Kamis, 11 Maret 2010

FILM CA BAU KAN SARAT AKAN NILAI-NILAI KEADILAN GENDER, MULTIKULTURALISME, NASIONALISME, DAN MORALITAS

Oleh: Ibnu Abdillah

Tinung adalah seorang perempuan yang terlahir dari orang miskin dan lingkungan miskin. Ketika itu negara Indonesia sedang dijajah oleh Belanda.
Siti Nurhayati adalah nama lengkap dari Tinung. Ia dinikahi oleh seorang laki-laki yang kemudian setelah nikah laki-laki itu meninggal dunia entah kenapa. Ia sangat terpukul dengan kejadian seperti itu dan disaat itu pula ia terpaksa mengambil jalan gelap untuk yaitu cau bau kan di Klijodo untuk mengatasi masalah perekonomiannya. Karena kecantikan dan tubuhnya yang seksi, ia mampu mengumpulkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Pertemuannya dengan cinta sejati
Di sela-sela hiruk pikuk keramaian di Batavia pada waktu itu, ada seorang pengusaha yang bernama Tan Peng Lian. Ia adalah seorang yang kaya raya sampai-sampai seringkali ia menjatuhkan harga diri para pejabat kolonial (tapi orang Indonesia) melalui pembelian lukisan-lukisan tokoh bersejarah di dunia.

Tinung sedang hamil, entah siapa bapak yang sebenarnya. Akan tetapi bibinya selalu membawa-bawanya ke tempat biasa yaitu keramaian di Batavia. Meskipun demikian ia hanya melihat bibinya menari dan bernyanyi sambil merayu para pejabat dan pengusaha dengan goyangannya yang mampu membuat mata para lelaki mata keranjang keluar.

Tan Peng Lian menghampiri bibinya Tinung, ia menikmati suara dan goyangannya yang indah itu. Kemudian ia melirik ke sebelahnya, dilihatnya ada sosok perempuan yang sedang hamil. Kemudian ia bertanya kepada bibinya Tinung tentang perempuan itu dan seketika itu juga langsung dijawab “dia ponakanku” katanya.

Selang berapa lama, Tinung kembali lagi untuk menghibur dengan suara dan tarian-tarian. Ternyata rupanya ia sudah belajar dan berlatih selama ia hamil sehingga suara dan goyangannya mampu menggoda mata para pejabat dan pengusaha pada waktu itu. Dan ketika itu sang pengusaha yang kaya raya itu melihat si Tinung yang makin cantik dan seksi. Lalu Tan Peng Lian menyuruh sahabatnya untuk membawa Tinung ke rumahnya.

Tinung diperlakukan layaknya seorang permaisuri pada saat di rumahnya Tan Peng Lian sehingga kecantikannya makin menggoda yang kemudian Tan Peng Lian memperlakukannya layaknya seperti istri dengan penuh perasaan.

Semakin lama rasa cinta yang tulus pun semakin bersemi pada sepasang laki-laki dan perempuan itu, sampai pada akhirnya Tinung mempunyai anak lagi. Dan semenjak Tinung tinggal bersama Tan Peng Lian, ia tidak lagi bekerja pada kerjaannya yang dulu.

Persaingan bisnis

Karena Tan Peng Lian terlalu kaya dalam bisnisnya sehingga ada yang merasa teraingi. Pada suatu malam, gudang barang-barang milik Tan Peng Lian ada yang mencoba membekarnya namun sebelum sempat dibakar, sahabatnya Tan Peng Lian membunuh pelaku bayaran itu lalu kemudian sahabatnya membakar gudang itu. Lalu dengan cepat Tan Peng Lian merancang sesuatu untuk membalikkan serangan itu kepada lawan, meski dengan cara Transaksional.

Persidangan pun dilakukan. Tapi, sebelum hakim memvonis Tan Bun Hiap (mudah-mudahan ndak salah ngetik), ternyata ada orang yang menemukan tempat rahasia milik Tan Peng Lian yaitu tempat dimana ia membuat uang palsu, oleh karena itu ia akhirnya divonis penjara.

Selama Tan Peng Lian ditahan, isue yang tersebar adalah ia sudah meninggal dunia padahal ia masih hidup. Tinung terbawa isue karenanya ia merasa sangat kehilangan seseorang yang dicintainya. Namun nasib tragis meninmpa Tinung yaitu setelah Belanda berhasil disingkirkan oleh Jepang, ia dibawa oleh tentara Jepang dan ia diperkosa secara bergilir. Ia merasa sngat tertekan sampai pada akhirnya ia mendekan di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Nasionalisme

Tan Peng Lian kembali ke Batavia setelah masa hukumannya selesai. Akan tetapi ketika ia tiba di rumah temannya yang kemudian temannya menginformasikan berita tentang kondisi negara Indonesia, ia merasa agak heran, dan puncak kekecewaannya adalah ketika ia mendengar berita yang lebih pahit tentang Tinung, seorang yang dicintainya itu.

Kemudian dengan semangat nasionalisme untuk memerdekakan negara Indonesia, Tan Peng Lian melakukan bisnis penyelundupan senjata untuk melawan Jepang. Dan ternyata perjuangannya tidak sia-sia, artinya Indonesia terbebas dari segala macam penjajahan, serta yang lebih penting adalah ia bisa berkumpul lagi dengan seseorang yang sangat dicintainya itu.
Kematiannya pun dengan cara yang ironis, yaitu terkena racun yang terdapat di dalam durian yang pada waktu itu sebagai contoh untuk bisnis dengan relasinya. Lagi-lagi penghianatan terjadi.

Dari kisah bersejarah ini, dapat diambil hikmah sebagai berikut:
1. Ternyata memang penduduk pribumi Indonesia adalah semua pendatang sehingga tidak ada perbedaan dalam hak dan kewajiban. Tan Peng Lian meskipun orang Tionghoa tapi karena rasa cintanya terhadap Indonesia sehingga ia begitu gigih untuk memerdekakan Indonesia. Dan memang sejarahnya pun begitu.

2. Film ini menggambarkan karakter kepemimpinan Indonesia sekarang, bahwa penghianatan dan politik transaksional selalu mewarnai perpolitikan negara kita.

3. Pelacur itu tidak bisa kita pandang sebelah mata, artinya ada sebab-sebab yang harus kita pahami dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghargai mereka (pelacur) karena tidak semua pelacur itu hanya karena nafsu, tapi lebih dari itu adalah mereka memperjuangkan hidup mereka karena faktor ekonomi untuk mempertahankan mereka dan keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar