Minggu, 03 Oktober 2010

MAHASISWA VS SIAPA?

Oleh : Ibnu Abdillah

Dunia memang akan selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan social dan budaya. Perubahan sosial berarti masyarakat Indonesia sekarang bisa dibilang sedang dalam posisi yang serba bingung; bingung memilih pekerjaan, bingung memilih jalan hidup, bahkan bingung menentukan salah dan benar. Ini terbukti dengan banyaknya pengangguran, perkelahian, bentrok antar kelompok, dan sebagainya. Kemudian perkembangan budaya yang dipengaruhi oleh budaya luar, yang sangat bergantung pada teknologi, yang juga saya pribadi terjebak ke dalamnya, sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter masyarakat. Misalnya saja, televisi yang hampir seluruh kelas masyarakat mampu mengaksesnya, itu sangat berpengaruh besar. Banyaknya tayangan-tayangan yang menggambarkan kehidupan yang mewah dan santai, penuh romantik percintaan, bahkan jarang sekali masyarakat yang mampu menyaring itu.

Sekarang berbicara tentang mahasiswa khususnya mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Rupanya kata ”perjuangan” dan ”perlawanan” yang dijadikan motto oleh mahasiswa pada tahun 1960-2000-an sudah berbeda orientasinya. Kalau mahasiswa dulu, objeknya adalah para penguasa yang lalai menjalankan tugas-tugasnya, seperti Soeharto yang pada tahun 1998 berhasil digulingkan oleh persatuan mahasiswa dari berbagai kampus. Sementara mahasiswa sekarang, objek ”perjuangan” dan ”perlawanan” nya pun sudah mengarah kepada hal-hal yang lebih konkrit untuk dirinya masing-masing. Fakta menunjukkan bahwa dalam waktu belakangan ini sejumlah organisasi kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus, sudah mengalami penurunan. Penurunan dalam hal penguasaan wacana dan gerakan. Karena kabanyakan hanya berkutat pada persoalan internal organisasi masing-masing.

Tetapi kadang-kadang juga mahasiswa malah terjebak pada persoalan antar organisasi kemahasiswaan yang lain, sehingga tidak ada kontribusi yang riil untuk masyarakat. Paling tidak merubah sistem yang akan menyengsarakan rakyat seperti kapitalisme pendidikan misalnya. Kapitalisme pendidikan yang beberapa waktu lalu pernah saya tulis dalam tulisan yang sederhana, tapi mungkin belum banyak dibaca orang lain selain teman-teman dekat saya.

Kemudian selain organisasi kemahasiswaan, mahasiswa khususnya di kampus saya sendiri IAIN Syekh Nurjati Cirebon juga sekarang sudah terjebak dalam pengaruh-pengaruh media (TV). Saya menemukan beberapa fakta menarik tentang hal ini. Pertama, mahasiswa sekarang sudah tidak mempunyai gairah untuk secara serius memperkaya khasanah intelektual, terbukti dengan kejadian meng-copy-paste makalah-makalah yang ada di internet untuk tugas-tugas perkuliahan. Seharusnya paling tidak bahan-bahan materi yang didapatkan dari intrnet hanya dijadikan sebagai referensi yang kemudian kita susun kembali dengan inovasi pemikiran kita. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa sekarang menganggap pendidikan hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan legitimasi dan untuk kesejahteraannya. Budaya membaca buku, diskusi, dan menulis sudah tersingkirkan sehingga tidak heran jika banyak lulusan perguruan tinggi yang bingung akan tujuan hidupnya.

Kedua, memang banyak mahasiswa yang ikut terdaftar ke dalam organisasi kemahasiswaan, tapi ternyata sangat sedikit sekali yang sadar dan prihatin terhadap fenomena degradasi ini. Sehingga ini berdampak pada stagnan-nya organisasi kemahasiswaan. Tujuan organisasi kemahasiswaan yang seharusnya mampu membawa mahasiswa kepada perubahan yang progress dan dinamis, tapi gaungnya pun tak terdengar sama sekali.

Memang kalau ditinjau dari segi kronologis peradaban manusia, grafiknya selalu naik turun. Artinya peradaban manusia tidak semata-mata dari zaman dahulu hingga sekarang grafiknya selalu naik. Misalnya pada zaman Rasulullah Muhammad saw. peradaban manusia jauh meningkat dari pada sebelumnya. Tapi kemudian setelah wafatnya Rasulullah seringkali mengalami penurunan, misalnya bisa kita telaah dengan adanya kejadian perpecahan umat Islam hanya karena kepentingan politik. Sehingga bisa jadi masa mahasiswa sekarang sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Dan kemungkinan akan bangkit kembali di suatu saat nanti.

Lalu yang menjadi polemik adalah; mahasiswa sekarang vs siapa? Kalau tahun-tahun lalu sangat jelas sekali mahasiswa menjadi kelompok yang ditakuti oleh pemerintah/penguasa karena analisis kritis dan keberanian mengkritik mahasiswa terhadap pemerintah sangat kuat. Contoh yang tak akan hilang dari memori sejarah perjuangan mahasiswa adalah pada tahun 1998, yaitu pada saat kepemimpinan Soeharto yang dinilai hanya menyengsarakan rakyat. Penggulingan Soeharto pun tidak sia-sia walaupun harus ada korban yang berjatuhan dari kelompok mahasiswa.

Mahasiswa yang menjadi basis perlawanan terhadap kaum kapitalis dan kaum penguasa yang dzalim sangat has sekali pada waktu itu. Kekompakan dan kebersamaan mahasiswa sangat kuat sehingga tidak mudah dipatahkan oleh penguasa sehebat apa pun. Idealisme mahasiswa yang sangat mahal adalah cerminan konsistensi perjuangan mahasiswa pada waktu itu.

Namun sekarang yang terjadi adalah mahasiswa vs siapa? Tanda tanya besar yang sampai hari ini belum diketemukan. Apakah mahasiswa vs kebodohan? Jawabannya juga tidak bisa di”iya” kan atau di”tidak” kan. Karena esensi dari pemberantasan kebodohan pun sudah digilas oleh hal-hal yang sangat formalis. Kenapa demikian? Karena ada jaminan yang lumayan menjanjikan bagi mahasiswa yang lulus dengan nilai baik dan cepat. Untuk mendapatkan nilai yang baik dan dengan cepat adalah harus selalu mengumpulkan tugas dan hadir di kelas walaupun dosen tidak terlalu bergairah untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa, asalkan mengumpulkan tugas berarti selesai dengan nilai yang baik. Kemudian kehadiran pun di kelas hanya menjadi kegiatan formal peng-absen-an belaka tanpa ada semangat yang kuat untuk benar-benar menggali khasanah keilmuan pada bidangnya masing-masing.

Mahasiswa vs penindas rakyat? Bisa kita pantau bersama bahwa sampai hari ini belum ada aktivitas mahasiswa yang menunjukkan semangat untuk melawan para penindas rakyat. Tidak ada lagi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan mengatasnamakan rakyat. Semuanya hanya mengatasnamakan golongan masing-masing. Ketika sebagian golongan mahasiswa sedang ada yang dikekuasaan, maka dirong-rong oleh golongan mahasiswa yang lain dengan mengatasnamakan idealisme dan kepentingan bersama, tapi ternyata hanya kepentingan golongan. Ini hanyalah contoh kecil tapi sudah membuktikan dengan jelas akan kebingungan perjuangan mahasiswa.
Jadi jawaban atas musuh mahasiswa sampai hari ini belum lah jelas. Terkadang mahasiswa menjadi musuh penguasa, tapi terkadang mahasiswa pun malah berusaha mempertahankan kekuasaan demi kelompoknya masing-masing. Terkadang mahasiswa menjadi musuh kebodohan, tapi terkadang mahasiswa juga malah memperjuangkan dan mempertahankan kebodohan. Terkadang mahasiswa menjadi garda depan untuk membela yang benar, tapi juga seringkali mahasiswa menjadi garda depan untuk mempertahankan kesalahan demi kepentingan pribadi atau golongan.

Memang tidak bisa dipukul rata, bahwa ini hanyalah fenomena yang muncul dipermukaan yang mungkin hanya sebagian mahasiswa. Artinya ada juga mahasiswa yang mungkin masih konsisten dengan perjuangannya, entah perjuangan intelektual maupun perjuangan menumpas ketidak adilan. Tapi mungkin masa-masa sekarang sudah terlalu anjlog penurunannya. Kita bisa ukur perbandingan antara mahasiswa yang aktif dan kreatif dengan mahasiswa yang terjebak dalam kehidupan hedonis. Sangat lah jauh selisihnya. Lihat saja aktivitas mahasiswa yang kebanyakan hanya berpacaran dan berdandan ria. Saya tidak mengatakan itu salah, tapi ternyata style mereka sangat tidak seimbang dengan kapasitas yang mereka miliki.
Budaya kemandirian dan kekreatifan mahasiswa terkadang kalah dengan masyarakat ’awam yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD. Bisa kita lihat sekarang sudah banyak masyarakat yang kreatif dengan memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.
Diskusi dan menulis sudah banyak yang ditinggalkan oleh mahasiswa. Akibatnya degradasi intelektual menjadi awal mula degradasi moral. Dengan tidak adanya aktivitas yang rutin untuk diskusi, menulis dan membaca mengakibatkan mahasiswa melakukan aktivitas yang imoral. Akibat dari pengaruh teknologi informasi dan budaya yang kurang baik.

Ini adalah auto kritik saya terhadap mahasiswa (termasuk saya) yang dengan harapan bahwa akan ada sebuah peningkatan peradaban mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari yang serba kurang ini menjadi sedikit lebih meningkat. Paling tidak, kegelisahan saya selama ini sedikit demi sedikit bisa hilang dengan cara menuangkan ke dalam tulisan-tulisan kecil ini. Harapan ideal saya tentu terciptanya budaya mahasiswa yang kritis, rajin membaca, berdiskusi, dan menulis, karena hanya dengan begitulah mahasiswa mampu membawa perubahan yang lebih baik. Matinya budaya tersebut semata-mata adalah karena kurangnya keprihatinan mahasiswa. Artinya mahasiswa tidak mampu menyaring hal-hal baru (negativ) yang masuk dalam kehidupannya sehingga hilanglah keprihatinannya. Keprihatinan terhadap nasibnya nanti, keprihatinan terhadap lingkungan sekitar dan lain sebagainya.

Saya kira perubahan itu bisa datang semudah membalikkan telapak tangan sepanjang semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa kuat. Tapi sebaliknya, perubahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan manakala tangannya sedang sakit. Artinya ketika semangat dan konsistensi perjuangan mahasiswa sudah tersakiti maka jangan harap perubahan akan segera datang. Dalam Islam pun sangat jelas diterangkan lewat al-Qur’an bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau merubahnya. Jadi, pada dasarnya apa yang kita lakukan (baik atau buruk) maka akan berdampak pada diri kita sendiri.

*) Penulis : Mahasiswa Jurusan PAI semester V
Aktif Juga Menulis di Buletin SEPI (Secangkir Kopi)
IAIN Syekh Nurjati Cirebon