Di era yang begitu modern seperti sekarang ini memang menjadikan mahasiswa enggan menghabiskan masa mudanya untuk aktif dalam organisasi gerakan. Begitu kuat pengaruh yang diberikan oleh globalisasi sehingga menjadikan iklim mahasiswa yang penuh romantika bahkan kehidupan yang hedonis.
Aktivis bukan dalam arti bahwa mahasiswa yang selalu demonstrasi manakala ada isu-isu terkait dengan kebijakan pemerintah atau pun ada kasus-kasus korupsi. Tapi yang dimaksud aktivis di sini adalah mahasiswa yang sadar serta mempunyai semangat patriotisme dan nasionalisme. Dengan mempunyai semangat tersebut maka besar kemungkinan banyak mahasiswa yang akan meluangkan waktunya untuk memahami realita sosial dan memikirkan bagaimana caranya agar tidak ada lagi masyarakat yang bodoh dan miskin. Yakinlah ketika semangat-semangat itu ada pada setiap mahasiswa di seluruh Indonesia maka besar kemungkinan banyak perubahan sosial yang lebih maju dan berkeadilan.
Harus kita akui bahwa masih banyak masalah-masalah sosial dan politik dalam bangsa kita. Bagaimana tidak, negeri yang kaya akan sumber daya alam ini justru malah negeri ini termasuk negeri yang miskin. Logika yang tidak masuk akal sama sekali. Oleh karena itu lah dibutuhkan dialektika dan kepedulian dari para kaum muda terdidik untuk memikirkan hal itu. Kalau kaum mudanya juga tidak peduli akan nasib bangsa ini, maka siapa yang akan menolong masyarakat Indonesia yang masih terpuruk? Apakah kita hanya menyerahkan kepada Tuhan bahwa mereka sudah dijamin oleh Tuhan dan suatu saat nanti akan tertolong nasibnya? Jika demikian adanya, sungguh sempit pemikiran seperti itu.
Yang menjadi semakin miris adalah ketika mahasiswa malah banyak yang terjebak ke dalam kondisi buruk yang justru kondisi itu secara tidak sadar sudah menjajah mentalnya. Mental mahasiswa yang seharusnya mental perjuangan untuk memperbaiki sistem yang tidak adil, sekarang sudah menjadi mental penikmat (konsumeris). Harusnya mahasiswa sebagai mahluk rasional dan sadar, mampu merubah keadaan yang buruk itu menjadi keadaan yang lebih baik, bukan malah masuk bahkan larut dalam keadaan buruk itu. Jika saja keadaannya demikian (mahasiswa terjebak pada keadaan buruk) maka tunggulah kehancuran sebuah bangsa dengan ditandai makin banyaknya rakyat miskin dan bodoh.
Terkadang juga kaum tua menjadi penghambat untuk terciptanya budaya aktivis pada mahasiswa. Kaum tua yang menjelma menjadi dosen ketika di kampus selalu akan menyampaikan kriteria mahasiswa yang baik dan itu bukanlah gambaran mahasiswa aktivis yang dimaksud. Selalu saja mengukur baik dan buruk mahasiswa hanya dari kehadiran dalam kelas. Ini bukan hanya membunuh budaya aktivis secara perlahan, tapi lebih dari itu bahwa akan terbentuknya sistem penjajahan yang berubah jenis. Dari penjajahan yang dahulu terjadi perampasan hak rakyat Indonesia oleh bangsa-bangsa asing, sekarang menjadi perampasan hak kaum terdidik dengan bahasa yang lebih romantis sehingga mahasiswa terlena bahkan menikmati dengan penuh rasa syukur. Inilah penjajahan yang masih tersisa.
Harusnya mahasiswa ini didukung oleh kaum tua terdidik (dosen) agar mahasiswa benar-benar sadar akan peran dan tanggung jawabnya. Tanggung jawab dalam konteks bagaimana membuat paradigma baru yang lebih konstruktif untuk bangsa dan negara ini. Jadi sebuah kesalahan besar ketika dosen malah bersikap sebaliknya terhadap aktivis sehingga mahasiswa non aktivis mempunyai anggapan buruk terhadap aktivis.
Refleksi Peristiwa Penjajahan
Seperti yang sudah kita pelajari dalam pelajaran sejarah sejak SD sampai SMA bahkan mungkin sampai sekarang. Mari kita renungi bersama bahwa orang-orang terdidiklah yang mampu memerdekakan Indonesia, seperti Sukarno, Syahrir, Hatta, Tan Malaka, dll. Kaum apatiskah (kaum yang tak mau tahu) yang mampu menggagas kemerdekaan? Tidak !!! Yang hanya konsisten dan peduli adalah para aktivis, dan mereka (para pejuang) adalah aktivis.
Kita ingat Budi Utomo ketika dia melakukan gerakan-gerakan atas dasar penderitaan rakyat. Kita ingat penderitaan Sukarno ketika ia berkali-kali dipenjara bahkan diasingkan karena memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia. Sekarang coba kita lihat di sekitar, berapa kaum buruh yang tenaganya dieksploitasi oleh para kapitalis, berapa banyak para petani dan buruh tani yang masih miskin, berapa banyak praktek-praktek penegakan hukum yang tidak adil. Gayus adalah pemakan uang rakyat besar-besaran tapi apakah sekarang ia mendapatkan hukuman setimpal? Para koruptor yang bercokol di Indonesia masih terlalu banyak. Bangsa Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Inilah tugas kita bersama, kaum muda terdidiklah yang akan menyempurnakan kemerdekaan bangsa ini. Penjajahan dalam bentuk apapun harus kita hilangkan agar cita-cita kemerdekaan Indonesia segera terwujud. Dan sebuah penghianatan yang luar biasa apabila kita sebagai kaum muda yang terdidik tidak mau menyempurnakan kemerdekaan Indonesia yang sudah susah payah diperjuangkan oleh founding father kita.
Bayangkan saja kalau tidak ada mahasiswa, negara ini akan menjadi apa. Artinya masyarakat tak berpendidikan tidak akan mengerti bahwa ada ketidak adilan sistem yang dibuat dan dilakukan oleh pemerintah. Bagaimana para penguasa dengan bebas mengeksploitasi segala potensi yang ada hanya untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan manakala tidak ada kaum muda yang berperan sebagai pengontrol segala kebijakan pemerintah dan sebagai orang yang peduli akan kondisi sekitar. Sekali lagi bahwa mahasiswa lah yang dimaksud kaum muda ini.
Penutup
Semangat patriotisme bukan hanya sekedar diartikan sebagai semangat memperkaya diri dengan keilmuan dan keahlian akan tetapi lebih kepada bagaimana mahasiswa mampu memahami realita sosial di sekitar untuk kemudian memberikan sebuah kontribusi, entah dalam bentuk ide (gagasan) maupun dalam bentuk usaha-usaha konkrit. Karena ini lah tanggung jawab mahasiswa sebagai garda terdepan untuk memikirkan dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Mahasiswa sebagai kaum muda terdidik sudah semestinya juga mampu menjadi kelompok penyadar para pemimpin yang melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan seorang pemimpin bangsa akan terlihat dengan jelas hanya oleh orang-orang terdidik. Oleh karena itu mahasiswalah yang harus menjadi pelopor gerakan penyadaran terhadap pemimpin bangsa yang khilaf.
Sebuah kalimat untuk menutup tulisan ini, saya tarik sekali lagi bahwa kaum muda terdidik adalah kaum yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Maka mustahil adanya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik manakala yang melanjutkan estafet kepemimpinannya adalah kaum yang tidak sadar akan cita-cita kemerdekaan Indonesia, tidak sadar akan bagaimana kondisi sosial yang ada di sekitarnya bahkan Indonesia secara luas, dan tidak sadar akan perkembangan sistem yang kemungkinan besar kapitalis, kolonialis dan imperialis akan bercokol kembali di negara ini untuk mengeksploitasi bangsa Indonesia. Sebuah pendidikan kepemimpinan yang penuh dengan latihan kepekaan terhadap realita sosial dan latihan analisa yang tajam untuk membuat gagasan-gagasan yang konstruktif, hanya terdapat pada organisasi kemahasiswaan yang progresive revolusioner. Oleh karena itu menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk menjadi aktivis yang aktif dalam menyikapi segala persoalan-persoalan yang menyangkut keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar