Jumat, 14 Mei 2010

PERKEMBANGAN MODERN DI MESIR

Nama : Ibnu Abdillah
NIM : 58410347
Jurusan : PAI

I. Kondisi Sosial, Budaya, Politik dan Keagamaan
Mesir adalah salah satu daerah yang menjadi begian dari kekuasaan Turki Usmani dan berperan sebagai salah satu pusat pengembangan peradaban Islam. Mesir mulai menjadi wilayah Islam pada zaman khalifah Umar ra. Pada tahun 640 M, Mesir ditaklukkan oleh pasukan Amr ibn ’Asy.

Mesir pernah dikuasai oleh dinasti-dinasti kecil pada zaman Bani Abbas, salah satunya adalah Dinasti Fatimiah. Tahun 945 Dinasti Fatimiah berhasil memantapkan diri dari Tunisia dan menguasai beberapa daerah di sekitarnya dan Sisilia. Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Mu’iz yang mempunyai seorang jendral yang cemerlang, yakni Jauhar. Al-Mu’iz mencoba menguasai pusat dunia Islam, Mesir. Setelah persiapan-persiapan matang termasuk propaganda politik, ditopang bencana kelaparan yang hebat di Mesir, Jauhar menerobos kota Kairo Lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan dan menguasai negara itu.
Dinasti Fatimiah adalah dinasti yang menganut faham Syi’ah Ismailiyah. Namun dinasti ini sangat toleran terhadap selain mazhabnya bahkan kepada agama lain. Hal inilah yang menyebabkan mereka dapat menjaga ketertiban dan keamanan negara dan penduduknya. Dengan stabilitas politik dan keagamaan yang mapan, maka aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik. Aktifitas perekonomian ini meliputi pertanian yang ada di sekitar sungai Nil yang subur, yang menghasilkan padi, gandum, tebu, kapas, bawang putih dan bawang merah. Sektor lain yaitu industri dengan produk kain sutra, wol dan sebagainya.
Setelah kekuasaan Fathimiah berakhir, Mesir dikuasai Oleh Mamluk, kemudian dikuasai oleh kekhalifahan Usmani. Ketiga pemerintahan ini bernuansa Islami maka hal ini dapat dikatakan tidak mendapatkan perubahan yang menyolok.

Perubahan dan perkembangan Masyarakat Mesir terlihat nyata setelah adanya pengaruh Barat yaitu selama tiga tahun di bawah kekuasaan Napoleon. (1798- 1801 M). Dengan alasan Ekspedisi dagang Napoleon Bona Parte dapat perebut hati kepala pemerintahan Khalifah Usmani di Mesir. Alasan rasional yang dilontarkan Napoleon adalah menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Khalifah Usmanl Mesir dari rongrongan orang-orang Mamluk yang ingin merebut kekuasaan.

II. Ekspedisi Napoleon dan Ide Modernisnya
Sejarah dunia mencatat bahwa kerajaan-kerajaan Islam pernah mencapai puncak kejayaan, sebagai kekuatan Adi daya yang dapat menguasai benua Eropa. Kejayaan kerajaan Islam Abbasyiah di Baghdad banyak memberikan kontribusi keilmuan bagi masyarakat Barat, sehingga Batar mengalami kemajuan yang berarti di bidang keilmuan, kemajuan itu berlanjut setelah mereka mendapatkan pengaruh dan mengadopsi pemikiran Rasional Averoisme.

Penemuan alat-alat teknologi dan kapal uap serta penemuan benua Amerika oleh Colonbus, menjadikan Barat lebih maju dari negara Islam. Sebaliknya bangsa Arab yang hidup dalam kegemilangan Kerajaan Islam terlena dengan kesenagan dan kejayaannya, sehingga mengakibatkan kemundura di bidang politik, ekonomi militer, bahkan di bidang ilmu pengetahuan. Kerajaan Islam Usmani mengalami kejayaan terpukul mundur, begitu juga kerajaan Safawi dan Monghul. Kemunduran itu semakin terasa ketika kerajaan-kerajaan Islam berada di bawah peneterasi Barat.
A. Riwayat Hidup Napoleon
Nama Napoleon Bona Parte amat termasyur di dunia. Beliau dilahirkan pada tahun 1769 M, di Ajaccio, Carcica Italia. Putra dari Carlo dan Letiza Romalio Bonaparte. Napoleon Bona Parte sudah mendapatkan pendidikan militersejak masih belia, bi Brienne, dan di Perancis. Beliau adalah seorang para ahli di bidang alteleri. Di dalam Enciclopedia Americana tercatat: Pada tahun 1778, Napoleon Bona Paerte yang berusia 9 tahun serta kakaknya Joseph berusia 10 tahun,memasuki pendidikan di The Oration College, Autun Perancis. Tiga bulan kemudian merka mengikuti pendidikan pada The Militerry School di Brienne dengan beasiswa dari Louis XVI. Karena kehebatannya di bidang Mate-matika Napoleon dikirim mengikuti latihan militer lanjutan di Ecole Militaire Paris dan menamatkan pendidikannya disini pada tahun 1784 M. Pada tahun 1791 Napoleon sudah berpangkat letnan kolonel. 25 Kearifannya berperang selama terjadi

Revolusi Prancis melanjutkannya ke jenjang pangkat Brigadir Jenderal di tahun 1793, pada usianya 24 tahun ia berhasil memimpin penyerbuan ke Italia dan beberapa negara Eropah lainnya. Prestasinya melonjak lagi ketika ia menduduki jabatan sebagai Konsul pertama Republik Prancis tahun 1799-1804, kemudian ia menjadi Kaisar Prancis yang memerintah secara diktator di tahun 1804-1815.

B. Napoleon dan Gerakannya.
Mesir adalah satu wilayah subur yang menjadi rebutan para penguasa di jaman itu. Letak setrategis Mesir tepatnya di daerah Bulan sabit, yang menjadi daerah perlintasan san dagang Hindia dan Eropa melalui Laut Merah. Lintas dagang ke Italia melalui Laut Tengah yang berdekatan dengan Bizantium.

Ekspansi Eropa pada abad ke -17 merupakan suatu bentuk baru yang dimulai dengan perundingan Eropah dan pemerintahan Usmani, guna membentuk aliansi menghadapi Inggris. Kecerdikan politik seperti ini berjalan dengan baik. Aliansi ini akhirnya berubah menjadi suatu fakta perdagangan yang memberikan hak-hak istimewa kepada orang Eropah terutama Prancis untuk berniaga di daerah kekuasaan Usmani (dikenal dengan Kapitulasi 1535). Orang-orang Prancis dilindungi keselamatan jiwanya dan hartanya juga kebebasan agamanya.
Rasyid yang terletak di sebelah Timurnya dikuasai, pada 21 Juli tentera Napoleon sampai kedaerah Piramid dekat Kairo, pertempuran terjadi di sini, kaum maklumat yang menguasai Mesir tak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon, mereka lari ke Cairo, di tempat ini kaum Mamluk mendapat simpati dan sokongan dari orang-orang Mesir, akhirnya mereka lari ke daerah Mesir Selatan. Pada tanggal 22 Juli 1798 Napoleon sudah menguasai Mesir setelah tiga minggu mendarat di pelabuhan Alexandria.

Penguasaan terhadap Mesir ini merupakan usaha Napoleon untuk memutuskan komunikasi antara Inggris di barat dan India di Timur, disamping itu Prancis perlu memasarkan industri mereka. Ambisi pribadi Napoleon Bonaparte untuk menguasai kerajaan besar, sebagaimana penguasaan Alexander the Great dari Macedonia menguasai Eropah dan Asia, menjadi pendorong utama baginya untuk mengadakan ekpedisi ke Mesir.Ambisi Napoleon ini terungkap antara lain karena kegemaranya membaca buku-buku tentang Alexander.

Pada masa kedatangan Napoleon ini, masyarakat Mesir terbagai dua kelompok yaitu : Muslim Turki dan Muslim Arab. Jika di analisa dari keadaan ini maka secara politis rakyat Mesir dengan mudah dapat dipengaruhi oleh Napoleon. Sebenarnya pada mulanya Napoleon diserahi tugas untuk memimpin operasi militer ke Inggris, Prancis berusaha mematahkan dominasi Inggris pada peta politik dan ekonomi internasional, namun Napoleon berkesimpulan operasi militer itu akan berhasil bila Perancis dapat menguasai jalur perdagangan Inggris, ia lalu mengalihkan rencana dan kemudian mengadakan invasi ke Mesir sekaligus menjadikanya sebagai basis kekuatan untuk meluaskan daerah ke bagian Timur, Invasi ini dilakukan dengan berpura -pura melindungi para pedangan Perancis dari perlakuan yang tidak baik yang dilakukan para penguasa terhadap mereka (Lokal mis rule).

Penetrasi Prancis ini telah berkembang dengan cepat. Napoleon ke Mesir bukan hanya untuk membawa tentera. Dalam rombongan ini terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita, diantara mereka itu terdapat 16 ahli dalam berbagai bidang ilmu pengethuan. Napoleon juga membawa dua set alt pencetakan huruf lain, Arab dan Yunani. Ekspedisi ini bukan semata-mata untuk kepentingan militer tetapi juga untuk kepentingan ilmiah. Di Mesir dibentuk suatu lembaga ilmiah, bernama Institud’ Aqypte yang mempunyai empat cabang : Bahgian ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi politik, bahagian Sastra- seni. Publikasi yang dihasilkan lembaga ini bernama La Decade Egyteinne dan majalah Le Courrier d’ Egypte yang diterbitkan oleh Marc Auriel, seorang pengusaha yang turut serta dengan ekspedisi Napoleon.

Menjelang abad ke-18 tampak tanda-tanda kebangkitan kebudayaan Mesir secara spontanitas. Kebangkitan ini merupakan gerakan internal yang muncul dari dalam negeri. Sekelompok penulis Mesir muncul di panggung kebudayaan yang tidak bisa disamakan dengan tiga abad sebelumnya baik dari seg jumlah maupun hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA
Lewis, Bernand, 1988, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu.
Mubarok, Jaih. 2004. Sejarah Peradaban Islam,Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Nasution, Harun, 1985, Islam ditinjau dari Beberapa Aspeknya, Jakarta: UI Press.
Rahimah, Sejarah Islam di Mesir (Makalah), Sumatra Utrara.
Subarman, Munir, 2008, Sejarah Peradaban Islam Klasik, Cirebon: Pangger Publishing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar