Oleh : Ibnu Abdillah
Abu Nuwas adalah seseorang yang diangap zindiq oleh banyak orang pada masanya. Karena ia selalu bertindak berbeda dengan keumuman orang. Pada saat orang-orang sedang taat beribadah, ia malah tidak mau shalat sama sekali, disaat orang-orang sedang kuat-kuatnya mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ia malah minum-minuman khamr¬ yang dianggap memabukkan oleh kebanayakan orang pada waktu itu. Pernah sesekali ia sehabis minum khamr, ia ikut shalat berjama’ah bersama sahabat-sahabatnya dan memang pada saat itu warga sedang rajin-rajinnya beribadah sehingga banyak jama’ah pada waktu itu, tapi apa yang dilakukan olehnya adalah, ketika imam membacakan ayat pertama pada surat al-Kafirun, ia menjawab denagn entengnya ”labbaik”. Dan keanehannya bukan hanya sebatas itu, ia bukan hanya suka terhadap perempuan akan tetapi ia juga suka terhadap laki-laki, ini yang kemudian menjadikan orang tidak habis pikir.
Abu Nuwas adalah sosok yang amat kontroversial pada zamannya, ternbukti dengan seringnya ia dipanggil oleh pejabat-pejabat pada waktu itu yang gerah atas tingkah lakunya yang kadang mampu membuat semua orang geger. Sebenarnya siapakah Abu Nuwas itu? Apakah ia adalah salah satu misteri juga yang kemudian melahirkan orang-misterius pada zaman sekarang, Gus Dur misalnya. Dengan gaya lawaknya sepertinya hampir sama dengan Abu Nuwas yang juga sama-sama tokoh yang kontroversial. Saya akan mencoba menguraikan secara sederhana tentang Abu Nuwas.
Abu Nuwas adalah seorang yang kontroversial. Sebagai seorang muslim, ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang secara syar’i dilarang, meremehkan haji dan waktu shalat. Ia menyukai minum khamr sehingga terkenal sebagai penyair khamr. Dalam hal ini, tampaknya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri, terutama untuk menunjukkan eksistensial keturunan (nasab) keluarga.
Khamr bagi Abu Nuwas, dijadikan kompensasi kekecewaan perasaan atau ketika merasa kosong jiwanya dan untuk menghindarkan diri dari kesibukan yang harus diselesaikannya. Khamr merupakan segala-galanya dalam kehidupan Abu Nuwas, karena khamr mampu menghantarkannya ke dalam suasana ekstase ke alam bayangan yang indah. Bahkan, khamr menjadi tujuan pertama hidup dan lebih dari menjalankan perintah agama seperti yang telah tersirat dalam kitab Diwan Abi Nuwas.
Bagaimana bisa Abu Nuwas dicap sebagai zindiq? Abu Nuwas hidup dalam percaturan kompleks tersebut. Ia hidup pada zaman di mana pergolakan pemikiran dan pendapat yang muncul dari berbagai kelompok sedang berkecamuk. Abu Nuwas menahan diri dari kehidupan yang hanya mendatangkan pengalaman materil dan pengetahuan inderawi yang fana. Sebaliknya, ia mngusahakan diri untuk meraih kehidupan yang lebih kekal.
Lisannya tidak henti-hentinya menentang agama, sementara batinnya mempunyai keyakinan kuat untuk menuntun perilakunya di satu sisi, dan membangkitkan kemarahan orang lain di sisi yang lain. Tidak jarang, Abu Nuwas mendapat teguran, peringatan, bahkan hukuman karena seringkali menegejek khalifah, dan tanpa malu-malu, meminum khamr.
Ada apa dibalik ke-zindikannya? Zindik-nya Abu Nuwas, sebagaimana yang lainnya, dipicu oleh gerakan nasionalismenya yang menentang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas non-muslim dan non-Arab. Gerakan ini dimunculkan dengan melihat negara atau pemerintah bukan milik orang Arab saja, melainkan milik seluruh masyarakat muslim. Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan dengan orang non-Arab, atau sebaliknya. Gerakan ini bahkan mendapat angin segar manakala revolusi dilancarkan oleh, semisal Ibn Zubair, kaum Khawarij, Syi’ah, Asy’ad dan Yazid bin Muhlab.
Dengan rasa nasionalismenya yang tinggi, ia menjadi banyak dikagumi oleh kelompok-kelompok minoritas karena hanya ia yang memperjuangkan dengan konsisten terhadap kelompok minoritas. Jiwa multikulturalnya sangat tepat dimana ia tinggal dalam suatu negara yang multikultur, negara yang kaya akan keragaman, seperti halnya negara kita, Indonesia. Makanya kenapa ia dikatakan sebagai generasi pertama yang menebarkan jantung pluralisme, generasi keduanya adalah Gus Dur.
Jadi, zindik-nya Abu Nuwas tidak mengarah pada persoalan teologis melainkan hanya tertawaannya terhadap agama. Ia tidaklah kafir, tetapi hanya bersikap kritis dan elegan terhadap agama. Syauqi Dhaif mencatat bahwa segala pertentangannya terhadap agama merupakan wujud dari krisis pribadinya menghadapi problem kejiwaannya, pluralitas agama dan masyarakat pada masanya yang materialistis. Zindiq-nya, demikian, ekspresif (hanya di lisan) tidak sampai ke dalam batin atau keyakinan di hati. Ia bukanlah seorang zindiq melainkan pelawak saja.
Tuhan dan Abu Nuwas Tuhan bagi Abu Nuwas merupakan pengetahuan dan pengalaman. Mencegah yang haram dan melakukan yang halal, menurutnya adalah berbuat dosa. Hal ini karena mencegah apa yang diharamkan oleh Tuhan, berarti menolak yang halal dari-Nya itu sendiri, yaitu keluar dari hukum Tuhan.
Penolakan ini menjadikan manusia setara di hadapan Tuhan, sehingga ia tidak lagi tunduk pada syari’at karena ia adalah sumber syari’at itu sendiri. Dengan begitu hilanglah larangan-larangan dan muncullah kebebasan bagi manusia. Manusia ketika menafikan yang haram menjadi sama dengan Tuhan, karena di antara dirinya dan apa yang dinafikan tersebut terdapat hubungan (ketergantungan), di mana yang ternafikan menjadi pengikut dan penafi (orang yang menafikan) menjadi ang diikuti.
Bisa dipahami bahwa Abu Nuwas adalah seorang yang amat sangat kritis dalam berpikir. Tidak heran banyak orang yang mengagumi kekritisannya dan banyak pula orang yang jengkel dengan gaya lawaknya yang kadang-kadang membuat orang jengkel. Ia menyatakan bahwa manusia mampu membuat syari’at sendiri tanpa mempertimbangkan hukum Tuhan, karena pada dasarnya menghindari larangan Tuhan berarti menghindari pula apa yang halal dari Tuhan. Mengharamkan sesuatu berarti sama saja dengan kelakuan Tuhan. Oleh karena itu seringkali ia minum khamr dengan tanpa ragu karena ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat bermanfaat dari khamr baginya yaitu dapat menghilangkan rasa bimbang dan ia yakin bahwa dengan minum khamr ia berani bebas, bebas dalam hal berpikir, bertindak dan mengkritik.
Ini yang sangat menarik dari dirinya yaitu walaupun ia pelawak dan suka slengean tapi daya kritisnya sangat radikal. Tidak heran banyak orang yang dipusingkan dengan kelakuan dan gaya berpikirnya, sampai-sampai pernah disidang pun ia tetap lolos karena pandainya ngeles. Tidak jauh berbeda dengan sosok seorang Gus Dur yang amat pandai tapi suka ngelawak. Kemudian persamaannya lagi adalah ada pada semangat kedua-duanya dalam menyebarkan pemikiran multikultural. Maka dari itu Gus Dur belakangan disebut sebagai bapak demokrasi dan bapak multikultural.
Ketika Abu Nuwas manyatakan bahwa bagiku agamaku dan bagi orang lain agama mereka, tidak saja telah terjadi primordialisme pemahaman umum tentang agama, akan tetapi juga primordialisme pemahaman umum tentang Tuhan. Hanya saja, kesamaan manusia dengan Tuhan menuntun untuk menghilangkan atau membunuh-Nya.
Persamaan ini termasuk juga penolakan alam sebagaimana adanya, atau sebagaimana yang diciptakan oleh Tuhan. Penolakan model ini berhenti pada batas-batas kehancurannya, tidak sampai pada munculnya rekonstruksi pada dirinya. Dari sini, membangun dunia baru menuntut untuk dilakukan pembunuhan terhadap Tuhan dengan berdasarkan pada dunia atau hal-hal lama. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa naik hingga ke tingkat Tuhan kecuali dengan menghancurkan alam yang kekal, membunuh Tuhan dengan menggunakan prinsip-prinsip alam ini. Tuhanlah yang mempersilahkan manusia untuk menciptakan alam baru. Hal ini karena manusia tidak mampu menciptakan kecuali dengan kekuasaannya yang sempurna, dan kekuasaan ini tidak ada kecuali apabila realitas yang dominan, yaitu Tuhan itu dibunuh.
Dengan ini, artinya bisa dipahami soal pendapat umum yang menyatakan bahwa berpikir tentang Tuhan itu adalah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Karena dengan menciptakan pemikiran ini, telah sah untuk dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada Tuhan yang diri-Nya merupakan segala-galanya.
Substansi dari apa yang dikemukakan oleh Abu Nuwas adalah perlunya kebebasan dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragama. Pemikiran ini berangkat dari pengalaman historis yang dialaminya, dimana masyarakat ’Abbasiyah harus menganut agama Islam yang berideologikan sunni. Padahal, realitas masyarakatnya adalah sangat plural, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang etnis dan agama, Arab dan non-Arab, Yahudi, Nashrani, Zoroaster, Hindu, Budha dan lain-lain.
Ini sangat sesuai sekali dengan realitas di negara kita. Oleh karena itu saya sepakat bahwa Pancasila adalah asas yang paling tepat, karena terdapat sistem yang mampu mengakomodir hak-hak dari masing-masing pemeluk agama dan aliran. Banyak sekali hambatan untuk memperjuangkan Pancasila itu untuk menebarkan virus-virus multikultural dan nasionalisme agar masyarakat mampu mengapresiasi segala bentuk ekspresi yang jelas bukan untuk merugikan orang lain, akan tetapi tetap sama-sama menjaga hubungan sosial agar terciptanya kedamaian dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Karena belakangan ini banyak isu-isu yang menyatakan bahwa negara Indonesia harus menegakkan syari’at Islam agar lebih baik.
Oke syari’at Islam, akan tetapi harus dipahami seutuhnya bahwa dalam pengambilan hukum itu harus dissuaikan dengan realitas sosial yang ada, karena para ulama fiqh terdahulu pun dalam mengambil hukum itu berdasarkan konteks yang ada pada masanya. Yang terjadi di Indonesia, masih banyak orang-orang memperjuangkan penegakan syari’at Islam akan tetapi mereka belum bisa menyesuaikan dalam realitasnya. Mereka masih merujuk pada hukum Islam secara tekstual yang tertera dalam al-Quran dan Hadits.
Al-Quran dan Hadits adalah sebuah ekspresi budaya Arab pada waktu itu, jadi kalau kita tidak mampu untuk membaca realitas sosial di sekeliling kita, jangan harap hukum Islam yang diterapkan akan sesuai dan berjalan dengan lancar. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam penerapan hukum-hukum itu.
Begitu Abu Nuwas dituduh zindiq karena banyak melecehkan Tuhan, mempelajari ilmu perdukunan, dan ilmu-ilmu kuno dari India dan Roma, serta hilang kepercayaan dan menembus batas-batas agama, ia justru gencar mempelajarinya. Disaat orang mengharamkan filsafat karena mengarah pada kekufuran, ia justru menghalalkannya sehingga ia menjalani kehidupan zindiq karena berfilsafat.
Demikianlah sepak terjang Abu Nuwas dalam perjalanan menuju hakikat hidup dan dalam memahami agama. Banyak hal yang saya pelajari darinya bahwa agama bukanlah urusan manusia dan agama adalah sebuah misteri yang harus disadari bersama. Tak ada yang mampu untuk mengukur seberapa jauh hubungan spiritual manusia dengan Tuhan hanya dengan ukuran syari’at, melainkan dengan bagaimana hubungan manusia itu dengan manusia lain. Bukankah orang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Itu adalah hakikat yang sebenarnya bahwa Abu Nuwas secara syari’at ia mungkin bisa dibilang ngawur akan tetapi ia adalah pembawa pesan moral Islam yang amat hakiki. Agama bukan hanya kegiatan ceremonial belaka, melainkan harus teraktualisasikan kepada kehidupan sosial dalam masyarakat.
Dengan cerdiknya, ia mampu menyadarkan manusia bahwa agama tidak untuk dijadikan alat politik, bahkan alat untuk menindas. Itu sangat menyimpang dengan ajaran agama yang hakiki. Agama sangat menganjurkan manusia agar selalu berkembang dan maju, kalau justru malah sebaliknya, yaitu agama malah dijadikan alat untuk menjumudkan orang, sungguh pemahaman yang amat tolol.
Ini salah itu benar, ini halal itu haram, ia iman—ia kafir, itu sangatlah perilaku yang sangat tidak dianjurkan oleh agama. Tidak ada hukum Tuhan, melainkan ajaran Tuhan tentang bagaimana hidup dengan rukun dan damai serta dinamis. Jangan mengklaim sesuatu kalau kita belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Menghargai dan dihargai adalah prinsip-prinsip agama yang sangat relevan untuk zaman dan masa apa pun. Karena dengan kita selalu mencoba memahami realitas yang terjadi, maka akan terwujud suatu pola pikir yang tidak jumud. Kritis adalah kunci dari awal sebuah jiwa yang multikultur, moderat, dan toleran.