Oleh: Ibnu Abdillah
Ada sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh manusia pada umumnya yaitu misteri Tuhan yang kian hari kian kompleks bahkan jarang sekali orang yang menyadari itu, bahkan sekarang tidak hampir terkikis wacana-wacana itu.
Kita diharuskan melek social, artinya realitas sosial dalam dinamika kehidupan manusia semakin lama semakin kompleks. Kalau manusia mampu memahami realitas sosial secara penuh, saya kira tidak akan ada ketimpangan-ketimpangan atau ketidak seimbangan antaranya. Namun relitasnya sangatlah jauh dari idealnya dinamika sosial yang harmonis. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan, ketidak seimbangan, dan anarkisme dengan mengatasnamakan agama, etnis, suku, bahkan politik.
Saya menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai misteri Tuhan yang harus saya imani. Pertama adalah munculnya berbagai agama-agama baru atau kepercayaan-kepercayaan baru yang lain dengan agama dan kepercayaan yang sudah ada sejak 20 abad yang lalu. Setiap agama dan kepercayaan menawarkan surga dan neraka, hampir tidak saya temukan agama dan kepercayaan yang tanpa menyingung kedua hal tersebut. Ini pun menjadi suatu kewajaran bahwa setiap agama pasti menawarkan sesuatu yang manis tentunya dengan menetapkan aturan-aturan yang harus dilalui oleh manusia ketika menginginkan surga. Begitupun sebaliknya, harus adanya konsekuensi pahit ketika manusia tidak sesuai dengan aturan-aturan yang dipakai oleh agama tertentu.
Lalu sebenarnya surga dan neraka itu apa? Sehingga banyak penganut agama mengimpikan surga dan menghindari sebisa mungkin untuk mendapatkan neraka ketika wafat nanti. Dan ini pun yang saya katakan sebagai sumber konflik dalam realitas sosial yang kompleks ini.
Agama Adalah Sumber Konflik, Benarkah?
Tujuan diadakannya agama tak lain adalah agar manusia hidup rukun dan damai serta tertib dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Agama adalah agar menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai manusia yang seperti digambarkan oleh al-Qur’an bahwa manusia adalah sebagai pemimpin di muka bumi. Agama sangat memanjakan manusia, terbukti dengan adanya kabar baik yang selalu digambarkan oleh kitabnya. Agama pun selalu memperhatikan manusia agar tidak menyipang dalam berjalan.
Tapi kenapa banyak sekali kekerasan dan konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh agama? Kenapa seringkali agama dijadikan alat politik oleh sebagian orang? Yang kemudin pada akhirnya muncul berbagai masalah-masalah sosial. Sungguh misteri yang harus saya pecahkan sekaligus harus saya imani sebagai manusia yang beragama.
Ini yang kemudian menjadi prasangka buruk pada saya muncul serta merta tanpa sadar, yaitu justru dengan adanya agama menjadi saling klaim dan menimbulkan banyak konflik sosial. Ketegangan-ketegangan dalam realitas sosial banyak disebabkan oleh agama. Lalu masih pantaskah agama harus kita imani sampai kapanpun dan apa pun itu? Saya kira agama tidak perlu kita pegang erat-erat sebagai ajaran yang absolut, yang mutlak, dan harus kita junjung tinggi tanpa memikirkan yang lainnya. Kalau demikian, akan sampai kapankah dan akan seperti apakah realitas sosial manakala agama masih dipegang teguh oleh manusia?
Sungguh menjadi dilema yang sangat kontroversial, artinya makin banyak orang-orang yang menganggap agama sebagai pegangan hidup satu-satunya dan absolut, tapi makin banyak pula konflik-konflik ketegangan sosial yang terjadi? Ini lah misteri Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menghukum manusia yang tidak percaya lagi kepada agama lantaran agama menimbulkan banyak konflik dan ketegangan sosial tidak perbah usai. Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah tidur sehingga mampu melihat manusia secara utuh. Manusia secara utuh dalam arti manusia yang menjadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang telah tersurat dalam kitab suci agama-agama.
Mungkin pembaca tulisan saya semakin tambah bingung karena persoalan-persoalan yang semakin kompleks dalam hidup kita.
Hanya sebagai catatan bahwa agama harus dipahami sebagai rumah kita yang paling nyaman dan damai. Dan harus dipahami juga bahwa tidak ada ajaran yang mutlak, dan tidak ada hukum yang mutlak karena dengan masih mempercayai bahwa agama itu mutlak, maka manusia itu mendustai agama itu sendiri karena tidak mau beriman. Agama bukan saja bergulat pada ceremonial belaka, bahwa agama lebih dari itu yaitu untuk membimbing manusia untuk selalu memikirkan dan mengimani misteri-misteri itu.
Saya berani katakan bahwa agama itu bohong!!! Kalau di depan saya ada orang yang selalu mengaku benar dan selalu mengklaim orang lain salah bahkan kafir dan tidak berhak hidup. Kenapa? Karena itu yang harus kita bunuh, yaitu paradigma dalam memahami agama itu sendiri. Sampai pada akhirnya adalah kembali saya katakan bahwa agama mempunyai pesan sosial yang jarang sekali dijumpai dan disadari oleh manusia.
Berbicara dengan lantang tentang konsep ketuhanan untuk menyalahkan keyakinan orang lain adalah sesuatu yang sangat buruk. Kita boleh saja berdakwah, namun dengan cara-cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip sosial dan kemanusiaan. Wacana tentang ketuhanan mestinya harus menjadi kebijakan personal tanpa mempengaruhi orang lain bahkan memaksa orang lain. Jangan jadikan agama sebagai alat untuk berkuasa, menguasai manusia lain, entah itu dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik, karena dengan demikian tidak akan selesai sampai kapanpun bahkan prediksi saya kalau wacana agama terus dikumandangkan dibarengi dengan rasa ingin berkuasa, maka kiamat akan semakin dekat!!!
Tidak ada kata harus dan mutlak, keadaan mampu menjadi misteri sewaktu-waktu dalam kondisi apa pun. Realitas sosial yang semakin kompleks, membutuhkan manusia-manusia yang mampu menebar pesan-pesan yang paling hakiki dari ajaran agama. Karena semakin banyak orang yang memakan orang, memakan teman, memakan saudara sendiri, bahkan memakan orang tuanya sendiri. Artinya ketika kepentingan-kepentingan untuk selalu menguasai semakin banyak, maka agama akan menjadi ceremonial belaka yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Harus ada penyeimbang untuk menebar kebijaksanaan dan kedamaian atas dasar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Jangan salahkan kami. Itu adalah salah satu dari rintihan hati dari seseorang yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan yang barangkali sering kita jumpai, yaitu berbedanya jenis kelamin dengan kelakuan bahkan jiwa seseorang. Misalnya, waria, lesby, dan gay. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan yang sangat kejam oleh sejumlah orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan mereka dengan mengatasnamakan agama atau yang lainnya. Mereka dipukuli dan dicemoohi oleh orang-orang yang saya pikir tidak mempunyai hati.
Mungkin ini juga sering kita sadari bahwa kita terkadang menganggap jijik orang-orang yang berbeda itu. Mereka tidak beres, mereka menyalahi kodrat, maka dari itu wajib untuk dibunuh, barangkali kita pernah memiliki stigma-stigma itu.
Apakah mereka bukan manusia hanya karena perbedaan dalam keumuman orang? Sangat tidak rasional sekali. Karena manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama, sama-sama suci dan polos. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka bisa begitu? Apakah kita langsung mempunyai stigma-stigma negatif ketika melihat sosok mereka yang berbeda? Kemudian dari tigma-stigma yang terbangun itu menyebabkan kita menjauhi mereka bahkan mempunyai niat untuk menyingkirkan mereka dari muka bumi karena tidak pantas untuk bernafas di muka bumi ini? Kalau demikian adanya, maka kita tidak jauh dari seekor binatang yang hanya bisa makan dan minum serta mengikuti hawa nafsunya tanpa berpikir dan merenung.
Harus kita sadari bahwa ini adalah juga salah satu misteri Tuhan yang kemudian harus kita imani. Lalu bagaimana cara mengimaninya? Caranya yaitu dengan menyadari bahwa mereka adalah manusia. Kemudian harus kita lihat dengan jeli apa yang melatar belakanginya sehingga begitu. Dengan demikian, saya yakin stigma-stigma negatif yang terbangun ketika baru menjumpai orang-orang yang berbeda itu akan runtuh. Karena justru kitalah yang harus mengaca diri bahwa baik-buruk, bagus-jelek itu semata-mata hanya karena keadaan. Yang harus kita hadapi adalah bagaimana menciptakan keadaan yang membuat manusia itu mersa yakin akan kemanusiaannya, bukan malah membuat keadaan yang secara tidak sadar akan kehilangan rasa kemanusiaan kita.
Jangan salahkan kami. Itu pun selalu dirintih oleh penganut agama yang memang terdiskriminasi oleh kelompok mayoritas agama tertentu. Tekanan, ancaman, bahkan tindakan anarkis seringkali dialami oleh mereka yang minoritas. Saya semakin heran, apakah agama itu hubungan sekelompok manusia dengan Tuhan? Apakah agama itu hubungan suatu negara dengan Tuhan? Jawabannya Tidak.
Agama adalah hubungan spiritual dengan Tuhan atau dengan apa yang menjadi keyakinan mereka. Sama sekali manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya karena itu adalah hal yang sangat tidak nyata. Hanya ada beberapa kriteria orang baik, yaitu mampu menjadi manfaat untuk kemaslahatan manusia. Seperti yang telah dikemukakan oleh Nabi bahwa orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi umat manusia.
Maka jangan pernah menyalahkan mereka (orang-orang yang berbeda) karena pada dasarnya manusia menginginkan hidup damai, tapi karena sesuatu hal sehingga melakukan hal-hal itu.
Kemudian sebenarnya persoalan agama harus kita sadari sepenuhnya bahwa ajaran yang terdapat dalam teks-teks itu adalah suatu bentuk ekspresi kebudayaan pada suatu daerah tertentu. Jadi pada intinya kita tidak bisa serta merta tekstual dalam menerjemahkan teks-teks itu, yang penting tidak menghilangkan pesan-pesan moral dalam agama itu sendiri. Keadilan sosial adalah suatu bentuk keberimanan dari setiap penganut agama untuk diperjuangkan. Bukan malah saling klaim untuk membenarkan diri sendiri. Keyakinan terhadap Tuhan adalah persoalan personal karena setiap orang mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda tentang Tuhan bebserta ajarannya. Masih banyak persoalan-persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih utama untuk diprioritaskan. Mau sampai kapan kita bergulat dalam persoalan-persoalan agama yang sesungguhnya itu adalah persoalan yang bisa dikatakan tidak kelihatan karena berbicaranya tentang ketuhanan.
Jangan salahkan kami ketika mempunyai keyakinan yang berbeda, jangan salahkan kami ketika mempunyai perbedaan dari keumuman orang, karena sesungguhnya kami adalah manusia yang berhak untuk berekspresi dan kami juga tahu harus mengapresiasi, selagi masih dalam batas-batas kewajaran. Itu adalah kata-kata yang selalu terlontar dari mulut orang-orang yang selalu mendapatkan tekanan dari oknum-oknum tertentu hanya karena perbedaan. Harusnya kita sadari sepenuhnya bahwa pesan-pesan moral dalam keberagamaan adalah kebaikan untuk kemaslahatan umat. Selagi mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan bahkan mereka malah mampu memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat manusia, terus apa yang menjadi persoalan. Tidak ada yang harus kita persoalkan. Yang harus kita persoalkan adalah bagaimana caranya menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bersama.
Kita diharuskan melek social, artinya realitas sosial dalam dinamika kehidupan manusia semakin lama semakin kompleks. Kalau manusia mampu memahami realitas sosial secara penuh, saya kira tidak akan ada ketimpangan-ketimpangan atau ketidak seimbangan antaranya. Namun relitasnya sangatlah jauh dari idealnya dinamika sosial yang harmonis. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan, ketidak seimbangan, dan anarkisme dengan mengatasnamakan agama, etnis, suku, bahkan politik.
Saya menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai misteri Tuhan yang harus saya imani. Pertama adalah munculnya berbagai agama-agama baru atau kepercayaan-kepercayaan baru yang lain dengan agama dan kepercayaan yang sudah ada sejak 20 abad yang lalu. Setiap agama dan kepercayaan menawarkan surga dan neraka, hampir tidak saya temukan agama dan kepercayaan yang tanpa menyingung kedua hal tersebut. Ini pun menjadi suatu kewajaran bahwa setiap agama pasti menawarkan sesuatu yang manis tentunya dengan menetapkan aturan-aturan yang harus dilalui oleh manusia ketika menginginkan surga. Begitupun sebaliknya, harus adanya konsekuensi pahit ketika manusia tidak sesuai dengan aturan-aturan yang dipakai oleh agama tertentu.
Lalu sebenarnya surga dan neraka itu apa? Sehingga banyak penganut agama mengimpikan surga dan menghindari sebisa mungkin untuk mendapatkan neraka ketika wafat nanti. Dan ini pun yang saya katakan sebagai sumber konflik dalam realitas sosial yang kompleks ini.
Agama Adalah Sumber Konflik, Benarkah?
Tujuan diadakannya agama tak lain adalah agar manusia hidup rukun dan damai serta tertib dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Agama adalah agar menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai manusia yang seperti digambarkan oleh al-Qur’an bahwa manusia adalah sebagai pemimpin di muka bumi. Agama sangat memanjakan manusia, terbukti dengan adanya kabar baik yang selalu digambarkan oleh kitabnya. Agama pun selalu memperhatikan manusia agar tidak menyipang dalam berjalan.
Tapi kenapa banyak sekali kekerasan dan konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh agama? Kenapa seringkali agama dijadikan alat politik oleh sebagian orang? Yang kemudin pada akhirnya muncul berbagai masalah-masalah sosial. Sungguh misteri yang harus saya pecahkan sekaligus harus saya imani sebagai manusia yang beragama.
Ini yang kemudian menjadi prasangka buruk pada saya muncul serta merta tanpa sadar, yaitu justru dengan adanya agama menjadi saling klaim dan menimbulkan banyak konflik sosial. Ketegangan-ketegangan dalam realitas sosial banyak disebabkan oleh agama. Lalu masih pantaskah agama harus kita imani sampai kapanpun dan apa pun itu? Saya kira agama tidak perlu kita pegang erat-erat sebagai ajaran yang absolut, yang mutlak, dan harus kita junjung tinggi tanpa memikirkan yang lainnya. Kalau demikian, akan sampai kapankah dan akan seperti apakah realitas sosial manakala agama masih dipegang teguh oleh manusia?
Sungguh menjadi dilema yang sangat kontroversial, artinya makin banyak orang-orang yang menganggap agama sebagai pegangan hidup satu-satunya dan absolut, tapi makin banyak pula konflik-konflik ketegangan sosial yang terjadi? Ini lah misteri Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menghukum manusia yang tidak percaya lagi kepada agama lantaran agama menimbulkan banyak konflik dan ketegangan sosial tidak perbah usai. Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah tidur sehingga mampu melihat manusia secara utuh. Manusia secara utuh dalam arti manusia yang menjadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang telah tersurat dalam kitab suci agama-agama.
Mungkin pembaca tulisan saya semakin tambah bingung karena persoalan-persoalan yang semakin kompleks dalam hidup kita.
Hanya sebagai catatan bahwa agama harus dipahami sebagai rumah kita yang paling nyaman dan damai. Dan harus dipahami juga bahwa tidak ada ajaran yang mutlak, dan tidak ada hukum yang mutlak karena dengan masih mempercayai bahwa agama itu mutlak, maka manusia itu mendustai agama itu sendiri karena tidak mau beriman. Agama bukan saja bergulat pada ceremonial belaka, bahwa agama lebih dari itu yaitu untuk membimbing manusia untuk selalu memikirkan dan mengimani misteri-misteri itu.
Saya berani katakan bahwa agama itu bohong!!! Kalau di depan saya ada orang yang selalu mengaku benar dan selalu mengklaim orang lain salah bahkan kafir dan tidak berhak hidup. Kenapa? Karena itu yang harus kita bunuh, yaitu paradigma dalam memahami agama itu sendiri. Sampai pada akhirnya adalah kembali saya katakan bahwa agama mempunyai pesan sosial yang jarang sekali dijumpai dan disadari oleh manusia.
Berbicara dengan lantang tentang konsep ketuhanan untuk menyalahkan keyakinan orang lain adalah sesuatu yang sangat buruk. Kita boleh saja berdakwah, namun dengan cara-cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip sosial dan kemanusiaan. Wacana tentang ketuhanan mestinya harus menjadi kebijakan personal tanpa mempengaruhi orang lain bahkan memaksa orang lain. Jangan jadikan agama sebagai alat untuk berkuasa, menguasai manusia lain, entah itu dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik, karena dengan demikian tidak akan selesai sampai kapanpun bahkan prediksi saya kalau wacana agama terus dikumandangkan dibarengi dengan rasa ingin berkuasa, maka kiamat akan semakin dekat!!!
Tidak ada kata harus dan mutlak, keadaan mampu menjadi misteri sewaktu-waktu dalam kondisi apa pun. Realitas sosial yang semakin kompleks, membutuhkan manusia-manusia yang mampu menebar pesan-pesan yang paling hakiki dari ajaran agama. Karena semakin banyak orang yang memakan orang, memakan teman, memakan saudara sendiri, bahkan memakan orang tuanya sendiri. Artinya ketika kepentingan-kepentingan untuk selalu menguasai semakin banyak, maka agama akan menjadi ceremonial belaka yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Harus ada penyeimbang untuk menebar kebijaksanaan dan kedamaian atas dasar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Jangan salahkan kami. Itu adalah salah satu dari rintihan hati dari seseorang yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan yang barangkali sering kita jumpai, yaitu berbedanya jenis kelamin dengan kelakuan bahkan jiwa seseorang. Misalnya, waria, lesby, dan gay. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan yang sangat kejam oleh sejumlah orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan mereka dengan mengatasnamakan agama atau yang lainnya. Mereka dipukuli dan dicemoohi oleh orang-orang yang saya pikir tidak mempunyai hati.
Mungkin ini juga sering kita sadari bahwa kita terkadang menganggap jijik orang-orang yang berbeda itu. Mereka tidak beres, mereka menyalahi kodrat, maka dari itu wajib untuk dibunuh, barangkali kita pernah memiliki stigma-stigma itu.
Apakah mereka bukan manusia hanya karena perbedaan dalam keumuman orang? Sangat tidak rasional sekali. Karena manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama, sama-sama suci dan polos. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka bisa begitu? Apakah kita langsung mempunyai stigma-stigma negatif ketika melihat sosok mereka yang berbeda? Kemudian dari tigma-stigma yang terbangun itu menyebabkan kita menjauhi mereka bahkan mempunyai niat untuk menyingkirkan mereka dari muka bumi karena tidak pantas untuk bernafas di muka bumi ini? Kalau demikian adanya, maka kita tidak jauh dari seekor binatang yang hanya bisa makan dan minum serta mengikuti hawa nafsunya tanpa berpikir dan merenung.
Harus kita sadari bahwa ini adalah juga salah satu misteri Tuhan yang kemudian harus kita imani. Lalu bagaimana cara mengimaninya? Caranya yaitu dengan menyadari bahwa mereka adalah manusia. Kemudian harus kita lihat dengan jeli apa yang melatar belakanginya sehingga begitu. Dengan demikian, saya yakin stigma-stigma negatif yang terbangun ketika baru menjumpai orang-orang yang berbeda itu akan runtuh. Karena justru kitalah yang harus mengaca diri bahwa baik-buruk, bagus-jelek itu semata-mata hanya karena keadaan. Yang harus kita hadapi adalah bagaimana menciptakan keadaan yang membuat manusia itu mersa yakin akan kemanusiaannya, bukan malah membuat keadaan yang secara tidak sadar akan kehilangan rasa kemanusiaan kita.
Jangan salahkan kami. Itu pun selalu dirintih oleh penganut agama yang memang terdiskriminasi oleh kelompok mayoritas agama tertentu. Tekanan, ancaman, bahkan tindakan anarkis seringkali dialami oleh mereka yang minoritas. Saya semakin heran, apakah agama itu hubungan sekelompok manusia dengan Tuhan? Apakah agama itu hubungan suatu negara dengan Tuhan? Jawabannya Tidak.
Agama adalah hubungan spiritual dengan Tuhan atau dengan apa yang menjadi keyakinan mereka. Sama sekali manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya karena itu adalah hal yang sangat tidak nyata. Hanya ada beberapa kriteria orang baik, yaitu mampu menjadi manfaat untuk kemaslahatan manusia. Seperti yang telah dikemukakan oleh Nabi bahwa orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi umat manusia.
Maka jangan pernah menyalahkan mereka (orang-orang yang berbeda) karena pada dasarnya manusia menginginkan hidup damai, tapi karena sesuatu hal sehingga melakukan hal-hal itu.
Kemudian sebenarnya persoalan agama harus kita sadari sepenuhnya bahwa ajaran yang terdapat dalam teks-teks itu adalah suatu bentuk ekspresi kebudayaan pada suatu daerah tertentu. Jadi pada intinya kita tidak bisa serta merta tekstual dalam menerjemahkan teks-teks itu, yang penting tidak menghilangkan pesan-pesan moral dalam agama itu sendiri. Keadilan sosial adalah suatu bentuk keberimanan dari setiap penganut agama untuk diperjuangkan. Bukan malah saling klaim untuk membenarkan diri sendiri. Keyakinan terhadap Tuhan adalah persoalan personal karena setiap orang mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda tentang Tuhan bebserta ajarannya. Masih banyak persoalan-persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih utama untuk diprioritaskan. Mau sampai kapan kita bergulat dalam persoalan-persoalan agama yang sesungguhnya itu adalah persoalan yang bisa dikatakan tidak kelihatan karena berbicaranya tentang ketuhanan.
Jangan salahkan kami ketika mempunyai keyakinan yang berbeda, jangan salahkan kami ketika mempunyai perbedaan dari keumuman orang, karena sesungguhnya kami adalah manusia yang berhak untuk berekspresi dan kami juga tahu harus mengapresiasi, selagi masih dalam batas-batas kewajaran. Itu adalah kata-kata yang selalu terlontar dari mulut orang-orang yang selalu mendapatkan tekanan dari oknum-oknum tertentu hanya karena perbedaan. Harusnya kita sadari sepenuhnya bahwa pesan-pesan moral dalam keberagamaan adalah kebaikan untuk kemaslahatan umat. Selagi mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan bahkan mereka malah mampu memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat manusia, terus apa yang menjadi persoalan. Tidak ada yang harus kita persoalkan. Yang harus kita persoalkan adalah bagaimana caranya menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar