Selasa, 23 Februari 2010

Tantangan IAIN Cirebon

Oleh : Ibnu Abdillah
Begitu banyak pengorban dan perjuangan yang dilakukan oleh para pejabat kampus STAIN Cirebon untuk mewujudkan lembaga perguruan tinggi dari kelas STAIN menjadi IAIN. Pengorbanan dalam bentuk materi dan tenaga serta pikiran tidaklah menjadi persoalan dan hambatan bagi mereka yang konsisten dalam perjuangannya. Mereka senantiasa memperjuangkan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa yang nanti akan menjadi penggerak masyarakat untuk maju dan mengahadapi tantangan zaman yang selalu berkembang

Kami selaku mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengucapkan banyak terimakasih kepada yang telah tulus ikhlas memperjuangkan terbentuknya IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dengan harapan akan terciptanya perubahan-perubahan yang progresif dalam maningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sesuai dengan cita-cita bangsa, khususnya di lembaga IAIN Syekh Nurjati itu sendiri. Perubahan itu mencakup; sistem perkualiahan, fasilitas, dan pelayanan yang memadai sehingga akan menunjang semangat intelektualitas mahasiswa.

Saya pribadi berharap semoga tidak ada yang saling berebut kekuasaan dalam hal ini. Karena dunia pendidikan jangan dijadikan ajang berpolitik untuk menguasai kampus dan melakukan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan dan kemanusiaan. Seperti halnya penipuan terhadap mahasiswa mengenai pembayaran yang tidak jelas penggunaannya seperti pada kasus STAIN Cirebon.

Mungkin kebanyakan mahasiswa tidak peduli terhadap hal tersebut karena dalam benak kebanyakan mahasiswa adalah bagaimana lulus dengan cepat dan dengan nilai yang membanggakan, tanpa mempedulikan kualitas dirinya dan intelektualitasnya. Ini juga tidak terlepas dari pengaruh lembaga (dosen) dalam menetapkan dan memberikan paradigma kepada mahasiswa. Mahasiswa hanya diberi tahu caranya lulus dengan cepat dengan nilai yang bagus, sehingga esensi dari tujuan mencari ilmu itu sendiri pudar bahkan hilang. Padahal itu sudah menyalahi atau melenceng dari tujuan pendidikan itu. Semakin ketat persaingan dalam dunia kerja, semakin kuat pula penanaman persepsi yang salah dalam pendidikan.

Namun, tidak semua mahasiswa mempunyai pola pikir seperti itu, buktinya tidak sedikit mahasiswa yang mengkritik lembaga terkait pembayaran yang tidak jelas dan tidak relevan dengan kegiatan perkuliahan sehari-hari yang seringkali banyak mahasiswa yang kekurangan kelas dan dosen yang jarang masuk bahkan tidak pernah masuk sama sekali dalam satu semester. Mirisnya lagi, justru mahasiswa yang mengkritik itu termarjinalkan (terpiggirkan) dalam kampus, bahkan sampai ada yang ditodong oleh lembaga untuk pindah kuliah dengan dalih agar kampus tenang tidak ada demonstran. Ini yang kemudian menjadi tantangan IAIN ke depan. Bagaimana caranya agar praktek-praktek seperti itu yang saya pikir itu adalah praktek pembodohan tidak terjadi lagi sehingga akan muncul benih-benih manusia yang berkualitas dari segi intelek dan moralitasnya.

Kemudian persoalan penilaian dalam perkuliahan juga yang saya nilai kurang objektif. Tidak sedikit mahasiswa yang mempunyai hubungan dekat dengan dosen mendapatkan nilai yang bagus walaupun tidak objektif. Dan begitupun sebaliknya, mahasiswa yang tidak mempunyai hubungan dekat dengan dosen mendapatkan nilai yang minim padahal mempunyai wawasan keilmuan lebih pada mata kuliah tersbut.

Begitu banyak persoalan-persoalan STAIN Cirebon sejak dulu. Dari pejabat kampus sampai dosen seringkali merasa seperti Dewa yang hanya merasa benar sendiri dan tidak mau untuk dikritik. Kita semua, khususnya mahasiswa IAIN Syekh Nurjati berharap semua itu tidak terulang lagi karena akan mengotori kesucian IAIN yang seperti baru lahir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar