Senin, 29 November 2010

Masih Relevankah Gerakan Ekstra Parlementer Untuk Sekarang ?

Gerakan ekstra parlementer (parlemen jalanan) bisa dikatakan sebagai cara yang sedikit anarkis untuk menegakkan keadilan. Biasanya gerakan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan basis perlawanan rakyat yang berada di pihak rayat. Ada juga yang memang organisasi ekstra mahasiswa yang hirarkis nasional, yang sengaja dibentuk dan dipermanenkan dengan tujuan agar ada kelompok yang secara konsisten menjadi kelompok pengawas pemerintah.

Memang banyak yang menyadari bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa harus selalu ada sebagai garda terdepan perjuangan rakyat atau garda terdepan penyampai aspirasi rakyat. Namun banyak juga masyarakat yang sudah berpandangan miring terhadap aksi-aksi mahasiswa. Alasan yang mendasar adalah (1) aksi-aksi mahasiswa seringkali menghambat perjalanan pengguna jalan karena biasanya aksi-aksi mahasiswa dengan memblokir jalan, sehingga para pengemudi dari mulai pengemudi umum sampai tukang angkot banyak yang merasa dirugikan. (2) Aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa ternyata banyak yang tidak dirasakan oleh masyarakat manfa’atnya. Entah karena aksinya hanya aksi permainan politik para elit atau yang diperjuangkan masa aksi putus di tengah jalan karena sesuatu hal.

Ini lah yang kemudian menjadikan polemik bagi seluruh gerakan mahasiswa. Di satu sisi ingin benar-benar menegakkan keadilan akan tetapi di sisi lain terkadang malah berbuat tidak adil. Contohnya, dengan aksi-aksi yang atas dasar kepentingan politik atau kepentingan materi sehingga tidak murni memperjuangkan keadilan. Mengatasnamakan gerakan politik dengan gerakan moral. Sehingga dengan demikian kepercayaan masyarakat menjadi kabur terhadap organisasi perlawanan yang berada di sisi rakyat.

Harusnya ini menjadi cerminan bagi para penguasa agar bagaimana caranya tidak perlu lagi ada gerakan-gerakan ekstra parlementer yang merugikan banyak pihak. Tentunya dengan merehabilitasi sistem yang kotor dalam birokrasi. Permainan politik yang hanya menguntungkan kelompok elit politik dan banyak merugikan masyarakat harus segera dimusnahan. Pertarungan partai-partai yang mengatasnamakan perwakilan rakyat dalam sebuah wadah pemuntahan aspirasi rakyat (gedung Dewan) harus benar-benar atas nama rakyat agar tidak bisa di tawar-tawar lagi. Penjualan aspirasi rakyat harus segera dihentikan karena aspirasi rakyat adalah bukan untuk dijadikan bisnis politik akan tetapi amanat yang tidak bisa di tawar dengan apa pun.

Kiranya kalau sistem yang ideal di atas sudah terlaksana, maka tidak akan ada lagi gerakan-gerakan ekstra perlementer. Namun sebaliknya, karena mungkin ini adalah hukum alam yang dalam sejarahnya akan selalu terulang pada sebuah sistem politik. Maka kiranya gerakan ekstra parlementer masih tetap relevan sepanjang tidak ada perubahan pada para birokrat dan politikusnya yang korup dan bejat. Namun perlu dimaknai kembali bahwa parlemen jalanan adalah bagian terkecil dari tindakan penyelesaian masalah yang biasanya masalah itu terjadi dalam birokrasi pemerintahan.

Tuntutan Moral
Tuntutan moral yang sangat mendasar sebenarnya adalah adanya keadilan dan kejujuran. Keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan berpikir. Ini bukan hanya ditekankan kepada para penguasa akan tetapi seluruh elemen masyarakat dari mulai elit politik sampai masyarakat paling bawah. Keadilan berpikir adalah bagaimana manusia itu tidak egois. Artinya di sini harus ada prinsip gotong royong. Seluruh elemen masyarakat harus saling mendukung untuk terciptanya sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan.

Kemudian kejujuran yang dimaksud adalah kejujuran intelektual. Seringkali orang mengatakan bahwa “sudah banyak orang pintar, tapi sedikit sekali orang yang benar”. Ini akibat dari ketidak jujuran orang-orang intelektual yang sekaligus terjun dalam politik. Ada prinsip-prinsip kebenaran yang pada kenyataannya dibohongi oleh diri sendiri. Contoh kecil, korupsi itu melanggar hukum dan merugikan rakyat banyak tapi justru yang mempraktekkan korupsi itu malah orang yang tahu betul bahwa korupsi itu tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Inilah yang saya maksud kebohongan intelektual.

Penutup
Gerakan ekstra parlementer adalah sebuah jalan lain dari proses penyelesaian kasus yang di dalamnya banyak tarik-menarik kepentingan. Ini dianggap baik manakala gerakannya memang benar-benar memperjuangkan kepentingan bersama (baca : kesejahteraan rakyat). Gerakan yang konsisten dan tanpa kepentingan lain adalah sebuah gambaran gerakan moral.

Sebaliknya bahwa ketika gerakan-gerakan dari berbagai basis perlawanan yang hanya mementingkan kepentingan golongan dan kepentingan politik sama sekali tidak dibenarkan dalam hal ini. Artinya lebih baik melakukan hal-hal yang sederhana tapi konkrit bagi masyarakat dari pada mengganggu perjalanan tukang angkot. Seperti misalnya membuat lembaga pendidikan berbasis masyarakat, bakti sosial dan sebagainya. Sebagaimana pada dasarnya para pemuda termasuk juga mahasiswa yang tergabung dalam organisasi adalah bertujuan untuk membentuk jiwa patriotik agar mampu mengatasi segala masalah-masalah pelik dalam masyarakat, bukan malah sebaliknya.

Gerakan ekstra parlementer sudah seharusnya menjadi sebuah gerakan penyadaran yang luar biasa kepada para pemimpin yang kurang berpihak pada rakyat. Bukan malah membuat koloni-koloni baru yang menciptakan masalah baru. Akan tetapi lebih kepada sebuah penyelesaian persoalan.
Maka dengan demikian tidak menutup kemungkinan perubahan akan segera dicapai dengan progress. Adanya golongan-golongan bukan untuk saling menjatuhkan dan mengunggulkan golongan masing-masing namun harus ada interaksi yang membangun. Seperti pada kalimat Bhinneka Tunggal Ika.

Minggu, 03 Oktober 2010

MAHASISWA VS SIAPA?

Oleh : Ibnu Abdillah

Dunia memang akan selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan social dan budaya. Perubahan sosial berarti masyarakat Indonesia sekarang bisa dibilang sedang dalam posisi yang serba bingung; bingung memilih pekerjaan, bingung memilih jalan hidup, bahkan bingung menentukan salah dan benar. Ini terbukti dengan banyaknya pengangguran, perkelahian, bentrok antar kelompok, dan sebagainya. Kemudian perkembangan budaya yang dipengaruhi oleh budaya luar, yang sangat bergantung pada teknologi, yang juga saya pribadi terjebak ke dalamnya, sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter masyarakat. Misalnya saja, televisi yang hampir seluruh kelas masyarakat mampu mengaksesnya, itu sangat berpengaruh besar. Banyaknya tayangan-tayangan yang menggambarkan kehidupan yang mewah dan santai, penuh romantik percintaan, bahkan jarang sekali masyarakat yang mampu menyaring itu.

Sekarang berbicara tentang mahasiswa khususnya mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Rupanya kata ”perjuangan” dan ”perlawanan” yang dijadikan motto oleh mahasiswa pada tahun 1960-2000-an sudah berbeda orientasinya. Kalau mahasiswa dulu, objeknya adalah para penguasa yang lalai menjalankan tugas-tugasnya, seperti Soeharto yang pada tahun 1998 berhasil digulingkan oleh persatuan mahasiswa dari berbagai kampus. Sementara mahasiswa sekarang, objek ”perjuangan” dan ”perlawanan” nya pun sudah mengarah kepada hal-hal yang lebih konkrit untuk dirinya masing-masing. Fakta menunjukkan bahwa dalam waktu belakangan ini sejumlah organisasi kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus, sudah mengalami penurunan. Penurunan dalam hal penguasaan wacana dan gerakan. Karena kabanyakan hanya berkutat pada persoalan internal organisasi masing-masing.

Tetapi kadang-kadang juga mahasiswa malah terjebak pada persoalan antar organisasi kemahasiswaan yang lain, sehingga tidak ada kontribusi yang riil untuk masyarakat. Paling tidak merubah sistem yang akan menyengsarakan rakyat seperti kapitalisme pendidikan misalnya. Kapitalisme pendidikan yang beberapa waktu lalu pernah saya tulis dalam tulisan yang sederhana, tapi mungkin belum banyak dibaca orang lain selain teman-teman dekat saya.

Kemudian selain organisasi kemahasiswaan, mahasiswa khususnya di kampus saya sendiri IAIN Syekh Nurjati Cirebon juga sekarang sudah terjebak dalam pengaruh-pengaruh media (TV). Saya menemukan beberapa fakta menarik tentang hal ini. Pertama, mahasiswa sekarang sudah tidak mempunyai gairah untuk secara serius memperkaya khasanah intelektual, terbukti dengan kejadian meng-copy-paste makalah-makalah yang ada di internet untuk tugas-tugas perkuliahan. Seharusnya paling tidak bahan-bahan materi yang didapatkan dari intrnet hanya dijadikan sebagai referensi yang kemudian kita susun kembali dengan inovasi pemikiran kita. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa sekarang menganggap pendidikan hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan legitimasi dan untuk kesejahteraannya. Budaya membaca buku, diskusi, dan menulis sudah tersingkirkan sehingga tidak heran jika banyak lulusan perguruan tinggi yang bingung akan tujuan hidupnya.

Kedua, memang banyak mahasiswa yang ikut terdaftar ke dalam organisasi kemahasiswaan, tapi ternyata sangat sedikit sekali yang sadar dan prihatin terhadap fenomena degradasi ini. Sehingga ini berdampak pada stagnan-nya organisasi kemahasiswaan. Tujuan organisasi kemahasiswaan yang seharusnya mampu membawa mahasiswa kepada perubahan yang progress dan dinamis, tapi gaungnya pun tak terdengar sama sekali.

Memang kalau ditinjau dari segi kronologis peradaban manusia, grafiknya selalu naik turun. Artinya peradaban manusia tidak semata-mata dari zaman dahulu hingga sekarang grafiknya selalu naik. Misalnya pada zaman Rasulullah Muhammad saw. peradaban manusia jauh meningkat dari pada sebelumnya. Tapi kemudian setelah wafatnya Rasulullah seringkali mengalami penurunan, misalnya bisa kita telaah dengan adanya kejadian perpecahan umat Islam hanya karena kepentingan politik. Sehingga bisa jadi masa mahasiswa sekarang sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Dan kemungkinan akan bangkit kembali di suatu saat nanti.

Lalu yang menjadi polemik adalah; mahasiswa sekarang vs siapa? Kalau tahun-tahun lalu sangat jelas sekali mahasiswa menjadi kelompok yang ditakuti oleh pemerintah/penguasa karena analisis kritis dan keberanian mengkritik mahasiswa terhadap pemerintah sangat kuat. Contoh yang tak akan hilang dari memori sejarah perjuangan mahasiswa adalah pada tahun 1998, yaitu pada saat kepemimpinan Soeharto yang dinilai hanya menyengsarakan rakyat. Penggulingan Soeharto pun tidak sia-sia walaupun harus ada korban yang berjatuhan dari kelompok mahasiswa.

Mahasiswa yang menjadi basis perlawanan terhadap kaum kapitalis dan kaum penguasa yang dzalim sangat has sekali pada waktu itu. Kekompakan dan kebersamaan mahasiswa sangat kuat sehingga tidak mudah dipatahkan oleh penguasa sehebat apa pun. Idealisme mahasiswa yang sangat mahal adalah cerminan konsistensi perjuangan mahasiswa pada waktu itu.

Namun sekarang yang terjadi adalah mahasiswa vs siapa? Tanda tanya besar yang sampai hari ini belum diketemukan. Apakah mahasiswa vs kebodohan? Jawabannya juga tidak bisa di”iya” kan atau di”tidak” kan. Karena esensi dari pemberantasan kebodohan pun sudah digilas oleh hal-hal yang sangat formalis. Kenapa demikian? Karena ada jaminan yang lumayan menjanjikan bagi mahasiswa yang lulus dengan nilai baik dan cepat. Untuk mendapatkan nilai yang baik dan dengan cepat adalah harus selalu mengumpulkan tugas dan hadir di kelas walaupun dosen tidak terlalu bergairah untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa, asalkan mengumpulkan tugas berarti selesai dengan nilai yang baik. Kemudian kehadiran pun di kelas hanya menjadi kegiatan formal peng-absen-an belaka tanpa ada semangat yang kuat untuk benar-benar menggali khasanah keilmuan pada bidangnya masing-masing.

Mahasiswa vs penindas rakyat? Bisa kita pantau bersama bahwa sampai hari ini belum ada aktivitas mahasiswa yang menunjukkan semangat untuk melawan para penindas rakyat. Tidak ada lagi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan mengatasnamakan rakyat. Semuanya hanya mengatasnamakan golongan masing-masing. Ketika sebagian golongan mahasiswa sedang ada yang dikekuasaan, maka dirong-rong oleh golongan mahasiswa yang lain dengan mengatasnamakan idealisme dan kepentingan bersama, tapi ternyata hanya kepentingan golongan. Ini hanyalah contoh kecil tapi sudah membuktikan dengan jelas akan kebingungan perjuangan mahasiswa.
Jadi jawaban atas musuh mahasiswa sampai hari ini belum lah jelas. Terkadang mahasiswa menjadi musuh penguasa, tapi terkadang mahasiswa pun malah berusaha mempertahankan kekuasaan demi kelompoknya masing-masing. Terkadang mahasiswa menjadi musuh kebodohan, tapi terkadang mahasiswa juga malah memperjuangkan dan mempertahankan kebodohan. Terkadang mahasiswa menjadi garda depan untuk membela yang benar, tapi juga seringkali mahasiswa menjadi garda depan untuk mempertahankan kesalahan demi kepentingan pribadi atau golongan.

Memang tidak bisa dipukul rata, bahwa ini hanyalah fenomena yang muncul dipermukaan yang mungkin hanya sebagian mahasiswa. Artinya ada juga mahasiswa yang mungkin masih konsisten dengan perjuangannya, entah perjuangan intelektual maupun perjuangan menumpas ketidak adilan. Tapi mungkin masa-masa sekarang sudah terlalu anjlog penurunannya. Kita bisa ukur perbandingan antara mahasiswa yang aktif dan kreatif dengan mahasiswa yang terjebak dalam kehidupan hedonis. Sangat lah jauh selisihnya. Lihat saja aktivitas mahasiswa yang kebanyakan hanya berpacaran dan berdandan ria. Saya tidak mengatakan itu salah, tapi ternyata style mereka sangat tidak seimbang dengan kapasitas yang mereka miliki.
Budaya kemandirian dan kekreatifan mahasiswa terkadang kalah dengan masyarakat ’awam yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Bisa kita lihat sekarang sudah banyak masyarakat yang kreatif dengan memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.
Diskusi dan menulis sudah banyak yang ditinggalkan oleh mahasiswa. Akibatnya degradasi intelektual menjadi awal mula degradasi moral. Dengan tidak adanya aktivitas yang rutin untuk diskusi, menulis dan membaca mengakibatkan mahasiswa melakukan aktivitas yang imoral. Akibat dari pengaruh teknologi informasi dan budaya yang kurang baik.

Ini adalah auto kritik saya terhadap mahasiswa (termasuk saya) yang dengan harapan bahwa akan ada sebuah peningkatan peradaban mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari yang serba kurang ini menjadi sedikit lebih meningkat. Paling tidak, kegelisahan saya selama ini sedikit demi sedikit bisa hilang dengan cara menuangkan ke dalam tulisan-tulisan kecil ini. Harapan ideal saya tentu terciptanya budaya mahasiswa yang kritis, rajin membaca, berdiskusi, dan menulis, karena hanya dengan begitulah mahasiswa mampu membawa perubahan yang lebih baik. Matinya budaya tersebut semata-mata adalah karena kurangnya keprihatinan mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak mampu menyaring hal-hal baru (negativ) yang masuk dalam kehidupannya sehingga hilanglah keprihatinannya. Keprihatinan terhadap nasibnya nanti, keprihatinan terhadap lingkungan sekitar dan lain sebagainya.

Saya kira perubahan itu bisa datang semudah membalikkan telapak tangan sepanjang semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa kuat. Tapi sebaliknya, perubahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan manakala tangannya sedang sakit. Artinya ketika semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa sudah tersakiti maka jangan harap perubahan akan segera datang. Dalam Islam pun sangat jelas diterangkan lewat al-Qur’an bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau merubahnya. Jadi, pada dasarnya apa yang kita lakukan (baik atau buruk) maka akan berdampak pada diri kita sendiri.

*) Penulis : Mahasiswa Jurusan PAI semester V
Aktif Juga Menulis di Buletin SEPI (Secangkir Kopi)
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Selasa, 17 Agustus 2010

Perjuangan Mahasiswa yang Mengambang

Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dan negara dimasa depan mempunyai peran dan tanggung jawab memelihara, menjaga, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan upaya memberdayakan diri, mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat secara adil dan merata.

Sangat ideal sekali pengertian mahasiswa di atas. Adanya organisasi baik intra maupun ekstra kampus menjadi sarana penunjang agar cita-cita di atas bisa terwujud. Karena dengan berorganisasi secara otomatis mahasiswa di tuntut untuk belajar banyak tentang bagaimana merencanakan, mengatur, dan melaksanakan program-program yang bersifat pengembangan potensi, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain. Sehingga diharapkan mahasiswa benar-benar mampu membawa perubahan yang lebih baik dan konkrit tentunya untuk masyarakat luas.

Oleh karena mahasiswa adalah sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, maka sebuah pemahaman tentang kebangsaan dan kenegaraan adalah suatu keniscayaan. Tidak boleh tidak, mahasiswa harus mampu membaca segala perkembangan zaman agar paradigma pikir dan geraknya bisa tetap relevan. Tentunya objeknya tertuju pada rekonstruksi sosial, artinya mahasiswa harus mampu berkembang secara individual dan mengembangkan masyarakat sekitar agar cita-cita bangsa bisa terwujud.

Dalam hal ini, mau tidak mau mahasiswa harus mampu menjadi agent of control, baik mengamati perkembangan sosial maupun tata kenegaraan agar ketika ada sesuatu yang melenceng dari cita-cita bangsa bisa diantisipasi bersama-sama. Untuk mewujudkannya bisa dengan berkomunikasi secara baik dengan penyelenggara pemerintah maupun dengan cara aksi. Tapi aksi adalah jalan terakhir ketika memang perlu dilakukannya aksi karena mungkin sulit untuk menempuh komunikasi yang baik, entah karena tidak adanya realisasi pemerintah terkait dengan apa yang sudah dibicarakan dengan mahasiswa atau pun karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya komunikasi yang baik.

Aksi juga sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa dikarenakan tidak beresnya birokrasi dalam sebuah pemerintahan yang mana segala kebijakan atau pun tindakan pemerintah bisa merugikan rakyat banyak.
Akan tetapi hari ini, mahasiswa sudah banyak yang masuk angin, kebiasaan mengkritik terkadang tidak mampu memberikan solusi yang konkrit yang bisa dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri. Sehingga ada kalanya pemerintah bosan dan tak mau mendengar lagi aspirasi mahasiswa yang hanya bisa mengkritik tanpa bisa melakukan hal-hal yang nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat banyak. Kemudian, masuk angin mahasiswa sering terjadi karena aksi-aksi kritiknya hanya sekedar bermain untuk kepentingan pribadi atau golongan, bukan atas dasar kepentingan masyarakat banyak. Sehingga sampai hari ini, masyarakat kita belum menemukan ruh perjuangan yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang sangat ideal itu.

Sangat ironis sekali, padahal jumlah mahasiswa makin tahun makin banyak, bahkan jumlah instansi pendidikan makin banyak pula. Tapi, kalau mahasiswa selalu hidup dengan dunianya sendiri, dan masyarakat juga hidup dengan dunianya sendiri, maka tidak akan ada titik terang untuk membuka masyarakat yang adil dan makmur. Karena, mahasiswa ketika terlalu asyik dengan dunianya sendiri, misalnya hanya belajar untuk mendapatkan ijazah tanpa mempunyai cita-cita untuk membangun masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan urusan pribadinya tanpa sedikit pun ikut memikirkan bagaimana caranya bersama-sama membuka mata masyarakat yang masih bodoh dan miskin, jika demikian maka jangan harap perubahan itu datang. Dan juga ketika masyarakat sibuk dengan dunianya sendiri tanpa ada usaha untuk bersama-sama membuka pikiran dan kesadaran akan perlunya sebuah perubahan, maka jangan harap pula mentari yang cerah akan datang.

Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah pengaruh birokrasi kampus yang sangat hegemonik untuk mencetak mahasiswa menjadi kaum buruh yang sangat menguntungkan kapitalis. Misalnya dengan makin meninggikan biaya perkuliahan sementara sistem perkuliahan (penilaian) sangat memprioritaskan kehadiran tanpa memperhatikan kapasitas yang dimiliki mahasiswa, sehingga mahasiswa yang prihatin akan biaya yang cukup besar yang dikeluarkan mahasiswa menjadi sia-sia. Sadar atau pun tidak ini sangat berpengaruh terhadap mental mahasiswa. Mahasiswa lebih memilih untuk aktif masuk perkuliahan walaupun hanya duduk di kelas, dari pada memperbanyak wacana-wacana tentang perubahan di luar.

Hal demikian pun didukung oleh sistem pemerintahan tentang kepegawaian yang sangat mengutamakan mahasiswa yang mempunyai nilai tinggi dan menjamin pegawai-pegawai negeri dalam hal kesejahteraan walaupun menungkung kebebasan seseorang untuk berkembang. Dengan demikian lengkaplah sudah kurungan bagi aktivis-aktivis mahasiswa yang kritis, untuk mereformasi hal-hal yang memang harus direformasi demi perubahan yang lebih baik.

Kapitalisme masih mendarah daging dalam bangsa kita. Mau tidak mau kita pun terkadang terjebak dalam jurang kapitalis, karena contoh kecil tentang pendidikan. Sekarang pendidikan makin dijadikan sebagai investasi bagi para pemodal untuk memperkya dirinya tanpa memperjuangkan masyarakat agar terbebas dari kebodohan dan degradasi moral. Biaya pendidikan makin mahal dan akan tetapi makin memperburuk mental anak bangsa, yakni menjadikan mental anak bangsa menjadi mental buruh, mental pegawai, dan mental ketergantungan (tidak mandiri).

Wacana gerakan mahasiswa selalu diperbaharui, akan tetapi kalau belum ada paradigma gerak yang transformatif maka perubahan pun tidak akan datang dengan segera dan pencerahan akan kehidupan yang sejahtera, adil dan makmur hanya akan menjadi bahan bacaan dan bahan diskusi semata.

Teori memang butuh untuk pisau analisis agar mampu merobek cakrawala yang terdapat pada masyarakat, bangsa dan negara, tapi untuk merobek itu butuh tenaga yang harus dikeluarkan. Jadi ketika sudah mampu berteori seharusnya siap pula untuk bereksperimen karena teori yang hanya diendapkan di dalam pikiran hanya akan manjadikan masyarakat stagnan. Adakalanya pula teori itu dibuat hasil dari praksis. Pada akhirnya teori dan praksis harus sama-sama berdampingan karena itu bukan hanya bahan diskusi dan bahan tulisan semata, tapi lebih konkrit lagi yakni menjadi alat untuk merubah dan membangun masyarakat luas, entah dalam hal ekonomi maupun sumber daya manusia.

Letak geografis negara kita sudah strategis, kaya akan alam dan kebudayaan, sudah semestinya masyarakat kita bisa lebih unggul dari masyarakat bangsa lain. Memang pemerintah sudah menerapkan sedikit tentang pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, tapi entah kenapa degradasi moral dan semangat perjuangan malah semakin hilang dalam tubuh pemuda bangsa.

Budaya politikkah yang salah? Atau memang kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang kurang menghayati ruh perjuangan yang sudah sejak lama diterapkan pada bangsa kita?
Ulama hidup dengan dunianya sendiri, pendidik (guru) hidup dengan dunianya sendiri (tidak mementingkan bagaimana meningkatkan kualitas peserta didik), masyarakat bawah yang juga hidup dengan dunianya sendiri yang egois (tanpa pernah membuka diri bahwa perubahan bisa direbut bersama-sama). Dan pemerintah (para elit politik) hidup dengan dunianya sendiri yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan untuk menjaga kekuasaannya tanpa selalu memikirkan bagaimana bersama-sama membangun masyarakat luas. 
Mungkin budaya ini yang menjadikan masyarakat kita stagnan.

Masalah korupsi makin marak, kebohongan selalu dipertahankan dalam budaya politik bangsa kita demi menjaga kekuasaan, adalah penyakit yang tak kunjung sembuh yang turun temurun selalu diwariskan pada generasi penerus. Tapi bukan sesuatu yang mustahil hal ini bisa diobati. Semua penyakit ada obatnya tinggal sejauh mana usaha kita untuk menemukan obat itu agar bangsa kita sembuh dari penyakit kebodohan, kemiskinan, dan penjajahan.

Perjuangan mahasiswa yang masih mengambang ini semakin parah ketika tidak bersatunya paradigma gerak dan paradigma berpikirnya yang selama ini selalu terjadi, begitu pun sebaliknya, ketika paradigma berpikir dan paradigma geraknya sudah selaras maka tidak menutup kemungkinan cita-cita luhur yang tersurat pada pembukaan UUD 1945 bisa terwujud.

Jumat, 14 Mei 2010

PERKEMBANGAN MODERN DI MESIR

Nama : Ibnu Abdillah
NIM : 58410347
Jurusan : PAI

I. Kondisi Sosial, Budaya, Politik dan Keagamaan
Mesir adalah salah satu daerah yang menjadi begian dari kekuasaan Turki Usmani dan berperan sebagai salah satu pusat pengembangan peradaban Islam. Mesir mulai menjadi wilayah Islam pada zaman khalifah Umar ra. Pada tahun 640 M, Mesir ditaklukkan oleh pasukan Amr ibn ’Asy.

Mesir pernah dikuasai oleh dinasti-dinasti kecil pada zaman Bani Abbas, salah satunya adalah Dinasti Fatimiah. Tahun 945 Dinasti Fatimiah berhasil memantapkan diri dari Tunisia dan menguasai beberapa daerah di sekitarnya dan Sisilia. Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Mu’iz yang mempunyai seorang jendral yang cemerlang, yakni Jauhar. Al-Mu’iz mencoba menguasai pusat dunia Islam, Mesir. Setelah persiapan-persiapan matang termasuk propaganda politik, ditopang bencana kelaparan yang hebat di Mesir, Jauhar menerobos kota Kairo Lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan dan menguasai negara itu.
Dinasti Fatimiah adalah dinasti yang menganut faham Syi’ah Ismailiyah. Namun dinasti ini sangat toleran terhadap selain mazhabnya bahkan kepada agama lain. Hal inilah yang menyebabkan mereka dapat menjaga ketertiban dan keamanan negara dan penduduknya. Dengan stabilitas politik dan keagamaan yang mapan, maka aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik. Aktifitas perekonomian ini meliputi pertanian yang ada di sekitar sungai Nil yang subur, yang menghasilkan padi, gandum, tebu, kapas, bawang putih dan bawang merah. Sektor lain yaitu industri dengan produk kain sutra, wol dan sebagainya.
Setelah kekuasaan Fathimiah berakhir, Mesir dikuasai Oleh Mamluk, kemudian dikuasai oleh kekhalifahan Usmani. Ketiga pemerintahan ini bernuansa Islami maka hal ini dapat dikatakan tidak mendapatkan perubahan yang menyolok.

Perubahan dan perkembangan Masyarakat Mesir terlihat nyata setelah adanya pengaruh Barat yaitu selama tiga tahun di bawah kekuasaan Napoleon. (1798- 1801 M). Dengan alasan Ekspedisi dagang Napoleon Bona Parte dapat perebut hati kepala pemerintahan Khalifah Usmani di Mesir. Alasan rasional yang dilontarkan Napoleon adalah menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Khalifah Usmanl Mesir dari rongrongan orang-orang Mamluk yang ingin merebut kekuasaan.

II. Ekspedisi Napoleon dan Ide Modernisnya
Sejarah dunia mencatat bahwa kerajaan-kerajaan Islam pernah mencapai puncak kejayaan, sebagai kekuatan Adi daya yang dapat menguasai benua Eropa. Kejayaan kerajaan Islam Abbasyiah di Baghdad banyak memberikan kontribusi keilmuan bagi masyarakat Barat, sehingga Batar mengalami kemajuan yang berarti di bidang keilmuan, kemajuan itu berlanjut setelah mereka mendapatkan pengaruh dan mengadopsi pemikiran Rasional Averoisme.

Penemuan alat-alat teknologi dan kapal uap serta penemuan benua Amerika oleh Colonbus, menjadikan Barat lebih maju dari negara Islam. Sebaliknya bangsa Arab yang hidup dalam kegemilangan Kerajaan Islam terlena dengan kesenagan dan kejayaannya, sehingga mengakibatkan kemundura di bidang politik, ekonomi militer, bahkan di bidang ilmu pengetahuan. Kerajaan Islam Usmani mengalami kejayaan terpukul mundur, begitu juga kerajaan Safawi dan Monghul. Kemunduran itu semakin terasa ketika kerajaan-kerajaan Islam berada di bawah peneterasi Barat.
A. Riwayat Hidup Napoleon
Nama Napoleon Bona Parte amat termasyur di dunia. Beliau dilahirkan pada tahun 1769 M, di Ajaccio, Carcica Italia. Putra dari Carlo dan Letiza Romalio Bonaparte. Napoleon Bona Parte sudah mendapatkan pendidikan militersejak masih belia, bi Brienne, dan di Perancis. Beliau adalah seorang para ahli di bidang alteleri. Di dalam Enciclopedia Americana tercatat: Pada tahun 1778, Napoleon Bona Paerte yang berusia 9 tahun serta kakaknya Joseph berusia 10 tahun,memasuki pendidikan di The Oration College, Autun Perancis. Tiga bulan kemudian merka mengikuti pendidikan pada The Militerry School di Brienne dengan beasiswa dari Louis XVI. Karena kehebatannya di bidang Mate-matika Napoleon dikirim mengikuti latihan militer lanjutan di Ecole Militaire Paris dan menamatkan pendidikannya disini pada tahun 1784 M. Pada tahun 1791 Napoleon sudah berpangkat letnan kolonel. 25 Kearifannya berperang selama terjadi

Revolusi Prancis melanjutkannya ke jenjang pangkat Brigadir Jenderal di tahun 1793, pada usianya 24 tahun ia berhasil memimpin penyerbuan ke Italia dan beberapa negara Eropah lainnya. Prestasinya melonjak lagi ketika ia menduduki jabatan sebagai Konsul pertama Republik Prancis tahun 1799-1804, kemudian ia menjadi Kaisar Prancis yang memerintah secara diktator di tahun 1804-1815.

B. Napoleon dan Gerakannya.
Mesir adalah satu wilayah subur yang menjadi rebutan para penguasa di jaman itu. Letak setrategis Mesir tepatnya di daerah Bulan sabit, yang menjadi daerah perlintasan san dagang Hindia dan Eropa melalui Laut Merah. Lintas dagang ke Italia melalui Laut Tengah yang berdekatan dengan Bizantium.

Ekspansi Eropa pada abad ke -17 merupakan suatu bentuk baru yang dimulai dengan perundingan Eropah dan pemerintahan Usmani, guna membentuk aliansi menghadapi Inggris. Kecerdikan politik seperti ini berjalan dengan baik. Aliansi ini akhirnya berubah menjadi suatu fakta perdagangan yang memberikan hak-hak istimewa kepada orang Eropah terutama Prancis untuk berniaga di daerah kekuasaan Usmani (dikenal dengan Kapitulasi 1535). Orang-orang Prancis dilindungi keselamatan jiwanya dan hartanya juga kebebasan agamanya.
Rasyid yang terletak di sebelah Timurnya dikuasai, pada 21 Juli tentera Napoleon sampai kedaerah Piramid dekat Kairo, pertempuran terjadi di sini, kaum maklumat yang menguasai Mesir tak sanggup melawan senjata-senjata meriam Napoleon, mereka lari ke Cairo, di tempat ini kaum Mamluk mendapat simpati dan sokongan dari orang-orang Mesir, akhirnya mereka lari ke daerah Mesir Selatan. Pada tanggal 22 Juli 1798 Napoleon sudah menguasai Mesir setelah tiga minggu mendarat di pelabuhan Alexandria.

Penguasaan terhadap Mesir ini merupakan usaha Napoleon untuk memutuskan komunikasi antara Inggris di barat dan India di Timur, disamping itu Prancis perlu memasarkan industri mereka. Ambisi pribadi Napoleon Bonaparte untuk menguasai kerajaan besar, sebagaimana penguasaan Alexander the Great dari Macedonia menguasai Eropah dan Asia, menjadi pendorong utama baginya untuk mengadakan ekpedisi ke Mesir.Ambisi Napoleon ini terungkap antara lain karena kegemaranya membaca buku-buku tentang Alexander.

Pada masa kedatangan Napoleon ini, masyarakat Mesir terbagai dua kelompok yaitu : Muslim Turki dan Muslim Arab. Jika di analisa dari keadaan ini maka secara politis rakyat Mesir dengan mudah dapat dipengaruhi oleh Napoleon. Sebenarnya pada mulanya Napoleon diserahi tugas untuk memimpin operasi militer ke Inggris, Prancis berusaha mematahkan dominasi Inggris pada peta politik dan ekonomi internasional, namun Napoleon berkesimpulan operasi militer itu akan berhasil bila Perancis dapat menguasai jalur perdagangan Inggris, ia lalu mengalihkan rencana dan kemudian mengadakan invasi ke Mesir sekaligus menjadikanya sebagai basis kekuatan untuk meluaskan daerah ke bagian Timur, Invasi ini dilakukan dengan berpura -pura melindungi para pedangan Perancis dari perlakuan yang tidak baik yang dilakukan para penguasa terhadap mereka (Lokal mis rule).

Penetrasi Prancis ini telah berkembang dengan cepat. Napoleon ke Mesir bukan hanya untuk membawa tentera. Dalam rombongan ini terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita, diantara mereka itu terdapat 16 ahli dalam berbagai bidang ilmu pengethuan. Napoleon juga membawa dua set alt pencetakan huruf lain, Arab dan Yunani. Ekspedisi ini bukan semata-mata untuk kepentingan militer tetapi juga untuk kepentingan ilmiah. Di Mesir dibentuk suatu lembaga ilmiah, bernama Institud’ Aqypte yang mempunyai empat cabang : Bahgian ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi politik, bahagian Sastra- seni. Publikasi yang dihasilkan lembaga ini bernama La Decade Egyteinne dan majalah Le Courrier d’ Egypte yang diterbitkan oleh Marc Auriel, seorang pengusaha yang turut serta dengan ekspedisi Napoleon.

Menjelang abad ke-18 tampak tanda-tanda kebangkitan kebudayaan Mesir secara spontanitas. Kebangkitan ini merupakan gerakan internal yang muncul dari dalam negeri. Sekelompok penulis Mesir muncul di panggung kebudayaan yang tidak bisa disamakan dengan tiga abad sebelumnya baik dari seg jumlah maupun hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA
Lewis, Bernand, 1988, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Pedoman Ilmu.
Mubarok, Jaih. 2004. Sejarah Peradaban Islam,Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Nasution, Harun, 1985, Islam ditinjau dari Beberapa Aspeknya, Jakarta: UI Press.
Rahimah, Sejarah Islam di Mesir (Makalah), Sumatra Utrara.
Subarman, Munir, 2008, Sejarah Peradaban Islam Klasik, Cirebon: Pangger Publishing.

Senin, 29 Maret 2010

Akibat Dari Tidak Bisa Menghargai Perbedaan

Oleh : Ibnu Abdillah
(Dipersembahkan untuk kader-kader Multikultural)

Sekarang kita bisa lihat bahwa banyak sekali dampak negatif daripada tidak bisa menghargai perbedaan, tawuran antar golongan, konflik antar suku bahkan agama. Itu sudah cukup bukti untuk kita sekarang bahwa sudah sepatutnya kita satukan persepsi. Kita harus terbuka dengan Rata Penuhrealitas sosial yang kini kian beragam, coraknya, bahasanya, budayanya, kepercayaannya, bahkan pola pikirnya. Kalau kita masih menganggap bahwa golongan kitalah yang paling benar, suku kitalah yang paling kuat, budaya kitalah yang paling luhur, sementara yang lain salah bahkan harus kita hancurkan. Pola pikir yang demikian adalah sangat riskan kalau masih saja dipertahankan, riskan karena dengan demikian akan muncul berbagai konflik bahkan akan memperbesar ketegangan serta kesnjangan sosial.

Kekhawatiran yang sejak dulu kita bayangkan ternyata terjadi juga. Dengan sangat gencarnya golongan orang yang bersikukuh ingin menegakkan syari’at Islam sampai kemudian karena negara tetap harus berasaskan Pancasila sehingga mereka hanya dengan perda dulu, sekarang terbuktilah kekhawatiran itu. Contoh di Aceh dan Tangerang, kedua daerah itu sudah sedikitnya menerapkan sistem Islam dalam peraturan-peraturan daerah secara legal. Sekarang kita lihat di Manokwari dan Bali, Manokwari sedang dalam proses pengesahan perda Injil yang salah satunya adalah tidak boleh ada wanita yang memakai kerudung seperti kebalikan dari Aceh. Kemudian di Bali juga sedang dalam proses pengesahan perda Hindu. Saya tidak bisa membayangkan daerah mana lagi yang akan menerapkan perda dengan aturan-aturan agama. Apa yang akan terjadi ketika demikian?

Apakah semua agama mewajibkan agar aturan-aturan yang terdapat dalam ajaran agama itu harus secara legal ditetapkan dalam suatu Negara? Sama sekali tidak ada. Artinya agama sudah jelas bahwa dalam ranah kenegaraan harus kita ambil nilai-nilai agamanya tanpa harus secara tekstual menerapkan ajaran agama menjadi peraturan yang resmi. Lalu bagaimana dengan agama lain yang berada dalam wilayah itu? Ini akan berdampak sistemik kalau pemerintah pusat tidak seger menyelesaikan persoalan ini. Mungkin ini juga tugas untuk kita bersama dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai walaupun berbeda.

Pahami Pancasila dan ke-Bhinekaan secara utuh, apakah kedua asas itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan? Saya kira itu sangat sesuai sekali. Lalu atas dasar apa mereka (orang-orang aliran fundamental) ingin menetapkan peraturan agama dengan secara legal menjadi peraturan pemerintah? Masihkah sejarah yang kelam itu terulang lagi? Masih kurang buktikah bahwa dengan tidak mampu menghargai pebedaan akan memperluas jurang permusuhan? Kurang bukti apa lagi? Aceh yang dengan sangat bersemangat ingin menegakkan syari’at Islam kemudian tidak diakomodir aspirasinya oleh pemerintah pusat sehingga mereka membuat GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan persenjataan lengkap yang entah dari mana datangnya. Kemudian Manokwari dengan semangat Khatoliknya ingin menetapkan perda injil karena mungkin atas dasar mempertahankan agamanya agar tetap ada walaupun nanti negara menggunakan syari’at Islam. Lalu apa yang dipahami oleh mereka tentang NKRI? Apakah mereka tidak bisa menerima demokrasi yang berasaskan Pancasila? Apakah mereka mengenggap Pancasila itu hanyalah rumus kode buntut?

Mampukah mereka melihat bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang jauh lebih penting daripada memperluas perdebatan mengenai segala perbedaan? Mampukah kita sama-sama melihat bahwa disekitar kita banyak sekali yang belum makan, atau belum bisa makan layaknya manusia? Jawabannya ada pada diri masing-masing bahwa rasa kemanusiaan di setiap manusia itu ada hanya karena terlarut dalam kehidupan yang sangat hedon sehingga lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang menginginkan sentuhan-sentuhan kasih sayang kita.

Kekerasan dan ketidak adilan juga terjadi bukan hanya pada rakyat miskin dan orang-orang terlantar, tetapi orang-orang yang berbeda dengan keumuman orang. Misalnya cacat fisik (tuna netra, tuna rungu dll) dan orang yang tidak sesuai antara jiwa dan jenis kelaminnya (waria). Mereka sering merasakan ketidak adilan dan kekerasan. Yang cacat fisik, mereka sangat susah sekali mendapatkan akses pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Hanya karena mereka tidak bisa melihat atau tidak bisa mendengar sehingga mereka tidak bisa untuk belajar. Kemudian waria juga, mereka seringkali dicmoohi oleh orang yang memang benci dan jijik dengan waria, apalagi mereka seringkali susah untuk beribadah seperti layaknya orang lain berjama’ah di masjid. Seolah mereka adalah manusia najis yang tidak boleh masuk masjid. Ini realita kehidupan kita.

Apakah pernah kita memikirkan penyebab apa yang menjadi mereka demikian? Pernahkah kita melihat mereka itu dari sisi kemanusiaan? Sadarkah bahwa mereka juga sebenarnya manusia yang menginginkan hidup normal seperti halnya kita? Tetapi itu adalah kuasa Tuhan, maka dari itu karena itu adalah kuasa Tuhan maka kita harus mengakui keberadaan mereka selayaknya kita menyambut hangat juga keberadaan orang-orang yang kita sayang.
Mari kita buka mata dan hati kita. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia yang mempunyai akal dan hati (perasaan). Stop memandang buruk orang yang berbeda dengan kita (apalagi dengan klaim kafir, murtad, dll) karena itu sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Hidup dalam permusuhan hanya akan membuat hati dan pikiran kita sempit.

Marilah kita bersama-sama mengakhiri permusuhan ini hanya atas dasar ingin menunjukkan bahwa kita lah yang paling hebat. Kita sama-sama manusia yang mempunyai banyak kekurangan, justru dengan menghargai perbedaan maka akan bisa kita temukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kehidupan yang damai. Masih banyak pesoalan yang jauh lebih penting dari pada mengagung-agungkan diri tanpa menghargai yang lain. Kemiskinan dan kebodohan masih banyak sekali disekitar kita.



SALAM DAMAI

Jumat, 12 Maret 2010

Tuhan Menurut Abu Nawas

Oleh : Ibnu Abdillah
Abu Nuwas adalah seseorang yang diangap zindiq oleh banyak orang pada masanya. Karena ia selalu bertindak berbeda dengan keumuman orang. Pada saat orang-orang sedang taat beribadah, ia malah tidak mau shalat sama sekali, disaat orang-orang sedang kuat-kuatnya mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ia malah minum-minuman khamr¬ yang dianggap memabukkan oleh kebanayakan orang pada waktu itu. Pernah sesekali ia sehabis minum khamr, ia ikut shalat berjama’ah bersama sahabat-sahabatnya dan memang pada saat itu warga sedang rajin-rajinnya beribadah sehingga banyak jama’ah pada waktu itu, tapi apa yang dilakukan olehnya adalah, ketika imam membacakan ayat pertama pada surat al-Kafirun, ia menjawab denagn entengnya ”labbaik”. Dan keanehannya bukan hanya sebatas itu, ia bukan hanya suka terhadap perempuan akan tetapi ia juga suka terhadap laki-laki, ini yang kemudian menjadikan orang tidak habis pikir.

Abu Nuwas adalah sosok yang amat kontroversial pada zamannya, ternbukti dengan seringnya ia dipanggil oleh pejabat-pejabat pada waktu itu yang gerah atas tingkah lakunya yang kadang mampu membuat semua orang geger. Sebenarnya siapakah Abu Nuwas itu? Apakah ia adalah salah satu misteri juga yang kemudian melahirkan orang-misterius pada zaman sekarang, Gus Dur misalnya. Dengan gaya lawaknya sepertinya hampir sama dengan Abu Nuwas yang juga sama-sama tokoh yang kontroversial. Saya akan mencoba menguraikan secara sederhana tentang Abu Nuwas.

Abu Nuwas adalah seorang yang kontroversial. Sebagai seorang muslim, ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang secara syar’i dilarang, meremehkan haji dan waktu shalat. Ia menyukai minum khamr sehingga terkenal sebagai penyair khamr. Dalam hal ini, tampaknya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri, terutama untuk menunjukkan eksistensial keturunan (nasab) keluarga.

Khamr bagi Abu Nuwas, dijadikan kompensasi kekecewaan perasaan atau ketika merasa kosong jiwanya dan untuk menghindarkan diri dari kesibukan yang harus diselesaikannya. Khamr merupakan segala-galanya dalam kehidupan Abu Nuwas, karena khamr mampu menghantarkannya ke dalam suasana ekstase ke alam bayangan yang indah. Bahkan, khamr menjadi tujuan pertama hidup dan lebih dari menjalankan perintah agama seperti yang telah tersirat dalam kitab Diwan Abi Nuwas.

Bagaimana bisa Abu Nuwas dicap sebagai zindiq?
Abu Nuwas hidup dalam percaturan kompleks tersebut. Ia hidup pada zaman di mana pergolakan pemikiran dan pendapat yang muncul dari berbagai kelompok sedang berkecamuk. Abu Nuwas menahan diri dari kehidupan yang hanya mendatangkan pengalaman materil dan pengetahuan inderawi yang fana. Sebaliknya, ia mngusahakan diri untuk meraih kehidupan yang lebih kekal.
Lisannya tidak henti-hentinya menentang agama, sementara batinnya mempunyai keyakinan kuat untuk menuntun perilakunya di satu sisi, dan membangkitkan kemarahan orang lain di sisi yang lain. Tidak jarang, Abu Nuwas mendapat teguran, peringatan, bahkan hukuman karena seringkali menegejek khalifah, dan tanpa malu-malu, meminum khamr.

Ada apa dibalik ke-zindikannya?
Zindik-nya Abu Nuwas, sebagaimana yang lainnya, dipicu oleh gerakan nasionalismenya yang menentang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas non-muslim dan non-Arab. Gerakan ini dimunculkan dengan melihat negara atau pemerintah bukan milik orang Arab saja, melainkan milik seluruh masyarakat muslim. Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan dengan orang non-Arab, atau sebaliknya. Gerakan ini bahkan mendapat angin segar manakala revolusi dilancarkan oleh, semisal Ibn Zubair, kaum Khawarij, Syi’ah, Asy’ad dan Yazid bin Muhlab.

Dengan rasa nasionalismenya yang tinggi, ia menjadi banyak dikagumi oleh kelompok-kelompok minoritas karena hanya ia yang memperjuangkan dengan konsisten terhadap kelompok minoritas. Jiwa multikulturalnya sangat tepat dimana ia tinggal dalam suatu negara yang multikultur, negara yang kaya akan keragaman, seperti halnya negara kita, Indonesia. Makanya kenapa ia dikatakan sebagai generasi pertama yang menebarkan jantung pluralisme, generasi keduanya adalah Gus Dur.

Jadi, zindik-nya Abu Nuwas tidak mengarah pada persoalan teologis melainkan hanya tertawaannya terhadap agama. Ia tidaklah kafir, tetapi hanya bersikap kritis dan elegan terhadap agama. Syauqi Dhaif mencatat bahwa segala pertentangannya terhadap agama merupakan wujud dari krisis pribadinya menghadapi problem kejiwaannya, pluralitas agama dan masyarakat pada masanya yang materialistis. Zindiq-nya, demikian, ekspresif (hanya di lisan) tidak sampai ke dalam batin atau keyakinan di hati. Ia bukanlah seorang zindiq melainkan pelawak saja.

Tuhan dan Abu Nuwas

Tuhan bagi Abu Nuwas merupakan pengetahuan dan pengalaman. Mencegah yang haram dan melakukan yang halal, menurutnya adalah berbuat dosa. Hal ini karena mencegah apa yang diharamkan oleh Tuhan, berarti menolak yang halal dari-Nya itu sendiri, yaitu keluar dari hukum Tuhan.

Penolakan ini menjadikan manusia setara di hadapan Tuhan, sehingga ia tidak lagi tunduk pada syari’at karena ia adalah sumber syari’at itu sendiri. Dengan begitu hilanglah larangan-larangan dan muncullah kebebasan bagi manusia. Manusia ketika menafikan yang haram menjadi sama dengan Tuhan, karena di antara dirinya dan apa yang dinafikan tersebut terdapat hubungan (ketergantungan), di mana yang ternafikan menjadi pengikut dan penafi (orang yang menafikan) menjadi ang diikuti.

Bisa dipahami bahwa Abu Nuwas adalah seorang yang amat sangat kritis dalam berpikir. Tidak heran banyak orang yang mengagumi kekritisannya dan banyak pula orang yang jengkel dengan gaya lawaknya yang kadang-kadang membuat orang jengkel. Ia menyatakan bahwa manusia mampu membuat syari’at sendiri tanpa mempertimbangkan hukum Tuhan, karena pada dasarnya menghindari larangan Tuhan berarti menghindari pula apa yang halal dari Tuhan. Mengharamkan sesuatu berarti sama saja dengan kelakuan Tuhan. Oleh karena itu seringkali ia minum khamr dengan tanpa ragu karena ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat bermanfaat dari khamr baginya yaitu dapat menghilangkan rasa bimbang dan ia yakin bahwa dengan minum khamr ia berani bebas, bebas dalam hal berpikir, bertindak dan mengkritik.

Ini yang sangat menarik dari dirinya yaitu walaupun ia pelawak dan suka slengean tapi daya kritisnya sangat radikal. Tidak heran banyak orang yang dipusingkan dengan kelakuan dan gaya berpikirnya, sampai-sampai pernah disidang pun ia tetap lolos karena pandainya ngeles. Tidak jauh berbeda dengan sosok seorang Gus Dur yang amat pandai tapi suka ngelawak. Kemudian persamaannya lagi adalah ada pada semangat kedua-duanya dalam menyebarkan pemikiran multikultural. Maka dari itu Gus Dur belakangan disebut sebagai bapak demokrasi dan bapak multikultural.

Ketika Abu Nuwas manyatakan bahwa bagiku agamaku dan bagi orang lain agama mereka, tidak saja telah terjadi primordialisme pemahaman umum tentang agama, akan tetapi juga primordialisme pemahaman umum tentang Tuhan. Hanya saja, kesamaan manusia dengan Tuhan menuntun untuk menghilangkan atau membunuh-Nya.

Persamaan ini termasuk juga penolakan alam sebagaimana adanya, atau sebagaimana yang diciptakan oleh Tuhan. Penolakan model ini berhenti pada batas-batas kehancurannya, tidak sampai pada munculnya rekonstruksi pada dirinya. Dari sini, membangun dunia baru menuntut untuk dilakukan pembunuhan terhadap Tuhan dengan berdasarkan pada dunia atau hal-hal lama. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa naik hingga ke tingkat Tuhan kecuali dengan menghancurkan alam yang kekal, membunuh Tuhan dengan menggunakan prinsip-prinsip alam ini. Tuhanlah yang mempersilahkan manusia untuk menciptakan alam baru. Hal ini karena manusia tidak mampu menciptakan kecuali dengan kekuasaannya yang sempurna, dan kekuasaan ini tidak ada kecuali apabila realitas yang dominan, yaitu Tuhan itu dibunuh.

Dengan ini, artinya bisa dipahami soal pendapat umum yang menyatakan bahwa berpikir tentang Tuhan itu adalah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Karena dengan menciptakan pemikiran ini, telah sah untuk dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada Tuhan yang diri-Nya merupakan segala-galanya.

Substansi dari apa yang dikemukakan oleh Abu Nuwas adalah perlunya kebebasan dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragama. Pemikiran ini berangkat dari pengalaman historis yang dialaminya, dimana masyarakat ’Abbasiyah harus menganut agama Islam yang berideologikan sunni. Padahal, realitas masyarakatnya adalah sangat plural, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang etnis dan agama, Arab dan non-Arab, Yahudi, Nashrani, Zoroaster, Hindu, Budha dan lain-lain.

Ini sangat sesuai sekali dengan realitas di negara kita. Oleh karena itu saya sepakat bahwa Pancasila adalah asas yang paling tepat, karena terdapat sistem yang mampu mengakomodir hak-hak dari masing-masing pemeluk agama dan aliran. Banyak sekali hambatan untuk memperjuangkan Pancasila itu untuk menebarkan virus-virus multikultural dan nasionalisme agar masyarakat mampu mengapresiasi segala bentuk ekspresi yang jelas bukan untuk merugikan orang lain, akan tetapi tetap sama-sama menjaga hubungan sosial agar terciptanya kedamaian dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Karena belakangan ini banyak isu-isu yang menyatakan bahwa negara Indonesia harus menegakkan syari’at Islam agar lebih baik.

Oke syari’at Islam, akan tetapi harus dipahami seutuhnya bahwa dalam pengambilan hukum itu harus dissuaikan dengan realitas sosial yang ada, karena para ulama fiqh terdahulu pun dalam mengambil hukum itu berdasarkan konteks yang ada pada masanya. Yang terjadi di Indonesia, masih banyak orang-orang memperjuangkan penegakan syari’at Islam akan tetapi mereka belum bisa menyesuaikan dalam realitasnya. Mereka masih merujuk pada hukum Islam secara tekstual yang tertera dalam al-Quran dan Hadits.

Al-Quran dan Hadits adalah sebuah ekspresi budaya Arab pada waktu itu, jadi kalau kita tidak mampu untuk membaca realitas sosial di sekeliling kita, jangan harap hukum Islam yang diterapkan akan sesuai dan berjalan dengan lancar. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam penerapan hukum-hukum itu.

Begitu Abu Nuwas dituduh zindiq karena banyak melecehkan Tuhan, mempelajari ilmu perdukunan, dan ilmu-ilmu kuno dari India dan Roma, serta hilang kepercayaan dan menembus batas-batas agama, ia justru gencar mempelajarinya. Disaat orang mengharamkan filsafat karena mengarah pada kekufuran, ia justru menghalalkannya sehingga ia menjalani kehidupan zindiq karena berfilsafat.

Demikianlah sepak terjang Abu Nuwas dalam perjalanan menuju hakikat hidup dan dalam memahami agama. Banyak hal yang saya pelajari darinya bahwa agama bukanlah urusan manusia dan agama adalah sebuah misteri yang harus disadari bersama. Tak ada yang mampu untuk mengukur seberapa jauh hubungan spiritual manusia dengan Tuhan hanya dengan ukuran syari’at, melainkan dengan bagaimana hubungan manusia itu dengan manusia lain. Bukankah orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Itu adalah hakikat yang sebenarnya bahwa Abu Nuwas secara syari’at ia mungkin bisa dibilang ngawur akan tetapi ia adalah pembawa pesan moral Islam yang amat hakiki. Agama bukan hanya kegiatan ceremonial belaka, melainkan harus teraktualisasikan kepada kehidupan sosial dalam masyarakat.

Dengan cerdiknya, ia mampu menyadarkan manusia bahwa agama tidak untuk dijadikan alat politik, bahkan alat untuk menindas. Itu sangat menyimpang dengan ajaran agama yang hakiki. Agama sangat menganjurkan manusia agar selalu berkembang dan maju, kalau justru malah sebaliknya, yaitu agama malah dijadikan alat untuk menjumudkan orang, sungguh pemahaman yang amat tolol.

Ini salah itu benar, ini halal itu haram, ia iman—ia kafir, itu sangatlah perilaku yang sangat tidak dianjurkan oleh agama. Tidak ada hukum Tuhan, melainkan ajaran Tuhan tentang bagaimana hidup dengan rukun dan damai serta dinamis. Jangan mengklaim sesuatu kalau kita belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Menghargai dan dihargai adalah prinsip-prinsip agama yang sangat relevan untuk zaman dan masa apa pun. Karena dengan kita selalu mencoba memahami realitas yang terjadi, maka akan terwujud suatu pola pikir yang tidak jumud. Kritis adalah kunci dari awal sebuah jiwa yang multikultur, moderat, dan toleran.

Kamis, 11 Maret 2010

FILM CA BAU KAN SARAT AKAN NILAI-NILAI KEADILAN GENDER, MULTIKULTURALISME, NASIONALISME, DAN MORALITAS

Oleh: Ibnu Abdillah

Tinung adalah seorang perempuan yang terlahir dari orang miskin dan lingkungan miskin. Ketika itu negara Indonesia sedang dijajah oleh Belanda.
Siti Nurhayati adalah nama lengkap dari Tinung. Ia dinikahi oleh seorang laki-laki yang kemudian setelah nikah laki-laki itu meninggal dunia entah kenapa. Ia sangat terpukul dengan kejadian seperti itu dan disaat itu pula ia terpaksa mengambil jalan gelap untuk yaitu cau bau kan di Klijodo untuk mengatasi masalah perekonomiannya. Karena kecantikan dan tubuhnya yang seksi, ia mampu mengumpulkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Pertemuannya dengan cinta sejati
Di sela-sela hiruk pikuk keramaian di Batavia pada waktu itu, ada seorang pengusaha yang bernama Tan Peng Lian. Ia adalah seorang yang kaya raya sampai-sampai seringkali ia menjatuhkan harga diri para pejabat kolonial (tapi orang Indonesia) melalui pembelian lukisan-lukisan tokoh bersejarah di dunia.

Tinung sedang hamil, entah siapa bapak yang sebenarnya. Akan tetapi bibinya selalu membawa-bawanya ke tempat biasa yaitu keramaian di Batavia. Meskipun demikian ia hanya melihat bibinya menari dan bernyanyi sambil merayu para pejabat dan pengusaha dengan goyangannya yang mampu membuat mata para lelaki mata keranjang keluar.

Tan Peng Lian menghampiri bibinya Tinung, ia menikmati suara dan goyangannya yang indah itu. Kemudian ia melirik ke sebelahnya, dilihatnya ada sosok perempuan yang sedang hamil. Kemudian ia bertanya kepada bibinya Tinung tentang perempuan itu dan seketika itu juga langsung dijawab “dia ponakanku” katanya.

Selang berapa lama, Tinung kembali lagi untuk menghibur dengan suara dan tarian-tarian. Ternyata rupanya ia sudah belajar dan berlatih selama ia hamil sehingga suara dan goyangannya mampu menggoda mata para pejabat dan pengusaha pada waktu itu. Dan ketika itu sang pengusaha yang kaya raya itu melihat si Tinung yang makin cantik dan seksi. Lalu Tan Peng Lian menyuruh sahabatnya untuk membawa Tinung ke rumahnya.

Tinung diperlakukan layaknya seorang permaisuri pada saat di rumahnya Tan Peng Lian sehingga kecantikannya makin menggoda yang kemudian Tan Peng Lian memperlakukannya layaknya seperti istri dengan penuh perasaan.

Semakin lama rasa cinta yang tulus pun semakin bersemi pada sepasang laki-laki dan perempuan itu, sampai pada akhirnya Tinung mempunyai anak lagi. Dan semenjak Tinung tinggal bersama Tan Peng Lian, ia tidak lagi bekerja pada kerjaannya yang dulu.

Persaingan bisnis

Karena Tan Peng Lian terlalu kaya dalam bisnisnya sehingga ada yang merasa teraingi. Pada suatu malam, gudang barang-barang milik Tan Peng Lian ada yang mencoba membekarnya namun sebelum sempat dibakar, sahabatnya Tan Peng Lian membunuh pelaku bayaran itu lalu kemudian sahabatnya membakar gudang itu. Lalu dengan cepat Tan Peng Lian merancang sesuatu untuk membalikkan serangan itu kepada lawan, meski dengan cara Transaksional.

Persidangan pun dilakukan. Tapi, sebelum hakim memvonis Tan Bun Hiap (mudah-mudahan ndak salah ngetik), ternyata ada orang yang menemukan tempat rahasia milik Tan Peng Lian yaitu tempat dimana ia membuat uang palsu, oleh karena itu ia akhirnya divonis penjara.

Selama Tan Peng Lian ditahan, isue yang tersebar adalah ia sudah meninggal dunia padahal ia masih hidup. Tinung terbawa isue karenanya ia merasa sangat kehilangan seseorang yang dicintainya. Namun nasib tragis meninmpa Tinung yaitu setelah Belanda berhasil disingkirkan oleh Jepang, ia dibawa oleh tentara Jepang dan ia diperkosa secara bergilir. Ia merasa sngat tertekan sampai pada akhirnya ia mendekan di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Nasionalisme

Tan Peng Lian kembali ke Batavia setelah masa hukumannya selesai. Akan tetapi ketika ia tiba di rumah temannya yang kemudian temannya menginformasikan berita tentang kondisi negara Indonesia, ia merasa agak heran, dan puncak kekecewaannya adalah ketika ia mendengar berita yang lebih pahit tentang Tinung, seorang yang dicintainya itu.

Kemudian dengan semangat nasionalisme untuk memerdekakan negara Indonesia, Tan Peng Lian melakukan bisnis penyelundupan senjata untuk melawan Jepang. Dan ternyata perjuangannya tidak sia-sia, artinya Indonesia terbebas dari segala macam penjajahan, serta yang lebih penting adalah ia bisa berkumpul lagi dengan seseorang yang sangat dicintainya itu.
Kematiannya pun dengan cara yang ironis, yaitu terkena racun yang terdapat di dalam durian yang pada waktu itu sebagai contoh untuk bisnis dengan relasinya. Lagi-lagi penghianatan terjadi.

Dari kisah bersejarah ini, dapat diambil hikmah sebagai berikut:
1. Ternyata memang penduduk pribumi Indonesia adalah semua pendatang sehingga tidak ada perbedaan dalam hak dan kewajiban. Tan Peng Lian meskipun orang Tionghoa tapi karena rasa cintanya terhadap Indonesia sehingga ia begitu gigih untuk memerdekakan Indonesia. Dan memang sejarahnya pun begitu.

2. Film ini menggambarkan karakter kepemimpinan Indonesia sekarang, bahwa penghianatan dan politik transaksional selalu mewarnai perpolitikan negara kita.

3. Pelacur itu tidak bisa kita pandang sebelah mata, artinya ada sebab-sebab yang harus kita pahami dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghargai mereka (pelacur) karena tidak semua pelacur itu hanya karena nafsu, tapi lebih dari itu adalah mereka memperjuangkan hidup mereka karena faktor ekonomi untuk mempertahankan mereka dan keluarganya.