tetap relevan. Tentunya objeknya tertuju pada rekonstruksi sosial, artinya mahasiswa harus mampu berkembang secara individual dan mengembangkan masyarakat sekitar agar cita-cita bangsa bisa terwujud.

Dalam hal ini, mau tidak mau mahasiswa harus mampu menjadi agent of control, baik mengamati perkembangan sosial maupun tata kenegaraan agar ketika ada sesuatu yang melenceng dari cita-cita bangsa bisa diantisipasi bersama-sama. Untuk mewujudkannya bisa dengan berkomunikasi secara baik dengan penyelenggara pemerintah maupun dengan cara aksi. Tapi aksi adalah jalan terakhir ketika memang perlu dilakukannya aksi karena mungkin sulit untuk menempuh komunikasi yang baik, entah karena tidak adanya realisasi pemerintah terkait dengan apa yang sudah dibicarakan dengan mahasiswa atau pun karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya komunikasi yang baik.

Aksi juga sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa dikarenakan tidak beresnya birokrasi dalam sebuah pemerintahan yang mana segala kebijakan atau pun tindakan pemerintah bisa merugikan rakyat banyak.
Akan tetapi hari ini, mahasiswa sudah banyak yang masuk angin, kebiasaan mengkritik terkadang tidak mampu memberikan solusi yang konkrit yang bisa dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri. Sehingga ada kalanya pemerintah bosan dan tak mau mendengar lagi aspirasi mahasiswa yang hanya bisa mengkritik tanpa bisa melakukan hal-hal yang nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat banyak. Kemudian, masuk angin mahasiswa sering terjadi karena aksi-aksi kritiknya hanya sekedar bermain untuk kepentingan pribadi atau golongan, bukan atas dasar kepentingan masyarakat banyak. Sehingga sampai hari ini, masyarakat kita belum menemukan ruh perjuangan yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang sangat ideal itu.

Sangat ironis sekali, padahal jumlah mahasiswa makin tahun makin banyak, bahkan jumlah instansi pendidikan makin banyak pula. Tapi, kalau mahasiswa selalu hidup dengan dunianya sendiri, dan masyarakat juga hidup dengan dunianya sendiri, maka tidak akan ada titik terang untuk membuka masyarakat yang adil dan makmur. Karena, mahasiswa ketika terlalu asyik dengan dunianya sendiri, misalnya hanya belajar untuk mendapatkan ijazah tanpa mempunyai cita-cita untuk membangun masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan urusan pribadinya tanpa sedikit pun ikut memikirkan bagaimana caranya bersama-sama membuka mata masyarakat yang masih bodoh dan miskin, jika demikian maka jangan harap perubahan itu datang. Dan juga ketika masyarakat sibuk dengan dunianya sendiri tanpa ada usaha untuk bersama-sama membuka pikiran dan kesadaran akan perlunya sebuah perubahan, maka jangan harap pula mentari yang cerah akan datang.

Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah pengaruh birokrasi kampus yang sangat hegemonik untuk mencetak mahasiswa menjadi kaum buruh yang sangat menguntungkan kapitalis. Misalnya dengan makin meninggikan biaya perkuliahan sementara sistem perkuliahan (penilaian) sangat memprioritaskan kehadiran tanpa memperhatikan kapasitas yang dimiliki mahasiswa, sehingga mahasiswa yang prihatin akan biaya yang cukup besar yang dikeluarkan mahasiswa menjadi sia-sia. Sadar atau pun tidak ini sangat berpengaruh terhadap mental mahasiswa. Mahasiswa lebih memilih untuk aktif masuk perkuliahan walaupun hanya duduk di kelas, dari pada memperbanyak wacana-wacana tentang perubahan di luar.

Hal demikian pun didukung oleh sistem pemerintahan tentang kepegawaian yang sangat mengutamakan mahasiswa yang mempunyai nilai tinggi dan menjamin pegawai-pegawai negeri dalam hal kesejahteraan walaupun menungkung kebebasan seseorang untuk berkembang. Dengan demikian lengkaplah sudah kurungan bagi aktivis-aktivis mahasiswa yang kritis, untuk mereformasi hal-hal yang memang harus direformasi demi perubahan yang lebih baik.

Kapitalisme masih mendarah daging dalam bangsa kita. Mau tidak mau kita pun terkadang terjebak dalam jurang kapitalis, karena contoh kecil tentang pendidikan. Sekarang pendidikan makin dijadikan sebagai investasi bagi para pemodal untuk memperkya dirinya tanpa memperjuangkan masyarakat agar terbebas dari kebodohan dan degradasi moral. Biaya pendidikan makin mahal dan akan tetapi makin memperburuk mental anak bangsa, yakni menjadikan mental anak bangsa menjadi mental buruh, mental pegawai, dan mental ketergantungan (tidak mandiri).

Wacana gerakan mahasiswa selalu diperbaharui, akan tetapi kalau belum ada paradigma gerak yang transformatif maka perubahan pun tidak akan datang dengan segera dan pencerahan akan kehidupan yang sejahtera, adil dan makmur hanya akan menjadi bahan bacaan dan bahan diskusi semata.

Teori memang butuh untuk pisau analisis agar mampu merobek cakrawala yang terdapat pada masyarakat, bangsa dan negara, tapi untuk merobek itu butuh tenaga yang harus dikeluarkan. Jadi ketika sudah mampu berteori seharusnya siap pula untuk bereksperimen karena teori yang hanya diendapkan di dalam pikiran hanya akan manjadikan masyarakat stagnan. Adakalanya pula teori itu dibuat hasil dari praksis. Pada akhirnya teori dan praksis harus sama-sama berdampingan karena itu bukan hanya bahan diskusi dan bahan tulisan semata, tapi lebih konkrit lagi yakni menjadi alat untuk merubah dan membangun masyarakat luas, entah dalam hal ekonomi maupun sumber daya manusia.

Letak geografis negara kita sudah strategis, kaya akan alam dan kebudayaan, sudah semestinya masyarakat kita bisa lebih unggul dari masyarakat bangsa lain. Memang pemerintah sudah menerapkan sedikit tentang pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, tapi entah kenapa degradasi moral dan semangat perjuangan malah semakin hilang dalam tubuh pemuda bangsa.

Budaya politikkah yang salah? Atau memang kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang kurang menghayati ruh perjuangan yang sudah sejak lama diterapkan pada bangsa kita?
Ulama hidup dengan dunianya sendiri, pendidik (guru) hidup dengan dunianya sendiri (tidak mementingkan bagaimana meningkatkan kualitas peserta didik), masyarakat bawah yang juga hidup dengan dunianya sendiri yang egois (tanpa pernah membuka diri bahwa perubahan bisa direbut bersama-sama). Dan pemerintah (para elit politik) hidup dengan dunianya sendiri yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan untuk menjaga kekuasaannya tanpa selalu memikirkan bagaimana bersama-sama membangun masyarakat luas. 
Mungkin budaya ini yang menjadikan masyarakat kita stagnan.

Masalah korupsi makin marak, kebohongan selalu dipertahankan dalam budaya politik bangsa kita demi menjaga kekuasaan, adalah penyakit yang tak kunjung sembuh yang turun temurun selalu diwariskan pada generasi penerus. Tapi bukan sesuatu yang mustahil hal ini bisa diobati. Semua penyakit ada obatnya tinggal sejauh mana usaha kita untuk menemukan obat itu agar bangsa kita sembuh dari penyakit kebodohan, kemiskinan, dan penjajahan.

Perjuangan mahasiswa yang masih mengambang ini semakin parah ketika tidak bersatunya paradigma gerak dan paradigma berpikirnya yang selama ini selalu terjadi, begitu pun sebaliknya, ketika paradigma berpikir dan paradigma geraknya sudah selaras maka tidak menutup kemungkinan cita-cita luhur yang tersurat pada pembukaan UUD 1945 bisa terwujud.

Jumat, 14 Mei 2010

PERKEMBANGAN MODERN DI MESIR

Nama : Ibnu Abdillah
NIM : 58410347
Jurusan : PAI

I. Kondisi Sosial, Budaya, Politik dan Keagamaan
Mesir adalah salah satu daerah yang menjadi begian dari kekuasaan Turki Usmani dan berperan sebagai salah satu pusat pengembangan peradaban Islam. Mesir mulai menjadi wilayah Islam pada zaman khalifah Umar ra. Pada tahun 640 M, Mesir ditaklukkan oleh pasukan Amr ibn ’Asy.

Mesir pernah dikuasai oleh dinasti-dinasti kecil pada zaman Bani Abbas, salah satunya adalah Dinasti Fatimiah. Tahun 945 Dinasti Fatimiah berhasil memantapkan diri dari Tunisia dan menguasai beberapa daerah di sekitarnya dan Sisilia. Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Mu’iz yang mempunyai seorang jendral yang cemerlang, yakni Jauhar. Al-Mu’iz mencoba menguasai pusat dunia Islam, Mesir. Setelah persiapan-persiapan matang termasuk propaganda politik, ditopang bencana kelaparan yang hebat di Mesir, Jauhar menerobos kota Kairo Lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan dan menguasai negara itu.
Dinasti Fatimiah adalah dinasti yang menganut faham Syi’ah Ismailiyah. Namun dinasti ini sangat toleran terhadap selain mazhabnya bahkan kepada agama lain. Hal inilah yang menyebabkan mereka dapat menjaga ketertiban dan keamanan negara dan penduduknya. Dengan stabilitas politik dan keagamaan yang mapan, maka aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik. Aktifitas perekonomian ini meliputi pertanian yang ada di sekitar sungai Nil yang subur, yang menghasilkan padi, gandum, tebu, kapas, bawang putih dan bawang merah. Sektor lain yaitu industri dengan produk kain sutra, wol dan sebagainya.
Setelah kekuasaan Fathimiah berakhir, Mesir dikuasai Oleh Mamluk, kemudian dikuasai oleh kekhalifahan Usmani. Ketiga pemerintahan ini bernuansa Islami maka hal ini dapat dikatakan tidak mendapatkan perubahan yang menyolok.

Perubahan dan perkembangan Masyarakat Mesir terlihat nyata setelah adanya pengaruh Barat yaitu selama tiga tahun di bawah kekuasaan Napoleon. (1798- 1801 M). Dengan alasan Ekspedisi dagang Napoleon Bona Parte dapat perebut hati kepala pemerintahan Khalifah Usmani di Mesir. Alasan rasional yang dilontarkan Napoleon adalah menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Khalifah Usmanl Mesir dari rongrongan orang-orang Mamluk yang ingin merebut kekuasaan.

II. Ekspedisi Napoleon dan Ide Modernisnya
Sejarah dunia mencatat bahwa kerajaan-kerajaan Islam pernah mencapai puncak kejayaan, sebagai kekuatan Adi daya yang dapat menguasai benua Eropa. Kejayaan kerajaan Islam Abbasyiah di Baghdad banyak memberikan kontribusi keilmuan bagi masyarakat Barat, sehingga Batar mengalami kemajuan yang berarti di bidang keilmuan, kemajuan itu berlanjut setelah mereka mendapatkan pengaruh dan mengadopsi pemikiran Rasional Averoisme.

Penemuan alat-alat teknologi dan kapal uap serta penemuan benua Amerika oleh Colonbus, menjadikan Barat lebih maju dari negara Islam. Sebaliknya bangsa Arab yang hidup dalam kegemilangan Kerajaan Islam terlena dengan kesenagan dan kejayaannya, sehingga mengakibatkan kemundura di bidang politik, ekonomi militer, bahkan di bidang ilmu pengetahuan. Kerajaan Islam Usmani mengalami kejayaan terpukul mundur, begitu juga kerajaan Safawi dan Monghul. Kemunduran itu semakin terasa ketika kerajaan-kerajaan Islam berada di bawah peneterasi Barat.
A. Riwayat Hidup Napoleon
Nama Napoleon Bona Parte amat termasyur di dunia. Beliau dilahirkan pada tahun 1769 M, di Ajaccio, Carcica Italia. Putra dari Carlo dan Letiza Romalio Bonaparte. Napoleon Bona Parte sudah mendapatkan pendidikan militersejak masih belia, bi Brienne, dan di Perancis. Beliau adalah seorang para ahli di bidang alteleri. Di dalam Enciclopedia Americana tercatat: Pada tahun 1778, Napoleon Bona Paerte yang berusia 9 tahun serta kakaknya Joseph berusia 10 tahun,memasuki pendidikan di The Oration College, Autun Perancis. Tiga bulan kemudian merka mengikuti pendidikan pada The Militerry School di Brienne dengan beasiswa dari Louis XVI. Karena kehebatannya di bidang Mate-matika Napoleon dikirim mengikuti latihan militer lanjutan di Ecole Militaire Paris dan menamatkan pendidikannya disini pada tahun 1784 M. Pada tahun 1791 Napoleon sudah berpangkat letnan kolonel. 25 Kearifannya berperang selama terjadi

Revolusi Prancis melanjutkannya ke jenjang pangkat Brigadir Jenderal di tahun 1793, pada usianya 24 tahun ia berhasil memimpin penyerbuan ke Italia dan beberapa negara Eropah lainnya. Prestasinya melonjak lagi ketika ia menduduki jabatan sebagai Konsul pertama Republik Prancis tahun 1799-1804, kemudian ia menjadi Kaisar Prancis yang memerintah secara diktator di tahun 1804-1815.

B. Napoleon dan Gerakannya.
Mesir adalah satu wilayah subur yang menjadi rebutan para penguasa di jaman itu. Letak setrategis Mesir tepatnya di daerah Bulan sabit, yang menjadi daerah perlintasan san dagang Hindia dan Eropa melalui Laut Merah. Lintas dagang ke Italia melalui Laut Tengah yang berdekatan dengan Bizantium.

Ekspansi Eropa pada abad ke -17 merupakan suatu bentuk baru yang dimulai dengan perundingan Eropah dan pemerintahan Usmani, guna membentuk aliansi menghadapi Inggris. Kecerdikan politik seperti ini berjalan dengan baik. Aliansi ini akhirnya berubah menjadi suatu fakta perdagangan yang memberikan hak-hak istimewa kepada orang Eropah terutama Prancis untuk berniaga di daerah kekuasaan Usmani (dikenal dengan Kapitulasi 1535). Orang-orang Prancis dilindungi keselamatan jiwanya dan hartanya juga kebebasan agamanya.
Rasyid yang terletak di sebelah Timurnya dikuasai, pada 21 Juli tentera Napoleon sampai kedaerah Piramid dekat Kairo, pertempuran terjadi di sini, kaum maklumat yang menguasai Mesir tak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon, mereka lari ke Cairo, di tempat ini kaum Mamluk mendapat simpati dan sokongan dari orang-orang Mesir, akhirnya mereka lari ke daerah Mesir Selatan. Pada tanggal 22 Juli 1798 Napoleon sudah menguasai Mesir setelah tiga minggu mendarat di pelabuhan Alexandria.

Penguasaan terhadap Mesir ini merupakan usaha Napoleon untuk memutuskan komunikasi antara Inggris di barat dan India di Timur, disamping itu Prancis perlu memasarkan industri mereka. Ambisi pribadi Napoleon Bonaparte untuk menguasai kerajaan besar, sebagaimana penguasaan Alexander the Great dari Macedonia menguasai Eropah dan Asia, menjadi pendorong utama baginya untuk mengadakan ekpedisi ke Mesir.Ambisi Napoleon ini terungkap antara lain karena kegemaranya membaca buku-buku tentang Alexander.

Pada masa kedatangan Napoleon ini, masyarakat Mesir terbagai dua kelompok yaitu : Muslim Turki dan Muslim Arab. Jika di analisa dari keadaan ini maka secara politis rakyat Mesir dengan mudah dapat dipengaruhi oleh Napoleon. Sebenarnya pada mulanya Napoleon diserahi tugas untuk memimpin operasi militer ke Inggris, Prancis berusaha mematahkan dominasi Inggris pada peta politik dan ekonomi internasional, namun Napoleon berkesimpulan operasi militer itu akan berhasil bila Perancis dapat menguasai jalur perdagangan Inggris, ia lalu mengalihkan rencana dan kemudian mengadakan invasi ke Mesir sekaligus menjadikanya sebagai basis kekuatan untuk meluaskan daerah ke bagian Timur, Invasi ini dilakukan dengan berpura -pura melindungi para pedangan Perancis dari perlakuan yang tidak baik yang dilakukan para penguasa terhadap mereka (Lokal mis rule).

Penetrasi Prancis ini telah berkembang dengan cepat. Napoleon ke Mesir bukan hanya untuk membawa tentera. Dalam rombongan ini terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita, diantara mereka itu terdapat 16 ahli dalam berbagai bidang ilmu pengethuan. Napoleon juga membawa dua set alt pencetakan huruf lain, Arab dan Yunani. Ekspedisi ini bukan semata-mata untuk kepentingan militer tetapi juga untuk kepentingan ilmiah. Di Mesir dibentuk suatu lembaga ilmiah, bernama Institud’ Aqypte yang mempunyai empat cabang : Bahgian ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi politik, bahagian Sastra- seni. Publikasi yang dihasilkan lembaga ini bernama La Decade Egyteinne dan majalah Le Courrier d’ Egypte yang diterbitkan oleh Marc Auriel, seorang pengusaha yang turut serta dengan ekspedisi Napoleon.

Menjelang abad ke-18 tampak tanda-tanda kebangkitan kebudayaan Mesir secara spontanitas. Kebangkitan ini merupakan gerakan internal yang muncul dari dalam negeri. Sekelompok penulis Mesir muncul di panggung kebudayaan yang tidak bisa disamakan dengan tiga abad sebelumnya baik dari seg jumlah maupun hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA
Lewis, Bernand, 1988, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu.
Mubarok, Jaih. 2004. Sejarah Peradaban Islam,Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Nasution, Harun, 1985, Islam ditinjau dari Beberapa Aspeknya, Jakarta: UI Press.
Rahimah, Sejarah Islam di Mesir (Makalah), Sumatra Utrara.
Subarman, Munir, 2008, Sejarah Peradaban Islam Klasik, Cirebon: Pangger Publishing.

Senin, 29 Maret 2010

Akibat Dari Tidak Bisa Menghargai Perbedaan

Oleh : Ibnu Abdillah
(Dipersembahkan untuk kader-kader Multikultural)

Sekarang kita bisa lihat bahwa banyak sekali dampak negatif daripada tidak bisa menghargai perbedaan, tawuran antar golongan, konflik antar suku bahkan agama. Itu sudah cukup bukti untuk kita sekarang bahwa sudah sepatutnya kita satukan persepsi. Kita harus terbuka dengan Rata Penuhrealitas sosial yang kini kian beragam, coraknya, bahasanya, budayanya, kepercayaannya, bahkan pola pikirnya. Kalau kita masih menganggap bahwa golongan kitalah yang paling benar, suku kitalah yang paling kuat, budaya kitalah yang paling luhur, sementara yang lain salah bahkan harus kita hancurkan. Pola pikir yang demikian adalah sangat riskan kalau masih saja dipertahankan, riskan karena dengan demikian akan muncul berbagai konflik bahkan akan memperbesar ketegangan serta kesnjangan sosial.

Kekhawatiran yang sejak dulu kita bayangkan ternyata terjadi juga. Dengan sangat gencarnya golongan orang yang bersikukuh ingin menegakkan syari’at Islam sampai kemudian karena negara tetap harus berasaskan Pancasila sehingga mereka hanya dengan perda dulu, sekarang terbuktilah kekhawatiran itu. Contoh di Aceh dan Tangerang, kedua daerah itu sudah sedikitnya menerapkan sistem Islam dalam peraturan-peraturan daerah secara legal. Sekarang kita lihat di Manokwari dan Bali, Manokwari sedang dalam proses pengesahan perda Injil yang salah satunya adalah tidak boleh ada wanita yang memakai kerudung seperti kebalikan dari Aceh. Kemudian di Bali juga sedang dalam proses pengesahan perda Hindu. Saya tidak bisa membayangkan daerah mana lagi yang akan menerapkan perda dengan aturan-aturan agama. Apa yang akan terjadi ketika demikian?

Apakah semua agama mewajibkan agar aturan-aturan yang terdapat dalam ajaran agama itu harus secara legal ditetapkan dalam suatu Negara? Sama sekali tidak ada. Artinya agama sudah jelas bahwa dalam ranah kenegaraan harus kita ambil nilai-nilai agamanya tanpa harus secara tekstual menerapkan ajaran agama menjadi peraturan yang resmi. Lalu bagaimana dengan agama lain yang berada dalam wilayah itu? Ini akan berdampak sistemik kalau pemerintah pusat tidak seger menyelesaikan persoalan ini. Mungkin ini juga tugas untuk kita bersama dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai walaupun berbeda.

Pahami Pancasila dan ke-Bhinekaan secara utuh, apakah kedua asas itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan? Saya kira itu sangat sesuai sekali. Lalu atas dasar apa mereka (orang-orang aliran fundamental) ingin menetapkan peraturan agama dengan secara legal menjadi peraturan pemerintah? Masihkah sejarah yang kelam itu terulang lagi? Masih kurang buktikah bahwa dengan tidak mampu menghargai pebedaan akan memperluas jurang permusuhan? Kurang bukti apa lagi? Aceh yang dengan sangat bersemangat ingin menegakkan syari’at Islam kemudian tidak diakomodir aspirasinya oleh pemerintah pusat sehingga mereka membuat GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan persenjataan lengkap yang entah dari mana datangnya. Kemudian Manokwari dengan semangat Khatoliknya ingin menetapkan perda injil karena mungkin atas dasar mempertahankan agamanya agar tetap ada walaupun nanti negara menggunakan syari’at Islam. Lalu apa yang dipahami oleh mereka tentang NKRI? Apakah mereka tidak bisa menerima demokrasi yang berasaskan Pancasila? Apakah mereka mengenggap Pancasila itu hanyalah rumus kode buntut?

Mampukah mereka melihat bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang jauh lebih penting daripada memperluas perdebatan mengenai segala perbedaan? Mampukah kita sama-sama melihat bahwa disekitar kita banyak sekali yang belum makan, atau belum bisa makan layaknya manusia? Jawabannya ada pada diri masing-masing bahwa rasa kemanusiaan di setiap manusia itu ada hanya karena terlarut dalam kehidupan yang sangat hedon sehingga lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang menginginkan sentuhan-sentuhan kasih sayang kita.

Kekerasan dan ketidak adilan juga terjadi bukan hanya pada rakyat miskin dan orang-orang terlantar, tetapi orang-orang yang berbeda dengan keumuman orang. Misalnya cacat fisik (tuna netra, tuna rungu dll) dan orang yang tidak sesuai antara jiwa dan jenis kelaminnya (waria). Mereka sering merasakan ketidak adilan dan kekerasan. Yang cacat fisik, mereka sangat susah sekali mendapatkan akses pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Hanya karena mereka tidak bisa melihat atau tidak bisa mendengar sehingga mereka tidak bisa untuk belajar. Kemudian waria juga, mereka seringkali dicmoohi oleh orang yang memang benci dan jijik dengan waria, apalagi mereka seringkali susah untuk beribadah seperti layaknya orang lain berjama’ah di masjid. Seolah mereka adalah manusia najis yang tidak boleh masuk masjid. Ini realita kehidupan kita.

Apakah pernah kita memikirkan penyebab apa yang menjadi mereka demikian? Pernahkah kita melihat mereka itu dari sisi kemanusiaan? Sadarkah bahwa mereka juga sebenarnya manusia yang menginginkan hidup normal seperti halnya kita? Tetapi itu adalah kuasa Tuhan, maka dari itu karena itu adalah kuasa Tuhan maka kita harus mengakui keberadaan mereka selayaknya kita menyambut hangat juga keberadaan orang-orang yang kita sayang.
Mari kita buka mata dan hati kita. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia yang mempunyai akal dan hati (perasaan). Stop memandang buruk orang yang berbeda dengan kita (apalagi dengan klaim kafir, murtad, dll) karena itu sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Hidup dalam permusuhan hanya akan membuat hati dan pikiran kita sempit.

Marilah kita bersama-sama mengakhiri permusuhan ini hanya atas dasar ingin menunjukkan bahwa kita lah yang paling hebat. Kita sama-sama manusia yang mempunyai banyak kekurangan, justru dengan menghargai perbedaan maka akan bisa kita temukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kehidupan yang damai. Masih banyak pesoalan yang jauh lebih penting dari pada mengagung-agungkan diri tanpa menghargai yang lain. Kemiskinan dan kebodohan masih banyak sekali disekitar kita.



SALAM DAMAI

Jumat, 12 Maret 2010

Tuhan Menurut Abu Nawas

Oleh : Ibnu Abdillah
Abu Nuwas adalah seseorang yang diangap zindiq oleh banyak orang pada masanya. Karena ia selalu bertindak berbeda dengan keumuman orang. Pada saat orang-orang sedang taat beribadah, ia malah tidak mau shalat sama sekali, disaat orang-orang sedang kuat-kuatnya mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ia malah minum-minuman khamr¬ yang dianggap memabukkan oleh kebanayakan orang pada waktu itu. Pernah sesekali ia sehabis minum khamr, ia ikut shalat berjama’ah bersama sahabat-sahabatnya dan memang pada saat itu warga sedang rajin-rajinnya beribadah sehingga banyak jama’ah pada waktu itu, tapi apa yang dilakukan olehnya adalah, ketika imam membacakan ayat pertama pada surat al-Kafirun, ia menjawab denagn entengnya ”labbaik”. Dan keanehannya bukan hanya sebatas itu, ia bukan hanya suka terhadap perempuan akan tetapi ia juga suka terhadap laki-laki, ini yang kemudian menjadikan orang tidak habis pikir.

Abu Nuwas adalah sosok yang amat kontroversial pada zamannya, ternbukti dengan seringnya ia dipanggil oleh pejabat-pejabat pada waktu itu yang gerah atas tingkah lakunya yang kadang mampu membuat semua orang geger. Sebenarnya siapakah Abu Nuwas itu? Apakah ia adalah salah satu misteri juga yang kemudian melahirkan orang-misterius pada zaman sekarang, Gus Dur misalnya. Dengan gaya lawaknya sepertinya hampir sama dengan Abu Nuwas yang juga sama-sama tokoh yang kontroversial. Saya akan mencoba menguraikan secara sederhana tentang Abu Nuwas.

Abu Nuwas adalah seorang yang kontroversial. Sebagai seorang muslim, ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang secara syar’i dilarang, meremehkan haji dan waktu shalat. Ia menyukai minum khamr sehingga terkenal sebagai penyair khamr. Dalam hal ini, tampaknya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri, terutama untuk menunjukkan eksistensial keturunan (nasab) keluarga.

Khamr bagi Abu Nuwas, dijadikan kompensasi kekecewaan perasaan atau ketika merasa kosong jiwanya dan untuk menghindarkan diri dari kesibukan yang harus diselesaikannya. Khamr merupakan segala-galanya dalam kehidupan Abu Nuwas, karena khamr mampu menghantarkannya ke dalam suasana ekstase ke alam bayangan yang indah. Bahkan, khamr menjadi tujuan pertama hidup dan lebih dari menjalankan perintah agama seperti yang telah tersirat dalam kitab Diwan Abi Nuwas.

Bagaimana bisa Abu Nuwas dicap sebagai zindiq?
Abu Nuwas hidup dalam percaturan kompleks tersebut. Ia hidup pada zaman di mana pergolakan pemikiran dan pendapat yang muncul dari berbagai kelompok sedang berkecamuk. Abu Nuwas menahan diri dari kehidupan yang hanya mendatangkan pengalaman materil dan pengetahuan inderawi yang fana. Sebaliknya, ia mngusahakan diri untuk meraih kehidupan yang lebih kekal.
Lisannya tidak henti-hentinya menentang agama, sementara batinnya mempunyai keyakinan kuat untuk menuntun perilakunya di satu sisi, dan membangkitkan kemarahan orang lain di sisi yang lain. Tidak jarang, Abu Nuwas mendapat teguran, peringatan, bahkan hukuman karena seringkali menegejek khalifah, dan tanpa malu-malu, meminum khamr.

Ada apa dibalik ke-zindikannya?
Zindik-nya Abu Nuwas, sebagaimana yang lainnya, dipicu oleh gerakan nasionalismenya yang menentang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas non-muslim dan non-Arab. Gerakan ini dimunculkan dengan melihat negara atau pemerintah bukan milik orang Arab saja, melainkan milik seluruh masyarakat muslim. Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan dengan orang non-Arab, atau sebaliknya. Gerakan ini bahkan mendapat angin segar manakala revolusi dilancarkan oleh, semisal Ibn Zubair, kaum Khawarij, Syi’ah, Asy’ad dan Yazid bin Muhlab.

Dengan rasa nasionalismenya yang tinggi, ia menjadi banyak dikagumi oleh kelompok-kelompok minoritas karena hanya ia yang memperjuangkan dengan konsisten terhadap kelompok minoritas. Jiwa multikulturalnya sangat tepat dimana ia tinggal dalam suatu negara yang multikultur, negara yang kaya akan keragaman, seperti halnya negara kita, Indonesia. Makanya kenapa ia dikatakan sebagai generasi pertama yang menebarkan jantung pluralisme, generasi keduanya adalah Gus Dur.

Jadi, zindik-nya Abu Nuwas tidak mengarah pada persoalan teologis melainkan hanya tertawaannya terhadap agama. Ia tidaklah kafir, tetapi hanya bersikap kritis dan elegan terhadap agama. Syauqi Dhaif mencatat bahwa segala pertentangannya terhadap agama merupakan wujud dari krisis pribadinya menghadapi problem kejiwaannya, pluralitas agama dan masyarakat pada masanya yang materialistis. Zindiq-nya, demikian, ekspresif (hanya di lisan) tidak sampai ke dalam batin atau keyakinan di hati. Ia bukanlah seorang zindiq melainkan pelawak saja.

Tuhan dan Abu Nuwas

Tuhan bagi Abu Nuwas merupakan pengetahuan dan pengalaman. Mencegah yang haram dan melakukan yang halal, menurutnya adalah berbuat dosa. Hal ini karena mencegah apa yang diharamkan oleh Tuhan, berarti menolak yang halal dari-Nya itu sendiri, yaitu keluar dari hukum Tuhan.

Penolakan ini menjadikan manusia setara di hadapan Tuhan, sehingga ia tidak lagi tunduk pada syari’at karena ia adalah sumber syari’at itu sendiri. Dengan begitu hilanglah larangan-larangan dan muncullah kebebasan bagi manusia. Manusia ketika menafikan yang haram menjadi sama dengan Tuhan, karena di antara dirinya dan apa yang dinafikan tersebut terdapat hubungan (ketergantungan), di mana yang ternafikan menjadi pengikut dan penafi (orang yang menafikan) menjadi ang diikuti.

Bisa dipahami bahwa Abu Nuwas adalah seorang yang amat sangat kritis dalam berpikir. Tidak heran banyak orang yang mengagumi kekritisannya dan banyak pula orang yang jengkel dengan gaya lawaknya yang kadang-kadang membuat orang jengkel. Ia menyatakan bahwa manusia mampu membuat syari’at sendiri tanpa mempertimbangkan hukum Tuhan, karena pada dasarnya menghindari larangan Tuhan berarti menghindari pula apa yang halal dari Tuhan. Mengharamkan sesuatu berarti sama saja dengan kelakuan Tuhan. Oleh karena itu seringkali ia minum khamr dengan tanpa ragu karena ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat bermanfaat dari khamr baginya yaitu dapat menghilangkan rasa bimbang dan ia yakin bahwa dengan minum khamr ia berani bebas, bebas dalam hal berpikir, bertindak dan mengkritik.

Ini yang sangat menarik dari dirinya yaitu walaupun ia pelawak dan suka slengean tapi daya kritisnya sangat radikal. Tidak heran banyak orang yang dipusingkan dengan kelakuan dan gaya berpikirnya, sampai-sampai pernah disidang pun ia tetap lolos karena pandainya ngeles. Tidak jauh berbeda dengan sosok seorang Gus Dur yang amat pandai tapi suka ngelawak. Kemudian persamaannya lagi adalah ada pada semangat kedua-duanya dalam menyebarkan pemikiran multikultural. Maka dari itu Gus Dur belakangan disebut sebagai bapak demokrasi dan bapak multikultural.

Ketika Abu Nuwas manyatakan bahwa bagiku agamaku dan bagi orang lain agama mereka, tidak saja telah terjadi primordialisme pemahaman umum tentang agama, akan tetapi juga primordialisme pemahaman umum tentang Tuhan. Hanya saja, kesamaan manusia dengan Tuhan menuntun untuk menghilangkan atau membunuh-Nya.

Persamaan ini termasuk juga penolakan alam sebagaimana adanya, atau sebagaimana yang diciptakan oleh Tuhan. Penolakan model ini berhenti pada batas-batas kehancurannya, tidak sampai pada munculnya rekonstruksi pada dirinya. Dari sini, membangun dunia baru menuntut untuk dilakukan pembunuhan terhadap Tuhan dengan berdasarkan pada dunia atau hal-hal lama. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa naik hingga ke tingkat Tuhan kecuali dengan menghancurkan alam yang kekal, membunuh Tuhan dengan menggunakan prinsip-prinsip alam ini. Tuhanlah yang mempersilahkan manusia untuk menciptakan alam baru. Hal ini karena manusia tidak mampu menciptakan kecuali dengan kekuasaannya yang sempurna, dan kekuasaan ini tidak ada kecuali apabila realitas yang dominan, yaitu Tuhan itu dibunuh.

Dengan ini, artinya bisa dipahami soal pendapat umum yang menyatakan bahwa berpikir tentang Tuhan itu adalah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Karena dengan menciptakan pemikiran ini, telah sah untuk dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada Tuhan yang diri-Nya merupakan segala-galanya.

Substansi dari apa yang dikemukakan oleh Abu Nuwas adalah perlunya kebebasan dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragama. Pemikiran ini berangkat dari pengalaman historis yang dialaminya, dimana masyarakat ’Abbasiyah harus menganut agama Islam yang berideologikan sunni. Padahal, realitas masyarakatnya adalah sangat plural, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang etnis dan agama, Arab dan non-Arab, Yahudi, Nashrani, Zoroaster, Hindu, Budha dan lain-lain.

Ini sangat sesuai sekali dengan realitas di negara kita. Oleh karena itu saya sepakat bahwa Pancasila adalah asas yang paling tepat, karena terdapat sistem yang mampu mengakomodir hak-hak dari masing-masing pemeluk agama dan aliran. Banyak sekali hambatan untuk memperjuangkan Pancasila itu untuk menebarkan virus-virus multikultural dan nasionalisme agar masyarakat mampu mengapresiasi segala bentuk ekspresi yang jelas bukan untuk merugikan orang lain, akan tetapi tetap sama-sama menjaga hubungan sosial agar terciptanya kedamaian dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Karena belakangan ini banyak isu-isu yang menyatakan bahwa negara Indonesia harus menegakkan syari’at Islam agar lebih baik.

Oke syari’at Islam, akan tetapi harus dipahami seutuhnya bahwa dalam pengambilan hukum itu harus dissuaikan dengan realitas sosial yang ada, karena para ulama fiqh terdahulu pun dalam mengambil hukum itu berdasarkan konteks yang ada pada masanya. Yang terjadi di Indonesia, masih banyak orang-orang memperjuangkan penegakan syari’at Islam akan tetapi mereka belum bisa menyesuaikan dalam realitasnya. Mereka masih merujuk pada hukum Islam secara tekstual yang tertera dalam al-Quran dan Hadits.

Al-Quran dan Hadits adalah sebuah ekspresi budaya Arab pada waktu itu, jadi kalau kita tidak mampu untuk membaca realitas sosial di sekeliling kita, jangan harap hukum Islam yang diterapkan akan sesuai dan berjalan dengan lancar. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam penerapan hukum-hukum itu.

Begitu Abu Nuwas dituduh zindiq karena banyak melecehkan Tuhan, mempelajari ilmu perdukunan, dan ilmu-ilmu kuno dari India dan Roma, serta hilang kepercayaan dan menembus batas-batas agama, ia justru gencar mempelajarinya. Disaat orang mengharamkan filsafat karena mengarah pada kekufuran, ia justru menghalalkannya sehingga ia menjalani kehidupan zindiq karena berfilsafat.

Demikianlah sepak terjang Abu Nuwas dalam perjalanan menuju hakikat hidup dan dalam memahami agama. Banyak hal yang saya pelajari darinya bahwa agama bukanlah urusan manusia dan agama adalah sebuah misteri yang harus disadari bersama. Tak ada yang mampu untuk mengukur seberapa jauh hubungan spiritual manusia dengan Tuhan hanya dengan ukuran syari’at, melainkan dengan bagaimana hubungan manusia itu dengan manusia lain. Bukankah orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Itu adalah hakikat yang sebenarnya bahwa Abu Nuwas secara syari’at ia mungkin bisa dibilang ngawur akan tetapi ia adalah pembawa pesan moral Islam yang amat hakiki. Agama bukan hanya kegiatan ceremonial belaka, melainkan harus teraktualisasikan kepada kehidupan sosial dalam masyarakat.

Dengan cerdiknya, ia mampu menyadarkan manusia bahwa agama tidak untuk dijadikan alat politik, bahkan alat untuk menindas. Itu sangat menyimpang dengan ajaran agama yang hakiki. Agama sangat menganjurkan manusia agar selalu berkembang dan maju, kalau justru malah sebaliknya, yaitu agama malah dijadikan alat untuk menjumudkan orang, sungguh pemahaman yang amat tolol.

Ini salah itu benar, ini halal itu haram, ia iman—ia kafir, itu sangatlah perilaku yang sangat tidak dianjurkan oleh agama. Tidak ada hukum Tuhan, melainkan ajaran Tuhan tentang bagaimana hidup dengan rukun dan damai serta dinamis. Jangan mengklaim sesuatu kalau kita belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Menghargai dan dihargai adalah prinsip-prinsip agama yang sangat relevan untuk zaman dan masa apa pun. Karena dengan kita selalu mencoba memahami realitas yang terjadi, maka akan terwujud suatu pola pikir yang tidak jumud. Kritis adalah kunci dari awal sebuah jiwa yang multikultur, moderat, dan toleran.

Kamis, 11 Maret 2010

FILM CA BAU KAN SARAT AKAN NILAI-NILAI KEADILAN GENDER, MULTIKULTURALISME, NASIONALISME, DAN MORALITAS

Oleh: Ibnu Abdillah

Tinung adalah seorang perempuan yang terlahir dari orang miskin dan lingkungan miskin. Ketika itu negara Indonesia sedang dijajah oleh Belanda.
Siti Nurhayati adalah nama lengkap dari Tinung. Ia dinikahi oleh seorang laki-laki yang kemudian setelah nikah laki-laki itu meninggal dunia entah kenapa. Ia sangat terpukul dengan kejadian seperti itu dan disaat itu pula ia terpaksa mengambil jalan gelap untuk yaitu cau bau kan di Klijodo untuk mengatasi masalah perekonomiannya. Karena kecantikan dan tubuhnya yang seksi, ia mampu mengumpulkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Pertemuannya dengan cinta sejati
Di sela-sela hiruk pikuk keramaian di Batavia pada waktu itu, ada seorang pengusaha yang bernama Tan Peng Lian. Ia adalah seorang yang kaya raya sampai-sampai seringkali ia menjatuhkan harga diri para pejabat kolonial (tapi orang Indonesia) melalui pembelian lukisan-lukisan tokoh bersejarah di dunia.

Tinung sedang hamil, entah siapa bapak yang sebenarnya. Akan tetapi bibinya selalu membawa-bawanya ke tempat biasa yaitu keramaian di Batavia. Meskipun demikian ia hanya melihat bibinya menari dan bernyanyi sambil merayu para pejabat dan pengusaha dengan goyangannya yang mampu membuat mata para lelaki mata keranjang keluar.

Tan Peng Lian menghampiri bibinya Tinung, ia menikmati suara dan goyangannya yang indah itu. Kemudian ia melirik ke sebelahnya, dilihatnya ada sosok perempuan yang sedang hamil. Kemudian ia bertanya kepada bibinya Tinung tentang perempuan itu dan seketika itu juga langsung dijawab “dia ponakanku” katanya.

Selang berapa lama, Tinung kembali lagi untuk menghibur dengan suara dan tarian-tarian. Ternyata rupanya ia sudah belajar dan berlatih selama ia hamil sehingga suara dan goyangannya mampu menggoda mata para pejabat dan pengusaha pada waktu itu. Dan ketika itu sang pengusaha yang kaya raya itu melihat si Tinung yang makin cantik dan seksi. Lalu Tan Peng Lian menyuruh sahabatnya untuk membawa Tinung ke rumahnya.

Tinung diperlakukan layaknya seorang permaisuri pada saat di rumahnya Tan Peng Lian sehingga kecantikannya makin menggoda yang kemudian Tan Peng Lian memperlakukannya layaknya seperti istri dengan penuh perasaan.

Semakin lama rasa cinta yang tulus pun semakin bersemi pada sepasang laki-laki dan perempuan itu, sampai pada akhirnya Tinung mempunyai anak lagi. Dan semenjak Tinung tinggal bersama Tan Peng Lian, ia tidak lagi bekerja pada kerjaannya yang dulu.

Persaingan bisnis

Karena Tan Peng Lian terlalu kaya dalam bisnisnya sehingga ada yang merasa teraingi. Pada suatu malam, gudang barang-barang milik Tan Peng Lian ada yang mencoba membekarnya namun sebelum sempat dibakar, sahabatnya Tan Peng Lian membunuh pelaku bayaran itu lalu kemudian sahabatnya membakar gudang itu. Lalu dengan cepat Tan Peng Lian merancang sesuatu untuk membalikkan serangan itu kepada lawan, meski dengan cara Transaksional.

Persidangan pun dilakukan. Tapi, sebelum hakim memvonis Tan Bun Hiap (mudah-mudahan ndak salah ngetik), ternyata ada orang yang menemukan tempat rahasia milik Tan Peng Lian yaitu tempat dimana ia membuat uang palsu, oleh karena itu ia akhirnya divonis penjara.

Selama Tan Peng Lian ditahan, isue yang tersebar adalah ia sudah meninggal dunia padahal ia masih hidup. Tinung terbawa isue karenanya ia merasa sangat kehilangan seseorang yang dicintainya. Namun nasib tragis meninmpa Tinung yaitu setelah Belanda berhasil disingkirkan oleh Jepang, ia dibawa oleh tentara Jepang dan ia diperkosa secara bergilir. Ia merasa sngat tertekan sampai pada akhirnya ia mendekan di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Nasionalisme

Tan Peng Lian kembali ke Batavia setelah masa hukumannya selesai. Akan tetapi ketika ia tiba di rumah temannya yang kemudian temannya menginformasikan berita tentang kondisi negara Indonesia, ia merasa agak heran, dan puncak kekecewaannya adalah ketika ia mendengar berita yang lebih pahit tentang Tinung, seorang yang dicintainya itu.

Kemudian dengan semangat nasionalisme untuk memerdekakan negara Indonesia, Tan Peng Lian melakukan bisnis penyelundupan senjata untuk melawan Jepang. Dan ternyata perjuangannya tidak sia-sia, artinya Indonesia terbebas dari segala macam penjajahan, serta yang lebih penting adalah ia bisa berkumpul lagi dengan seseorang yang sangat dicintainya itu.
Kematiannya pun dengan cara yang ironis, yaitu terkena racun yang terdapat di dalam durian yang pada waktu itu sebagai contoh untuk bisnis dengan relasinya. Lagi-lagi penghianatan terjadi.

Dari kisah bersejarah ini, dapat diambil hikmah sebagai berikut:
1. Ternyata memang penduduk pribumi Indonesia adalah semua pendatang sehingga tidak ada perbedaan dalam hak dan kewajiban. Tan Peng Lian meskipun orang Tionghoa tapi karena rasa cintanya terhadap Indonesia sehingga ia begitu gigih untuk memerdekakan Indonesia. Dan memang sejarahnya pun begitu.

2. Film ini menggambarkan karakter kepemimpinan Indonesia sekarang, bahwa penghianatan dan politik transaksional selalu mewarnai perpolitikan negara kita.

3. Pelacur itu tidak bisa kita pandang sebelah mata, artinya ada sebab-sebab yang harus kita pahami dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghargai mereka (pelacur) karena tidak semua pelacur itu hanya karena nafsu, tapi lebih dari itu adalah mereka memperjuangkan hidup mereka karena faktor ekonomi untuk mempertahankan mereka dan keluarganya.

Selasa, 09 Maret 2010

Jangan Salahkan Kami

Oleh: Ibnu Abdillah

Ada sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh manusia pada umumnya yaitu misteri Tuhan yang kian hari kian kompleks bahkan jarang sekali orang yang menyadari itu, bahkan sekarang tidak hampir terkikis wacana-wacana itu.

Kita diharuskan melek social, artinya realitas sosial dalam dinamika kehidupan manusia semakin lama semakin kompleks. Kalau manusia mampu memahami realitas sosial secara penuh, saya kira tidak akan ada ketimpangan-ketimpangan atau ketidak seimbangan antaranya. Namun relitasnya sangatlah jauh dari idealnya dinamika sosial yang harmonis. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan, ketidak seimbangan, dan anarkisme dengan mengatasnamakan agama, etnis, suku, bahkan politik.

Saya menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai misteri Tuhan yang harus saya imani. Pertama adalah munculnya berbagai agama-agama baru atau kepercayaan-kepercayaan baru yang lain dengan agama dan kepercayaan yang sudah ada sejak 20 abad yang lalu. Setiap agama dan kepercayaan menawarkan surga dan neraka, hampir tidak saya temukan agama dan kepercayaan yang tanpa menyingung kedua hal tersebut. Ini pun menjadi suatu kewajaran bahwa setiap agama pasti menawarkan sesuatu yang manis tentunya dengan menetapkan aturan-aturan yang harus dilalui oleh manusia ketika menginginkan surga. Begitupun sebaliknya, harus adanya konsekuensi pahit ketika manusia tidak sesuai dengan aturan-aturan yang dipakai oleh agama tertentu.

Lalu sebenarnya surga dan neraka itu apa? Sehingga banyak penganut agama mengimpikan surga dan menghindari sebisa mungkin untuk mendapatkan neraka ketika wafat nanti. Dan ini pun yang saya katakan sebagai sumber konflik dalam realitas sosial yang kompleks ini.

Agama Adalah Sumber Konflik, Benarkah?
Tujuan diadakannya agama tak lain adalah agar manusia hidup rukun dan damai serta tertib dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Agama adalah agar menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai manusia yang seperti digambarkan oleh al-Qur’an bahwa manusia adalah sebagai pemimpin di muka bumi. Agama sangat memanjakan manusia, terbukti dengan adanya kabar baik yang selalu digambarkan oleh kitabnya. Agama pun selalu memperhatikan manusia agar tidak menyipang dalam berjalan.

Tapi kenapa banyak sekali kekerasan dan konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh agama? Kenapa seringkali agama dijadikan alat politik oleh sebagian orang? Yang kemudin pada akhirnya muncul berbagai masalah-masalah sosial. Sungguh misteri yang harus saya pecahkan sekaligus harus saya imani sebagai manusia yang beragama.

Ini yang kemudian menjadi prasangka buruk pada saya muncul serta merta tanpa sadar, yaitu justru dengan adanya agama menjadi saling klaim dan menimbulkan banyak konflik sosial. Ketegangan-ketegangan dalam realitas sosial banyak disebabkan oleh agama. Lalu masih pantaskah agama harus kita imani sampai kapanpun dan apa pun itu? Saya kira agama tidak perlu kita pegang erat-erat sebagai ajaran yang absolut, yang mutlak, dan harus kita junjung tinggi tanpa memikirkan yang lainnya. Kalau demikian, akan sampai kapankah dan akan seperti apakah realitas sosial manakala agama masih dipegang teguh oleh manusia?

Sungguh menjadi dilema yang sangat kontroversial, artinya makin banyak orang-orang yang menganggap agama sebagai pegangan hidup satu-satunya dan absolut, tapi makin banyak pula konflik-konflik ketegangan sosial yang terjadi? Ini lah misteri Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menghukum manusia yang tidak percaya lagi kepada agama lantaran agama menimbulkan banyak konflik dan ketegangan sosial tidak perbah usai. Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah tidur sehingga mampu melihat manusia secara utuh. Manusia secara utuh dalam arti manusia yang menjadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang telah tersurat dalam kitab suci agama-agama.

Mungkin pembaca tulisan saya semakin tambah bingung karena persoalan-persoalan yang semakin kompleks dalam hidup kita.

Hanya sebagai catatan bahwa agama harus dipahami sebagai rumah kita yang paling nyaman dan damai. Dan harus dipahami juga bahwa tidak ada ajaran yang mutlak, dan tidak ada hukum yang mutlak karena dengan masih mempercayai bahwa agama itu mutlak, maka manusia itu mendustai agama itu sendiri karena tidak mau beriman. Agama bukan saja bergulat pada ceremonial belaka, bahwa agama lebih dari itu yaitu untuk membimbing manusia untuk selalu memikirkan dan mengimani misteri-misteri itu.

Saya berani katakan bahwa agama itu bohong!!! Kalau di depan saya ada orang yang selalu mengaku benar dan selalu mengklaim orang lain salah bahkan kafir dan tidak berhak hidup. Kenapa? Karena itu yang harus kita bunuh, yaitu paradigma dalam memahami agama itu sendiri. Sampai pada akhirnya adalah kembali saya katakan bahwa agama mempunyai pesan sosial yang jarang sekali dijumpai dan disadari oleh manusia.

Berbicara dengan lantang tentang konsep ketuhanan untuk menyalahkan keyakinan orang lain adalah sesuatu yang sangat buruk. Kita boleh saja berdakwah, namun dengan cara-cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip sosial dan kemanusiaan. Wacana tentang ketuhanan mestinya harus menjadi kebijakan personal tanpa mempengaruhi orang lain bahkan memaksa orang lain. Jangan jadikan agama sebagai alat untuk berkuasa, menguasai manusia lain, entah itu dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik, karena dengan demikian tidak akan selesai sampai kapanpun bahkan prediksi saya kalau wacana agama terus dikumandangkan dibarengi dengan rasa ingin berkuasa, maka kiamat akan semakin dekat!!!

Tidak ada kata harus dan mutlak, keadaan mampu menjadi misteri sewaktu-waktu dalam kondisi apa pun. Realitas sosial yang semakin kompleks, membutuhkan manusia-manusia yang mampu menebar pesan-pesan yang paling hakiki dari ajaran agama. Karena semakin banyak orang yang memakan orang, memakan teman, memakan saudara sendiri, bahkan memakan orang tuanya sendiri. Artinya ketika kepentingan-kepentingan untuk selalu menguasai semakin banyak, maka agama akan menjadi ceremonial belaka yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Harus ada penyeimbang untuk menebar kebijaksanaan dan kedamaian atas dasar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Jangan salahkan kami. Itu adalah salah satu dari rintihan hati dari seseorang yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan yang barangkali sering kita jumpai, yaitu berbedanya jenis kelamin dengan kelakuan bahkan jiwa seseorang. Misalnya, waria, lesby, dan gay. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan yang sangat kejam oleh sejumlah orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan mereka dengan mengatasnamakan agama atau yang lainnya. Mereka dipukuli dan dicemoohi oleh orang-orang yang saya pikir tidak mempunyai hati.
Mungkin ini juga sering kita sadari bahwa kita terkadang menganggap jijik orang-orang yang berbeda itu. Mereka tidak beres, mereka menyalahi kodrat, maka dari itu wajib untuk dibunuh, barangkali kita pernah memiliki stigma-stigma itu.

Apakah mereka bukan manusia hanya karena perbedaan dalam keumuman orang? Sangat tidak rasional sekali. Karena manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama, sama-sama suci dan polos. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka bisa begitu? Apakah kita langsung mempunyai stigma-stigma negatif ketika melihat sosok mereka yang berbeda? Kemudian dari tigma-stigma yang terbangun itu menyebabkan kita menjauhi mereka bahkan mempunyai niat untuk menyingkirkan mereka dari muka bumi karena tidak pantas untuk bernafas di muka bumi ini? Kalau demikian adanya, maka kita tidak jauh dari seekor binatang yang hanya bisa makan dan minum serta mengikuti hawa nafsunya tanpa berpikir dan merenung.

Harus kita sadari bahwa ini adalah juga salah satu misteri Tuhan yang kemudian harus kita imani. Lalu bagaimana cara mengimaninya? Caranya yaitu dengan menyadari bahwa mereka adalah manusia. Kemudian harus kita lihat dengan jeli apa yang melatar belakanginya sehingga begitu. Dengan demikian, saya yakin stigma-stigma negatif yang terbangun ketika baru menjumpai orang-orang yang berbeda itu akan runtuh. Karena justru kitalah yang harus mengaca diri bahwa baik-buruk, bagus-jelek itu semata-mata hanya karena keadaan. Yang harus kita hadapi adalah bagaimana menciptakan keadaan yang membuat manusia itu mersa yakin akan kemanusiaannya, bukan malah membuat keadaan yang secara tidak sadar akan kehilangan rasa kemanusiaan kita.

Jangan salahkan kami. Itu pun selalu dirintih oleh penganut agama yang memang terdiskriminasi oleh kelompok mayoritas agama tertentu. Tekanan, ancaman, bahkan tindakan anarkis seringkali dialami oleh mereka yang minoritas. Saya semakin heran, apakah agama itu hubungan sekelompok manusia dengan Tuhan? Apakah agama itu hubungan suatu negara dengan Tuhan? Jawabannya Tidak.

Agama adalah hubungan spiritual dengan Tuhan atau dengan apa yang menjadi keyakinan mereka. Sama sekali manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya karena itu adalah hal yang sangat tidak nyata. Hanya ada beberapa kriteria orang baik, yaitu mampu menjadi manfaat untuk kemaslahatan manusia. Seperti yang telah dikemukakan oleh Nabi bahwa orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi umat manusia.

Maka jangan pernah menyalahkan mereka (orang-orang yang berbeda) karena pada dasarnya manusia menginginkan hidup damai, tapi karena sesuatu hal sehingga melakukan hal-hal itu.
Kemudian sebenarnya persoalan agama harus kita sadari sepenuhnya bahwa ajaran yang terdapat dalam teks-teks itu adalah suatu bentuk ekspresi kebudayaan pada suatu daerah tertentu. Jadi pada intinya kita tidak bisa serta merta tekstual dalam menerjemahkan teks-teks itu, yang penting tidak menghilangkan pesan-pesan moral dalam agama itu sendiri. Keadilan sosial adalah suatu bentuk keberimanan dari setiap penganut agama untuk diperjuangkan. Bukan malah saling klaim untuk membenarkan diri sendiri. Keyakinan terhadap Tuhan adalah persoalan personal karena setiap orang mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda tentang Tuhan bebserta ajarannya. Masih banyak persoalan-persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih utama untuk diprioritaskan. Mau sampai kapan kita bergulat dalam persoalan-persoalan agama yang sesungguhnya itu adalah persoalan yang bisa dikatakan tidak kelihatan karena berbicaranya tentang ketuhanan.

Jangan salahkan kami ketika mempunyai keyakinan yang berbeda, jangan salahkan kami ketika mempunyai perbedaan dari keumuman orang, karena sesungguhnya kami adalah manusia yang berhak untuk berekspresi dan kami juga tahu harus mengapresiasi, selagi masih dalam batas-batas kewajaran. Itu adalah kata-kata yang selalu terlontar dari mulut orang-orang yang selalu mendapatkan tekanan dari oknum-oknum tertentu hanya karena perbedaan. Harusnya kita sadari sepenuhnya bahwa pesan-pesan moral dalam keberagamaan adalah kebaikan untuk kemaslahatan umat. Selagi mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan bahkan mereka malah mampu memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat manusia, terus apa yang menjadi persoalan. Tidak ada yang harus kita persoalkan. Yang harus kita persoalkan adalah bagaimana caranya menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Jumat, 26 Februari 2010

Mafia Hukum Sebagai Transpolitika

Oleh: Ibnu Abdillah

Dengan adanya hukum diharapkan akan memberikan efek jera kepada pelaku tindak pidana dan memberikan peringatan dan perhatian kepada kita semua agar tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Namun, apa jadinya ketika keadian itu bukan untuk semua orang? Artinya hanya sebagian orang yang di hukum secara adil dan tidak sedikit pelaku tindak pidana yang tidak dihukum secara adil sesuai dengan undang-undang.

Sudah sekian banyak dan sekian lama hal seperti ini mendarah-daging di negeri kita ini. Maling ayam bahkan maling cokelat yang seharga Rp. 2000,00,- divonis secara tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Di sisi lain, kasus korupsi dan suap miliaran bahkan triliunan rupiah justru tetap melenggang bebas sambil duduk di kursi yang empuk di rumahnya. Sementara Presiden yang bertugas sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan malah tak henti-hentinya mengeluh dan menyusun retorika untuk menarik hati rakyat. Di sisi lain juga rakyat selalu dibingungkan dengan informasi yang beredar lewat surat kabar atau media elektronik.
Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi ekstra kampus seperti PMII, GMNI, HMI, KAMI dan lain-lain turun ke jalan untuk meneriakkan suara rakyat yang begitu jenuh dengan sistem yang berbelit-belit sampai-sampai tidak ada batasan yang jelas antara baik dan buruk serta benar dan salah. Sementara hukum di pemerintahan seakan menjadi permainan, seperti ada dalang di balik dalang.

Salah satu contoh yang sederhana yaitu kasus Prita yang juga ikut meramaikan media. Berbagai organisasi dan elemen masyarakat menggalang dana untuk membantu kasus Prita sebagai korban dari mafia hukum yang dinamakan dengan koin peduli Prita. Itu juga sekaligus menunjukkan simbol bahwa betapa rendahnya hukum di negara kita sampai-sampai hanya di ukur pakai uang logam yang berkisar antara Rp.100,00,- hingga Rp.1000,00,-. Penegak hukum dinilai buta dalam menyikapi persoalan ini.

Namun, mafia hukum tidak berhenti sampai disitu. Di susul dengan hasil penyelidikan dari badan mafia hukum kepada rutan (rumah tahanan) Pondok Jambu yang mengkandang Artalita Suryani yang akrab dipanggil Ayin (kasus suap), ternyata penjara bagaikan istana yang begitu megah dan mewah. Sementara di rutan lain terdapat napi-napi yang berdesak-desakan di dalam sel yang sangat kotor bahkan kamar mandinya pun tidak ada airnya alias mampet. Ada salah satu napi yang mengatakan “saya kalau buang air besar itu di kantong plastik lalu di buang karena wc-nya mampet”. Terdengar begitu sangat menjijikan, namun itulah realita hukum dan keadilan di negeri kita.

Ribuan kritikan dan aksi demonstrasi dari mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat ternyata hanya sebagai permainan dan tontonan dari para petinggi pemerintah. Apakah perlu seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia turun semua ke jalan untuk menuntut agar segera diselesaikan persoalan-persoalan yang mencoreng negara kita ini? Ataukah harus dengan tangan rakyat langsung yang menyelesaikannya secara ramai-ramai?
Ini adalah salah satu jerit hati dari orang-orang yang peduli terhadap nasib bangsa akan tetapi bingung harus dengan cara apa untuk memngingatkan mereka (para pejabat). Seolah ini adalah sandiwara yang entah dalangnya siapa.

Belum lagi kasus bail out Bank Century masih dalam proses pemeriksaan. 6,7 triliun rupiah entah pergi kemana dan untuk apa. Kalau saja uang itu digunakan untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan, ini bisa sedikit mengangkat persoalan-persoalan terutama di bidang pendidikan dan ekonomi rakyat.
Ada yang mengatakan, kita ini krisis kader politik. Saya kira justru kita ini penuh dengan kader-kader politik sehingga saling berebut kekuasaan dan pada akhirnya siapa yang menduduki kekuasaan, maka itu yang bersiap-siap akan menghadapi serangan-seranagan dari lawan politiknya yang kalah dalam pemilihan.

Jadi, ketika politik mengintervensi hukum, prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, dan kebersihan hukum diambil alih oleh prinsip-prinsip kelicikan dan kekotoran politik; ketika paradigma citra menguasai hukum, maka prinsip-prinsip kesemuan, kepalsuan, dan kedustaan citra menggantikan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan hukum; ketika politik menjajah ekonomi, prinsip-prinsip persaingan bebas, sportivitas, dan legalitas ekonomi digantikan oleh prinsip-prinsip intrik, teror dan mafia-mafia politik; ketika ekonomi mengendalikan agama, maka prinsip kebenaran, kezuhudan, dan kesucian agama diambil alih oleh prinsip-prinsip ilusi, gemerlap, dan profanitas komoditi.

Berbagai pengetahuan, gagasan, ide, teknologi tipu daya, dusta, kesemuan, kepalsuan, topeng-topeng, digelar dalam wacana politik (pengadilan palsu, pemilihan semu, simulakrum teror) dalam rangka menciptakan kesadaran palsu dalam masyarakat politik. Mesin-mesin industri kesadaran telah memproduksi berjuta kesadaran palsu yang menjauhkan masyarakat dari kebenaran politik.
Maka dari itu, mafia hukum adalah bagian dari transpolitika yang perlu kita pahami. Permasalahan yang mendasar dari luluh lantaknya perpolitikan dan hukum di negeri kita ini adalah karena politikus dan penegak hukumnya bukanlah orang-orang yang memiliki mentalitas dan moralitas sebagai negarawan. Mereka mungkin lebih cocok menjadi pedagang karena selalu menjual keringat rakyat demi kesejahteraan dirinya, mereka mungkin cocok menjadi selebritis karena selalu berhias diri dan mencari-cari muka di media, mereka mungkin lebih cocok menjadi penipu karena selalu menipu rakyat, mereka mungkin cocok menjadi perampok karena selalu merampok uang rakyat dan hak rakyat, mereka mungkin cocok menjadi pencuri karena selalu mencuri perhatian rakyat demi kekuasaan dirinya, mereka yang demikian itu sangat tidak cocok untuk menjadi negarawan.