Senin, 29 Maret 2010

Akibat Dari Tidak Bisa Menghargai Perbedaan

Oleh : Ibnu Abdillah
(Dipersembahkan untuk kader-kader Multikultural)

Sekarang kita bisa lihat bahwa banyak sekali dampak negatif daripada tidak bisa menghargai perbedaan, tawuran antar golongan, konflik antar suku bahkan agama. Itu sudah cukup bukti untuk kita sekarang bahwa sudah sepatutnya kita satukan persepsi. Kita harus terbuka dengan Rata Penuhrealitas sosial yang kini kian beragam, coraknya, bahasanya, budayanya, kepercayaannya, bahkan pola pikirnya. Kalau kita masih menganggap bahwa golongan kitalah yang paling benar, suku kitalah yang paling kuat, budaya kitalah yang paling luhur, sementara yang lain salah bahkan harus kita hancurkan. Pola pikir yang demikian adalah sangat riskan kalau masih saja dipertahankan, riskan karena dengan demikian akan muncul berbagai konflik bahkan akan memperbesar ketegangan serta kesnjangan sosial.

Kekhawatiran yang sejak dulu kita bayangkan ternyata terjadi juga. Dengan sangat gencarnya golongan orang yang bersikukuh ingin menegakkan syari’at Islam sampai kemudian karena negara tetap harus berasaskan Pancasila sehingga mereka hanya dengan perda dulu, sekarang terbuktilah kekhawatiran itu. Contoh di Aceh dan Tangerang, kedua daerah itu sudah sedikitnya menerapkan sistem Islam dalam peraturan-peraturan daerah secara legal. Sekarang kita lihat di Manokwari dan Bali, Manokwari sedang dalam proses pengesahan perda Injil yang salah satunya adalah tidak boleh ada wanita yang memakai kerudung seperti kebalikan dari Aceh. Kemudian di Bali juga sedang dalam proses pengesahan perda Hindu. Saya tidak bisa membayangkan daerah mana lagi yang akan menerapkan perda dengan aturan-aturan agama. Apa yang akan terjadi ketika demikian?

Apakah semua agama mewajibkan agar aturan-aturan yang terdapat dalam ajaran agama itu harus secara legal ditetapkan dalam suatu Negara? Sama sekali tidak ada. Artinya agama sudah jelas bahwa dalam ranah kenegaraan harus kita ambil nilai-nilai agamanya tanpa harus secara tekstual menerapkan ajaran agama menjadi peraturan yang resmi. Lalu bagaimana dengan agama lain yang berada dalam wilayah itu? Ini akan berdampak sistemik kalau pemerintah pusat tidak seger menyelesaikan persoalan ini. Mungkin ini juga tugas untuk kita bersama dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai walaupun berbeda.

Pahami Pancasila dan ke-Bhinekaan secara utuh, apakah kedua asas itu tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan? Saya kira itu sangat sesuai sekali. Lalu atas dasar apa mereka (orang-orang aliran fundamental) ingin menetapkan peraturan agama dengan secara legal menjadi peraturan pemerintah? Masihkah sejarah yang kelam itu terulang lagi? Masih kurang buktikah bahwa dengan tidak mampu menghargai pebedaan akan memperluas jurang permusuhan? Kurang bukti apa lagi? Aceh yang dengan sangat bersemangat ingin menegakkan syari’at Islam kemudian tidak diakomodir aspirasinya oleh pemerintah pusat sehingga mereka membuat GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan persenjataan lengkap yang entah dari mana datangnya. Kemudian Manokwari dengan semangat Khatoliknya ingin menetapkan perda injil karena mungkin atas dasar mempertahankan agamanya agar tetap ada walaupun nanti negara menggunakan syari’at Islam. Lalu apa yang dipahami oleh mereka tentang NKRI? Apakah mereka tidak bisa menerima demokrasi yang berasaskan Pancasila? Apakah mereka mengenggap Pancasila itu hanyalah rumus kode buntut?

Mampukah mereka melihat bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang jauh lebih penting daripada memperluas perdebatan mengenai segala perbedaan? Mampukah kita sama-sama melihat bahwa disekitar kita banyak sekali yang belum makan, atau belum bisa makan layaknya manusia? Jawabannya ada pada diri masing-masing bahwa rasa kemanusiaan di setiap manusia itu ada hanya karena terlarut dalam kehidupan yang sangat hedon sehingga lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang menginginkan sentuhan-sentuhan kasih sayang kita.

Kekerasan dan ketidak adilan juga terjadi bukan hanya pada rakyat miskin dan orang-orang terlantar, tetapi orang-orang yang berbeda dengan keumuman orang. Misalnya cacat fisik (tuna netra, tuna rungu dll) dan orang yang tidak sesuai antara jiwa dan jenis kelaminnya (waria). Mereka sering merasakan ketidak adilan dan kekerasan. Yang cacat fisik, mereka sangat susah sekali mendapatkan akses pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Hanya karena mereka tidak bisa melihat atau tidak bisa mendengar sehingga mereka tidak bisa untuk belajar. Kemudian waria juga, mereka seringkali dicmoohi oleh orang yang memang benci dan jijik dengan waria, apalagi mereka seringkali susah untuk beribadah seperti layaknya orang lain berjama’ah di masjid. Seolah mereka adalah manusia najis yang tidak boleh masuk masjid. Ini realita kehidupan kita.

Apakah pernah kita memikirkan penyebab apa yang menjadi mereka demikian? Pernahkah kita melihat mereka itu dari sisi kemanusiaan? Sadarkah bahwa mereka juga sebenarnya manusia yang menginginkan hidup normal seperti halnya kita? Tetapi itu adalah kuasa Tuhan, maka dari itu karena itu adalah kuasa Tuhan maka kita harus mengakui keberadaan mereka selayaknya kita menyambut hangat juga keberadaan orang-orang yang kita sayang.
Mari kita buka mata dan hati kita. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia yang mempunyai akal dan hati (perasaan). Stop memandang buruk orang yang berbeda dengan kita (apalagi dengan klaim kafir, murtad, dll) karena itu sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Hidup dalam permusuhan hanya akan membuat hati dan pikiran kita sempit.

Marilah kita bersama-sama mengakhiri permusuhan ini hanya atas dasar ingin menunjukkan bahwa kita lah yang paling hebat. Kita sama-sama manusia yang mempunyai banyak kekurangan, justru dengan menghargai perbedaan maka akan bisa kita temukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kehidupan yang damai. Masih banyak pesoalan yang jauh lebih penting dari pada mengagung-agungkan diri tanpa menghargai yang lain. Kemiskinan dan kebodohan masih banyak sekali disekitar kita.



SALAM DAMAI

Jumat, 12 Maret 2010

Tuhan Menurut Abu Nawas

Oleh : Ibnu Abdillah
Abu Nuwas adalah seseorang yang diangap zindiq oleh banyak orang pada masanya. Karena ia selalu bertindak berbeda dengan keumuman orang. Pada saat orang-orang sedang taat beribadah, ia malah tidak mau shalat sama sekali, disaat orang-orang sedang kuat-kuatnya mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ia malah minum-minuman khamr¬ yang dianggap memabukkan oleh kebanayakan orang pada waktu itu. Pernah sesekali ia sehabis minum khamr, ia ikut shalat berjama’ah bersama sahabat-sahabatnya dan memang pada saat itu warga sedang rajin-rajinnya beribadah sehingga banyak jama’ah pada waktu itu, tapi apa yang dilakukan olehnya adalah, ketika imam membacakan ayat pertama pada surat al-Kafirun, ia menjawab denagn entengnya ”labbaik”. Dan keanehannya bukan hanya sebatas itu, ia bukan hanya suka terhadap perempuan akan tetapi ia juga suka terhadap laki-laki, ini yang kemudian menjadikan orang tidak habis pikir.

Abu Nuwas adalah sosok yang amat kontroversial pada zamannya, ternbukti dengan seringnya ia dipanggil oleh pejabat-pejabat pada waktu itu yang gerah atas tingkah lakunya yang kadang mampu membuat semua orang geger. Sebenarnya siapakah Abu Nuwas itu? Apakah ia adalah salah satu misteri juga yang kemudian melahirkan orang-misterius pada zaman sekarang, Gus Dur misalnya. Dengan gaya lawaknya sepertinya hampir sama dengan Abu Nuwas yang juga sama-sama tokoh yang kontroversial. Saya akan mencoba menguraikan secara sederhana tentang Abu Nuwas.

Abu Nuwas adalah seorang yang kontroversial. Sebagai seorang muslim, ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang secara syar’i dilarang, meremehkan haji dan waktu shalat. Ia menyukai minum khamr sehingga terkenal sebagai penyair khamr. Dalam hal ini, tampaknya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri, terutama untuk menunjukkan eksistensial keturunan (nasab) keluarga.

Khamr bagi Abu Nuwas, dijadikan kompensasi kekecewaan perasaan atau ketika merasa kosong jiwanya dan untuk menghindarkan diri dari kesibukan yang harus diselesaikannya. Khamr merupakan segala-galanya dalam kehidupan Abu Nuwas, karena khamr mampu menghantarkannya ke dalam suasana ekstase ke alam bayangan yang indah. Bahkan, khamr menjadi tujuan pertama hidup dan lebih dari menjalankan perintah agama seperti yang telah tersirat dalam kitab Diwan Abi Nuwas.

Bagaimana bisa Abu Nuwas dicap sebagai zindiq?
Abu Nuwas hidup dalam percaturan kompleks tersebut. Ia hidup pada zaman di mana pergolakan pemikiran dan pendapat yang muncul dari berbagai kelompok sedang berkecamuk. Abu Nuwas menahan diri dari kehidupan yang hanya mendatangkan pengalaman materil dan pengetahuan inderawi yang fana. Sebaliknya, ia mngusahakan diri untuk meraih kehidupan yang lebih kekal.
Lisannya tidak henti-hentinya menentang agama, sementara batinnya mempunyai keyakinan kuat untuk menuntun perilakunya di satu sisi, dan membangkitkan kemarahan orang lain di sisi yang lain. Tidak jarang, Abu Nuwas mendapat teguran, peringatan, bahkan hukuman karena seringkali menegejek khalifah, dan tanpa malu-malu, meminum khamr.

Ada apa dibalik ke-zindikannya?
Zindik-nya Abu Nuwas, sebagaimana yang lainnya, dipicu oleh gerakan nasionalismenya yang menentang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas non-muslim dan non-Arab. Gerakan ini dimunculkan dengan melihat negara atau pemerintah bukan milik orang Arab saja, melainkan milik seluruh masyarakat muslim. Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan dengan orang non-Arab, atau sebaliknya. Gerakan ini bahkan mendapat angin segar manakala revolusi dilancarkan oleh, semisal Ibn Zubair, kaum Khawarij, Syi’ah, Asy’ad dan Yazid bin Muhlab.

Dengan rasa nasionalismenya yang tinggi, ia menjadi banyak dikagumi oleh kelompok-kelompok minoritas karena hanya ia yang memperjuangkan dengan konsisten terhadap kelompok minoritas. Jiwa multikulturalnya sangat tepat dimana ia tinggal dalam suatu negara yang multikultur, negara yang kaya akan keragaman, seperti halnya negara kita, Indonesia. Makanya kenapa ia dikatakan sebagai generasi pertama yang menebarkan jantung pluralisme, generasi keduanya adalah Gus Dur.

Jadi, zindik-nya Abu Nuwas tidak mengarah pada persoalan teologis melainkan hanya tertawaannya terhadap agama. Ia tidaklah kafir, tetapi hanya bersikap kritis dan elegan terhadap agama. Syauqi Dhaif mencatat bahwa segala pertentangannya terhadap agama merupakan wujud dari krisis pribadinya menghadapi problem kejiwaannya, pluralitas agama dan masyarakat pada masanya yang materialistis. Zindiq-nya, demikian, ekspresif (hanya di lisan) tidak sampai ke dalam batin atau keyakinan di hati. Ia bukanlah seorang zindiq melainkan pelawak saja.

Tuhan dan Abu Nuwas

Tuhan bagi Abu Nuwas merupakan pengetahuan dan pengalaman. Mencegah yang haram dan melakukan yang halal, menurutnya adalah berbuat dosa. Hal ini karena mencegah apa yang diharamkan oleh Tuhan, berarti menolak yang halal dari-Nya itu sendiri, yaitu keluar dari hukum Tuhan.

Penolakan ini menjadikan manusia setara di hadapan Tuhan, sehingga ia tidak lagi tunduk pada syari’at karena ia adalah sumber syari’at itu sendiri. Dengan begitu hilanglah larangan-larangan dan muncullah kebebasan bagi manusia. Manusia ketika menafikan yang haram menjadi sama dengan Tuhan, karena di antara dirinya dan apa yang dinafikan tersebut terdapat hubungan (ketergantungan), di mana yang ternafikan menjadi pengikut dan penafi (orang yang menafikan) menjadi ang diikuti.

Bisa dipahami bahwa Abu Nuwas adalah seorang yang amat sangat kritis dalam berpikir. Tidak heran banyak orang yang mengagumi kekritisannya dan banyak pula orang yang jengkel dengan gaya lawaknya yang kadang-kadang membuat orang jengkel. Ia menyatakan bahwa manusia mampu membuat syari’at sendiri tanpa mempertimbangkan hukum Tuhan, karena pada dasarnya menghindari larangan Tuhan berarti menghindari pula apa yang halal dari Tuhan. Mengharamkan sesuatu berarti sama saja dengan kelakuan Tuhan. Oleh karena itu seringkali ia minum khamr dengan tanpa ragu karena ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat bermanfaat dari khamr baginya yaitu dapat menghilangkan rasa bimbang dan ia yakin bahwa dengan minum khamr ia berani bebas, bebas dalam hal berpikir, bertindak dan mengkritik.

Ini yang sangat menarik dari dirinya yaitu walaupun ia pelawak dan suka slengean tapi daya kritisnya sangat radikal. Tidak heran banyak orang yang dipusingkan dengan kelakuan dan gaya berpikirnya, sampai-sampai pernah disidang pun ia tetap lolos karena pandainya ngeles. Tidak jauh berbeda dengan sosok seorang Gus Dur yang amat pandai tapi suka ngelawak. Kemudian persamaannya lagi adalah ada pada semangat kedua-duanya dalam menyebarkan pemikiran multikultural. Maka dari itu Gus Dur belakangan disebut sebagai bapak demokrasi dan bapak multikultural.

Ketika Abu Nuwas manyatakan bahwa bagiku agamaku dan bagi orang lain agama mereka, tidak saja telah terjadi primordialisme pemahaman umum tentang agama, akan tetapi juga primordialisme pemahaman umum tentang Tuhan. Hanya saja, kesamaan manusia dengan Tuhan menuntun untuk menghilangkan atau membunuh-Nya.

Persamaan ini termasuk juga penolakan alam sebagaimana adanya, atau sebagaimana yang diciptakan oleh Tuhan. Penolakan model ini berhenti pada batas-batas kehancurannya, tidak sampai pada munculnya rekonstruksi pada dirinya. Dari sini, membangun dunia baru menuntut untuk dilakukan pembunuhan terhadap Tuhan dengan berdasarkan pada dunia atau hal-hal lama. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa naik hingga ke tingkat Tuhan kecuali dengan menghancurkan alam yang kekal, membunuh Tuhan dengan menggunakan prinsip-prinsip alam ini. Tuhanlah yang mempersilahkan manusia untuk menciptakan alam baru. Hal ini karena manusia tidak mampu menciptakan kecuali dengan kekuasaannya yang sempurna, dan kekuasaan ini tidak ada kecuali apabila realitas yang dominan, yaitu Tuhan itu dibunuh.

Dengan ini, artinya bisa dipahami soal pendapat umum yang menyatakan bahwa berpikir tentang Tuhan itu adalah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Karena dengan menciptakan pemikiran ini, telah sah untuk dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada Tuhan yang diri-Nya merupakan segala-galanya.

Substansi dari apa yang dikemukakan oleh Abu Nuwas adalah perlunya kebebasan dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragama. Pemikiran ini berangkat dari pengalaman historis yang dialaminya, dimana masyarakat ’Abbasiyah harus menganut agama Islam yang berideologikan sunni. Padahal, realitas masyarakatnya adalah sangat plural, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang etnis dan agama, Arab dan non-Arab, Yahudi, Nashrani, Zoroaster, Hindu, Budha dan lain-lain.

Ini sangat sesuai sekali dengan realitas di negara kita. Oleh karena itu saya sepakat bahwa Pancasila adalah asas yang paling tepat, karena terdapat sistem yang mampu mengakomodir hak-hak dari masing-masing pemeluk agama dan aliran. Banyak sekali hambatan untuk memperjuangkan Pancasila itu untuk menebarkan virus-virus multikultural dan nasionalisme agar masyarakat mampu mengapresiasi segala bentuk ekspresi yang jelas bukan untuk merugikan orang lain, akan tetapi tetap sama-sama menjaga hubungan sosial agar terciptanya kedamaian dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Karena belakangan ini banyak isu-isu yang menyatakan bahwa negara Indonesia harus menegakkan syari’at Islam agar lebih baik.

Oke syari’at Islam, akan tetapi harus dipahami seutuhnya bahwa dalam pengambilan hukum itu harus dissuaikan dengan realitas sosial yang ada, karena para ulama fiqh terdahulu pun dalam mengambil hukum itu berdasarkan konteks yang ada pada masanya. Yang terjadi di Indonesia, masih banyak orang-orang memperjuangkan penegakan syari’at Islam akan tetapi mereka belum bisa menyesuaikan dalam realitasnya. Mereka masih merujuk pada hukum Islam secara tekstual yang tertera dalam al-Quran dan Hadits.

Al-Quran dan Hadits adalah sebuah ekspresi budaya Arab pada waktu itu, jadi kalau kita tidak mampu untuk membaca realitas sosial di sekeliling kita, jangan harap hukum Islam yang diterapkan akan sesuai dan berjalan dengan lancar. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam penerapan hukum-hukum itu.

Begitu Abu Nuwas dituduh zindiq karena banyak melecehkan Tuhan, mempelajari ilmu perdukunan, dan ilmu-ilmu kuno dari India dan Roma, serta hilang kepercayaan dan menembus batas-batas agama, ia justru gencar mempelajarinya. Disaat orang mengharamkan filsafat karena mengarah pada kekufuran, ia justru menghalalkannya sehingga ia menjalani kehidupan zindiq karena berfilsafat.

Demikianlah sepak terjang Abu Nuwas dalam perjalanan menuju hakikat hidup dan dalam memahami agama. Banyak hal yang saya pelajari darinya bahwa agama bukanlah urusan manusia dan agama adalah sebuah misteri yang harus disadari bersama. Tak ada yang mampu untuk mengukur seberapa jauh hubungan spiritual manusia dengan Tuhan hanya dengan ukuran syari’at, melainkan dengan bagaimana hubungan manusia itu dengan manusia lain. Bukankah orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Itu adalah hakikat yang sebenarnya bahwa Abu Nuwas secara syari’at ia mungkin bisa dibilang ngawur akan tetapi ia adalah pembawa pesan moral Islam yang amat hakiki. Agama bukan hanya kegiatan ceremonial belaka, melainkan harus teraktualisasikan kepada kehidupan sosial dalam masyarakat.

Dengan cerdiknya, ia mampu menyadarkan manusia bahwa agama tidak untuk dijadikan alat politik, bahkan alat untuk menindas. Itu sangat menyimpang dengan ajaran agama yang hakiki. Agama sangat menganjurkan manusia agar selalu berkembang dan maju, kalau justru malah sebaliknya, yaitu agama malah dijadikan alat untuk menjumudkan orang, sungguh pemahaman yang amat tolol.

Ini salah itu benar, ini halal itu haram, ia iman—ia kafir, itu sangatlah perilaku yang sangat tidak dianjurkan oleh agama. Tidak ada hukum Tuhan, melainkan ajaran Tuhan tentang bagaimana hidup dengan rukun dan damai serta dinamis. Jangan mengklaim sesuatu kalau kita belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Menghargai dan dihargai adalah prinsip-prinsip agama yang sangat relevan untuk zaman dan masa apa pun. Karena dengan kita selalu mencoba memahami realitas yang terjadi, maka akan terwujud suatu pola pikir yang tidak jumud. Kritis adalah kunci dari awal sebuah jiwa yang multikultur, moderat, dan toleran.

Kamis, 11 Maret 2010

FILM CA BAU KAN SARAT AKAN NILAI-NILAI KEADILAN GENDER, MULTIKULTURALISME, NASIONALISME, DAN MORALITAS

Oleh: Ibnu Abdillah

Tinung adalah seorang perempuan yang terlahir dari orang miskin dan lingkungan miskin. Ketika itu negara Indonesia sedang dijajah oleh Belanda.
Siti Nurhayati adalah nama lengkap dari Tinung. Ia dinikahi oleh seorang laki-laki yang kemudian setelah nikah laki-laki itu meninggal dunia entah kenapa. Ia sangat terpukul dengan kejadian seperti itu dan disaat itu pula ia terpaksa mengambil jalan gelap untuk yaitu cau bau kan di Klijodo untuk mengatasi masalah perekonomiannya. Karena kecantikan dan tubuhnya yang seksi, ia mampu mengumpulkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Pertemuannya dengan cinta sejati
Di sela-sela hiruk pikuk keramaian di Batavia pada waktu itu, ada seorang pengusaha yang bernama Tan Peng Lian. Ia adalah seorang yang kaya raya sampai-sampai seringkali ia menjatuhkan harga diri para pejabat kolonial (tapi orang Indonesia) melalui pembelian lukisan-lukisan tokoh bersejarah di dunia.

Tinung sedang hamil, entah siapa bapak yang sebenarnya. Akan tetapi bibinya selalu membawa-bawanya ke tempat biasa yaitu keramaian di Batavia. Meskipun demikian ia hanya melihat bibinya menari dan bernyanyi sambil merayu para pejabat dan pengusaha dengan goyangannya yang mampu membuat mata para lelaki mata keranjang keluar.

Tan Peng Lian menghampiri bibinya Tinung, ia menikmati suara dan goyangannya yang indah itu. Kemudian ia melirik ke sebelahnya, dilihatnya ada sosok perempuan yang sedang hamil. Kemudian ia bertanya kepada bibinya Tinung tentang perempuan itu dan seketika itu juga langsung dijawab “dia ponakanku” katanya.

Selang berapa lama, Tinung kembali lagi untuk menghibur dengan suara dan tarian-tarian. Ternyata rupanya ia sudah belajar dan berlatih selama ia hamil sehingga suara dan goyangannya mampu menggoda mata para pejabat dan pengusaha pada waktu itu. Dan ketika itu sang pengusaha yang kaya raya itu melihat si Tinung yang makin cantik dan seksi. Lalu Tan Peng Lian menyuruh sahabatnya untuk membawa Tinung ke rumahnya.

Tinung diperlakukan layaknya seorang permaisuri pada saat di rumahnya Tan Peng Lian sehingga kecantikannya makin menggoda yang kemudian Tan Peng Lian memperlakukannya layaknya seperti istri dengan penuh perasaan.

Semakin lama rasa cinta yang tulus pun semakin bersemi pada sepasang laki-laki dan perempuan itu, sampai pada akhirnya Tinung mempunyai anak lagi. Dan semenjak Tinung tinggal bersama Tan Peng Lian, ia tidak lagi bekerja pada kerjaannya yang dulu.

Persaingan bisnis

Karena Tan Peng Lian terlalu kaya dalam bisnisnya sehingga ada yang merasa teraingi. Pada suatu malam, gudang barang-barang milik Tan Peng Lian ada yang mencoba membekarnya namun sebelum sempat dibakar, sahabatnya Tan Peng Lian membunuh pelaku bayaran itu lalu kemudian sahabatnya membakar gudang itu. Lalu dengan cepat Tan Peng Lian merancang sesuatu untuk membalikkan serangan itu kepada lawan, meski dengan cara Transaksional.

Persidangan pun dilakukan. Tapi, sebelum hakim memvonis Tan Bun Hiap (mudah-mudahan ndak salah ngetik), ternyata ada orang yang menemukan tempat rahasia milik Tan Peng Lian yaitu tempat dimana ia membuat uang palsu, oleh karena itu ia akhirnya divonis penjara.

Selama Tan Peng Lian ditahan, isue yang tersebar adalah ia sudah meninggal dunia padahal ia masih hidup. Tinung terbawa isue karenanya ia merasa sangat kehilangan seseorang yang dicintainya. Namun nasib tragis meninmpa Tinung yaitu setelah Belanda berhasil disingkirkan oleh Jepang, ia dibawa oleh tentara Jepang dan ia diperkosa secara bergilir. Ia merasa sngat tertekan sampai pada akhirnya ia mendekan di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Nasionalisme

Tan Peng Lian kembali ke Batavia setelah masa hukumannya selesai. Akan tetapi ketika ia tiba di rumah temannya yang kemudian temannya menginformasikan berita tentang kondisi negara Indonesia, ia merasa agak heran, dan puncak kekecewaannya adalah ketika ia mendengar berita yang lebih pahit tentang Tinung, seorang yang dicintainya itu.

Kemudian dengan semangat nasionalisme untuk memerdekakan negara Indonesia, Tan Peng Lian melakukan bisnis penyelundupan senjata untuk melawan Jepang. Dan ternyata perjuangannya tidak sia-sia, artinya Indonesia terbebas dari segala macam penjajahan, serta yang lebih penting adalah ia bisa berkumpul lagi dengan seseorang yang sangat dicintainya itu.
Kematiannya pun dengan cara yang ironis, yaitu terkena racun yang terdapat di dalam durian yang pada waktu itu sebagai contoh untuk bisnis dengan relasinya. Lagi-lagi penghianatan terjadi.

Dari kisah bersejarah ini, dapat diambil hikmah sebagai berikut:
1. Ternyata memang penduduk pribumi Indonesia adalah semua pendatang sehingga tidak ada perbedaan dalam hak dan kewajiban. Tan Peng Lian meskipun orang Tionghoa tapi karena rasa cintanya terhadap Indonesia sehingga ia begitu gigih untuk memerdekakan Indonesia. Dan memang sejarahnya pun begitu.

2. Film ini menggambarkan karakter kepemimpinan Indonesia sekarang, bahwa penghianatan dan politik transaksional selalu mewarnai perpolitikan negara kita.

3. Pelacur itu tidak bisa kita pandang sebelah mata, artinya ada sebab-sebab yang harus kita pahami dan yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghargai mereka (pelacur) karena tidak semua pelacur itu hanya karena nafsu, tapi lebih dari itu adalah mereka memperjuangkan hidup mereka karena faktor ekonomi untuk mempertahankan mereka dan keluarganya.

Selasa, 09 Maret 2010

Jangan Salahkan Kami

Oleh: Ibnu Abdillah

Ada sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh manusia pada umumnya yaitu misteri Tuhan yang kian hari kian kompleks bahkan jarang sekali orang yang menyadari itu, bahkan sekarang tidak hampir terkikis wacana-wacana itu.

Kita diharuskan melek social, artinya realitas sosial dalam dinamika kehidupan manusia semakin lama semakin kompleks. Kalau manusia mampu memahami realitas sosial secara penuh, saya kira tidak akan ada ketimpangan-ketimpangan atau ketidak seimbangan antaranya. Namun relitasnya sangatlah jauh dari idealnya dinamika sosial yang harmonis. Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan, ketidak seimbangan, dan anarkisme dengan mengatasnamakan agama, etnis, suku, bahkan politik.

Saya menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai misteri Tuhan yang harus saya imani. Pertama adalah munculnya berbagai agama-agama baru atau kepercayaan-kepercayaan baru yang lain dengan agama dan kepercayaan yang sudah ada sejak 20 abad yang lalu. Setiap agama dan kepercayaan menawarkan surga dan neraka, hampir tidak saya temukan agama dan kepercayaan yang tanpa menyingung kedua hal tersebut. Ini pun menjadi suatu kewajaran bahwa setiap agama pasti menawarkan sesuatu yang manis tentunya dengan menetapkan aturan-aturan yang harus dilalui oleh manusia ketika menginginkan surga. Begitupun sebaliknya, harus adanya konsekuensi pahit ketika manusia tidak sesuai dengan aturan-aturan yang dipakai oleh agama tertentu.

Lalu sebenarnya surga dan neraka itu apa? Sehingga banyak penganut agama mengimpikan surga dan menghindari sebisa mungkin untuk mendapatkan neraka ketika wafat nanti. Dan ini pun yang saya katakan sebagai sumber konflik dalam realitas sosial yang kompleks ini.

Agama Adalah Sumber Konflik, Benarkah?
Tujuan diadakannya agama tak lain adalah agar manusia hidup rukun dan damai serta tertib dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Agama adalah agar menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya sebagai manusia yang seperti digambarkan oleh al-Qur’an bahwa manusia adalah sebagai pemimpin di muka bumi. Agama sangat memanjakan manusia, terbukti dengan adanya kabar baik yang selalu digambarkan oleh kitabnya. Agama pun selalu memperhatikan manusia agar tidak menyipang dalam berjalan.

Tapi kenapa banyak sekali kekerasan dan konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh agama? Kenapa seringkali agama dijadikan alat politik oleh sebagian orang? Yang kemudin pada akhirnya muncul berbagai masalah-masalah sosial. Sungguh misteri yang harus saya pecahkan sekaligus harus saya imani sebagai manusia yang beragama.

Ini yang kemudian menjadi prasangka buruk pada saya muncul serta merta tanpa sadar, yaitu justru dengan adanya agama menjadi saling klaim dan menimbulkan banyak konflik sosial. Ketegangan-ketegangan dalam realitas sosial banyak disebabkan oleh agama. Lalu masih pantaskah agama harus kita imani sampai kapanpun dan apa pun itu? Saya kira agama tidak perlu kita pegang erat-erat sebagai ajaran yang absolut, yang mutlak, dan harus kita junjung tinggi tanpa memikirkan yang lainnya. Kalau demikian, akan sampai kapankah dan akan seperti apakah realitas sosial manakala agama masih dipegang teguh oleh manusia?

Sungguh menjadi dilema yang sangat kontroversial, artinya makin banyak orang-orang yang menganggap agama sebagai pegangan hidup satu-satunya dan absolut, tapi makin banyak pula konflik-konflik ketegangan sosial yang terjadi? Ini lah misteri Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menghukum manusia yang tidak percaya lagi kepada agama lantaran agama menimbulkan banyak konflik dan ketegangan sosial tidak perbah usai. Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah tidur sehingga mampu melihat manusia secara utuh. Manusia secara utuh dalam arti manusia yang menjadi manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang telah tersurat dalam kitab suci agama-agama.

Mungkin pembaca tulisan saya semakin tambah bingung karena persoalan-persoalan yang semakin kompleks dalam hidup kita.

Hanya sebagai catatan bahwa agama harus dipahami sebagai rumah kita yang paling nyaman dan damai. Dan harus dipahami juga bahwa tidak ada ajaran yang mutlak, dan tidak ada hukum yang mutlak karena dengan masih mempercayai bahwa agama itu mutlak, maka manusia itu mendustai agama itu sendiri karena tidak mau beriman. Agama bukan saja bergulat pada ceremonial belaka, bahwa agama lebih dari itu yaitu untuk membimbing manusia untuk selalu memikirkan dan mengimani misteri-misteri itu.

Saya berani katakan bahwa agama itu bohong!!! Kalau di depan saya ada orang yang selalu mengaku benar dan selalu mengklaim orang lain salah bahkan kafir dan tidak berhak hidup. Kenapa? Karena itu yang harus kita bunuh, yaitu paradigma dalam memahami agama itu sendiri. Sampai pada akhirnya adalah kembali saya katakan bahwa agama mempunyai pesan sosial yang jarang sekali dijumpai dan disadari oleh manusia.

Berbicara dengan lantang tentang konsep ketuhanan untuk menyalahkan keyakinan orang lain adalah sesuatu yang sangat buruk. Kita boleh saja berdakwah, namun dengan cara-cara yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip sosial dan kemanusiaan. Wacana tentang ketuhanan mestinya harus menjadi kebijakan personal tanpa mempengaruhi orang lain bahkan memaksa orang lain. Jangan jadikan agama sebagai alat untuk berkuasa, menguasai manusia lain, entah itu dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik, karena dengan demikian tidak akan selesai sampai kapanpun bahkan prediksi saya kalau wacana agama terus dikumandangkan dibarengi dengan rasa ingin berkuasa, maka kiamat akan semakin dekat!!!

Tidak ada kata harus dan mutlak, keadaan mampu menjadi misteri sewaktu-waktu dalam kondisi apa pun. Realitas sosial yang semakin kompleks, membutuhkan manusia-manusia yang mampu menebar pesan-pesan yang paling hakiki dari ajaran agama. Karena semakin banyak orang yang memakan orang, memakan teman, memakan saudara sendiri, bahkan memakan orang tuanya sendiri. Artinya ketika kepentingan-kepentingan untuk selalu menguasai semakin banyak, maka agama akan menjadi ceremonial belaka yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Harus ada penyeimbang untuk menebar kebijaksanaan dan kedamaian atas dasar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Jangan salahkan kami. Itu adalah salah satu dari rintihan hati dari seseorang yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan yang barangkali sering kita jumpai, yaitu berbedanya jenis kelamin dengan kelakuan bahkan jiwa seseorang. Misalnya, waria, lesby, dan gay. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan yang sangat kejam oleh sejumlah orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan mereka dengan mengatasnamakan agama atau yang lainnya. Mereka dipukuli dan dicemoohi oleh orang-orang yang saya pikir tidak mempunyai hati.
Mungkin ini juga sering kita sadari bahwa kita terkadang menganggap jijik orang-orang yang berbeda itu. Mereka tidak beres, mereka menyalahi kodrat, maka dari itu wajib untuk dibunuh, barangkali kita pernah memiliki stigma-stigma itu.

Apakah mereka bukan manusia hanya karena perbedaan dalam keumuman orang? Sangat tidak rasional sekali. Karena manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama, sama-sama suci dan polos. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka bisa begitu? Apakah kita langsung mempunyai stigma-stigma negatif ketika melihat sosok mereka yang berbeda? Kemudian dari tigma-stigma yang terbangun itu menyebabkan kita menjauhi mereka bahkan mempunyai niat untuk menyingkirkan mereka dari muka bumi karena tidak pantas untuk bernafas di muka bumi ini? Kalau demikian adanya, maka kita tidak jauh dari seekor binatang yang hanya bisa makan dan minum serta mengikuti hawa nafsunya tanpa berpikir dan merenung.

Harus kita sadari bahwa ini adalah juga salah satu misteri Tuhan yang kemudian harus kita imani. Lalu bagaimana cara mengimaninya? Caranya yaitu dengan menyadari bahwa mereka adalah manusia. Kemudian harus kita lihat dengan jeli apa yang melatar belakanginya sehingga begitu. Dengan demikian, saya yakin stigma-stigma negatif yang terbangun ketika baru menjumpai orang-orang yang berbeda itu akan runtuh. Karena justru kitalah yang harus mengaca diri bahwa baik-buruk, bagus-jelek itu semata-mata hanya karena keadaan. Yang harus kita hadapi adalah bagaimana menciptakan keadaan yang membuat manusia itu mersa yakin akan kemanusiaannya, bukan malah membuat keadaan yang secara tidak sadar akan kehilangan rasa kemanusiaan kita.

Jangan salahkan kami. Itu pun selalu dirintih oleh penganut agama yang memang terdiskriminasi oleh kelompok mayoritas agama tertentu. Tekanan, ancaman, bahkan tindakan anarkis seringkali dialami oleh mereka yang minoritas. Saya semakin heran, apakah agama itu hubungan sekelompok manusia dengan Tuhan? Apakah agama itu hubungan suatu negara dengan Tuhan? Jawabannya Tidak.

Agama adalah hubungan spiritual dengan Tuhan atau dengan apa yang menjadi keyakinan mereka. Sama sekali manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya karena itu adalah hal yang sangat tidak nyata. Hanya ada beberapa kriteria orang baik, yaitu mampu menjadi manfaat untuk kemaslahatan manusia. Seperti yang telah dikemukakan oleh Nabi bahwa orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi umat manusia.

Maka jangan pernah menyalahkan mereka (orang-orang yang berbeda) karena pada dasarnya manusia menginginkan hidup damai, tapi karena sesuatu hal sehingga melakukan hal-hal itu.
Kemudian sebenarnya persoalan agama harus kita sadari sepenuhnya bahwa ajaran yang terdapat dalam teks-teks itu adalah suatu bentuk ekspresi kebudayaan pada suatu daerah tertentu. Jadi pada intinya kita tidak bisa serta merta tekstual dalam menerjemahkan teks-teks itu, yang penting tidak menghilangkan pesan-pesan moral dalam agama itu sendiri. Keadilan sosial adalah suatu bentuk keberimanan dari setiap penganut agama untuk diperjuangkan. Bukan malah saling klaim untuk membenarkan diri sendiri. Keyakinan terhadap Tuhan adalah persoalan personal karena setiap orang mempunyai persepsi dan konsep yang berbeda-beda tentang Tuhan bebserta ajarannya. Masih banyak persoalan-persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih utama untuk diprioritaskan. Mau sampai kapan kita bergulat dalam persoalan-persoalan agama yang sesungguhnya itu adalah persoalan yang bisa dikatakan tidak kelihatan karena berbicaranya tentang ketuhanan.

Jangan salahkan kami ketika mempunyai keyakinan yang berbeda, jangan salahkan kami ketika mempunyai perbedaan dari keumuman orang, karena sesungguhnya kami adalah manusia yang berhak untuk berekspresi dan kami juga tahu harus mengapresiasi, selagi masih dalam batas-batas kewajaran. Itu adalah kata-kata yang selalu terlontar dari mulut orang-orang yang selalu mendapatkan tekanan dari oknum-oknum tertentu hanya karena perbedaan. Harusnya kita sadari sepenuhnya bahwa pesan-pesan moral dalam keberagamaan adalah kebaikan untuk kemaslahatan umat. Selagi mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan bahkan mereka malah mampu memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat manusia, terus apa yang menjadi persoalan. Tidak ada yang harus kita persoalkan. Yang harus kita persoalkan adalah bagaimana caranya menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bersama.